Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Menjadi Sarjana BK Dianggap Punya Masa Depan? Nyatanya Masih Bingung Menentukan Arah, Bahkan Susah jadi Dosen

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
19 Agustus 2026
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di mata orang lain, jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) itu terlihat seperti jalan yang lurus menuju karir menjadi guru BK. Namun, bagi sebagian sarjana BK, jalan itu ternyata memiliki banyak persimpangan dan jarang diketahui oleh orang. 

Menjadi lulusan jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tentu adalah hal yang melegakan juga membanggakan. Bagi sebagian orang, menjadi sarjana BK adalah satu tiket pasti akan menjadi guru BK di sekolah, konselor pendidikan, bahkan menjadi dosen.

Iklan

Namun tidak bagi Imel (23) yang baru beberapa bulan kemarin menuntaskan studinya. 

Karena setelah lulus dan resmi menyandang gelar sarjana, Imel masih harus dihadapkan dengan persimpangan. Ia harus memilih melanjutkan studi S2 karena cita-citanya menjadi dosen, atau lanjut PPG karena jalur tersebut seperti shortcut menjadi guru Bimbingan dan Konseling. 

Tidak lolos psikologi, bersyukur menjadi sarjana BK

Kebimbangan akan menentukan jalan setelah lulus tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak awal mendaftar kuliah, ia sudah memiliki bayangan tentang jalan mana yang akan ia tempuh setelah menjadi sarjana.

Psikologi menjadi pilihan pertamanya. Namun, karena belum berhasil lolos jurusan tersebut, ia kemudian memilih Bimbingan dan Konseling.

Baginya, kedua bidang itu memiliki irisan yang sama. Bagi Imel menjadi seorang yang bisa membantu orang banyak adalah hal yang ia idam-idamkan.

Pilihan tersebut juga tidak mendapat banyak pertentangan dari keluarga dan terkesan memang mendorong agar Imel menempuh pendidikan tersebut dengan senang. 

“Orang tua juga nggak terlalu memaksakan karena yang menjalani kuliah kan saya sendiri,” ujar sarjana BK tersebut.

Di mata keluarga dan tetangganya, sarjana BK terlihat seperti jalan mulus dan memiliki jalur yang cukup jelas. Juga pekerjaan sebagai guru BK relatif mudah ditemukan. Anggapan tersebut masuk akal jika melihat profesi yang selama ini lekat dengan lulusan BK.

Dunia setelah lulus kuliah tidak semudah itu

Namun, dunia setelah wisuda ternyata tidak sesederhana anggapan dari keluarga dan Imel sendiri. Imel justru menemukan dirinya berada di persimpangan ketika toga sudah dilepaskan.

Ia harus mempertimbangkan arahnya setelah menjadi sarjana BK, lanjut jalur Pendidikan Profesi Guru (PPG) atau meneruskan studi ke S2. 

Semakin jauh berjalan ia semakin menemukan banyak kenyataan. Keinginannya menjadi dosen membuatnya berhadapan dengan kenyataan bahwa jalur akademik tidak berhenti pada gelar Magister.

Ada kemungkinan ia harus melanjutkan hingga doktoral. Atau justru menjadi guru BK melalui jalur PPG adalah jalan yang lebih sesuai dengan dirinya?

“Kalau dibilang sekarang sudah menemukan titik terang, sebenarnya saya masih dalam proses mencari juga,” kata sarjana BK UAD tersebut. 

Ternyata, kebingungan setelah wisuda kadang bukan karena seseorang tidak memiliki tujuan. Kadang, juga karena seseorang sudah memiliki beberapa pilihan, tetapi belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk memilih salah satunya.

Bagi Imel, menjalani pendidikan setelah menjadi sarjana BK setidaknya membuat pilihan-pilihan tersebut menjadi lebih terlihat. Ia mulai memahami konsekuensi dari masing-masing jalan, termasuk kemungkinan melanjutkan pendidikan hingga S3 atau kembali mempertimbangkan jalur pendidikan melalui PPG. 

Barangkali begitulah wajah asli dari mereka yang menjadi sarjana BK, semakin banyak pilihan yang mereka ketahui, semakin sadar pula bahwa memilih satu jalan berarti meninggalkan jalan lainnya.

Iklan

Dan bagi Imel, setelah menjadi sarjana BK ia merasa jalannya belum selesai begitu saja. Ia masih ada di persimpangan antara S2 atau PPG.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Agustus 2026 oleh

Tags: guru BKlulusan BKPPGs2sarjanasarjana BK
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Artikel Terkait

Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.