Revanno Adrian P, siswa keturunan Tionghoa beragama Katolik itu lulus dari SMK Muhammadiyah Pekalongan pada Selasa (12/5/2026). Ia juga berhasil menjadi lulusan terbaik kedua di jurusannya, yakni jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor.
Sebagai kelompok minoritas di Indonesia, Revanno sadar akan ada persepsi nyeleneh di sekitarnya jika ia belajar di sekolah berbasis Islam tersebut. Namun, keinginan Revanno untuk ahli di bidang teknik ternyata lebih besar dari keraguannya sendiri.
Tak pernah alami diskriminasi di Muhammadiyah
Menurut Revanno, SMK Muhammadiyah Pekalongan memiliki kualitas pembelajaran otomotif yang baik di daerahnya, apalagi minatnya besar di bidang teknik sepeda motor.
“Di Pekalongan kan ada dua (Jurusan Teknik Sepeda Motor yang tersedia), yakni SMK Dwija Praja dan SMK Muhammadiyah Pekalongan. Yang bagus di SMK Muhammadiyah, (makanya) saya pilih di sini,” ujar Revanno dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Senin (18/5/2026).
Lebih dari itu, kekhawatiran Revanno pun luruh setelah ia diterima dan menjalani pembelajaran di SMK Muhammadiyah Pekalongan. Revanno mengaku tak pernah mengalami diskriminasi atau perlakuan berbeda, baik dari guru maupun teman-temannya, hanya karena perbedaan agama.
Justru, ia dapat hak pendidikan agama sesuai keyakinannya. Pihak sekolah bahkan menyediakan guru agama Katolik untuk mendampingi proses pembelajaran Revanno.

“Selama di sekolah tidak ada diskriminasi apapun, paling teman bercanda dan masih normal. Teman dan guru-guru, semuanya baik,” ucapnya.
Keraguan melebihi keinginan
Mendengar kisah anaknya, sang ibu, Silvia mengaku lega. Bagaimana tidak, ia tak bisa menentang keinginan anaknya untuk sekolah di SMK Muhammadiyah Pekalongan. Sudah beberapa kali Silvia menanyakan hal itu ke Revanno dan hasilnya tetap sama: ingin sekolah di sana.
“Saya tanya ke anak saya, bagaimana, kamu bersedia tidak, karena kita ada di lingkungan muslim. Dia jawab tidak apa-apa,” kata Silvia.
Silvia akhirnya menanyakan lebih detail soal pembelajaran di sana kepada pihak sekolah. Alih-alih dipandang sinis, pihak sekolah justru terbuka memberikan informasi soal prospek kerja, bahkan mereka menyambut baik kedatangan Revanno.
Pelajaran agama, kata mereka, bisa disesuaikan. Setelah mendengar penjelasan tersebut, Silvia akhirnya mantap menyekolahkan anaknya di sana.
“Saya percayakan ke SMK Muhammadiyah Pekalongan, karena keinginan anak sendiri. Anak saya itu lebih suka praktik, penginnya otomotif, jurusannya teknik sepeda motor,” tegas Silvia.
Lulus SMK dapat beasiswa magang ke Jepang
Menurut pengakuan anaknya, selama 3 tahun menempuh pendidikan di SMK Muhammadiyah Pekalongan, Silvia tak pernah mendengar anaknya mendapat masalah di sekolah. Tidak ada pembulian maupun sikap rasis dari orang-orang di sekitarnya. Pelajaran agama pun didapatkan Revanno dengan baik.
“Anak saya Katolik mendapatkan pelajaran Katolik juga, tidak ada paksaan harus ikut pelajaran agama Islam,” tegasnya.
Justru menurut Silvia, perilaku Revanno mengalami banyak perubahan ke arah positif.
“Terus terang di SMK ini dia malah lebih semangat. Waktu SD dan SMP dia kurang, kadang tugas tidak dikerjakan. Di SMK ini dia malah semangat kerjakan tugas, tidak pernah terlambat sekolah,” katanya.

Kemampuan Revanno di bidang otomotif pun berkembang pesat. Kini ia bahkan sudah mampu memperbaiki sepeda motor sendiri dan kerap dimintai bantuan oleh tetangga sekitar.
Siapa sangka, saat Revanno lulus, ia mendapat gelar lulusan terbaik kedua di jurusannya, bahkan mendapat kesempatan magang ke Jepang melalui program beasiswa dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) AICHI yang bekerjasama dengan SMK Muhammadiyah Pekalongan, serta menerima hadiah uang senilai Rp1 juta.
Muhammadiyah untuk semua golongan
Kepala SMK Muhammadiyah Pekalongan, Khusnawan, menegaskan pihak sekolah tidak pernah membedakan siswa berdasarkan latar belakang agama. Ia menegaskan sekolah tidak pernah memiliki tujuan memaksa siswa non-Muslim mengikuti ajaran Islam.
“Perlakuan kami sama. Ternyata dia bagus, dia ahli dalam sepeda motor, bisa memotivasi teman-temannya,” ujarnya.
Lebih dari itu, Khusnawan berujar pendidikan Muhammadiyah terbuka bagi siapa saja dan tetap memberikan ruang bagi siswa untuk menjalankan keyakinannya masing-masing.
“Muhammadiyah itu luas. Pendidikan Muhammadiyah untuk semuanya, siapa saja. Pendidikan agama kami pilah, kami carikan guru agamanya, tetap ada fasilitas agama,” katanya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














