Mahasiswa dianggap mampu dalam mengerjakan tugas kuliah dengan beban akademik yang lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya. Khususnya, mahasiswa magister (S2). Sayangnya, sebagian dari mahasiswa pada level ini masih menggunakan AI di luar batasan seharusnya..
***
Beberapa mahasiswa yang sedang kuliah S2 berbagi cerita, mereka merasa mumet untuk alasan yang tidak perlu. Persoalannya, mahasiswa S2 seharusnya sudah lebih dewasa dan dapat memahami cara dunia akademik bekerja dibandingkan mahasiswa S1.
Namun, harapan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mereka justru harus menelan pil pahit, berupa realitas bahwa tidak seluruh mahasiswa S2 memiliki mutu yang setara. Mereka bisa jadi ketergantungan dan sepenuhnya mengandalkan artificial intelligence (AI) untuk mengerjakan berbagai tugas kuliah.
Sialnya, ketika kamu ditempatkan dalam kelompok yang sama dengan orang-orang ini, proses pengerjaan tugas kuliah akan lebih panjang dari seharusnya.
Level mahasiswa S2, tapi sedikit-sedikit tanya AI
Lita (bukan nama sebenarnya) (24) merupakan salah satu mahasiswa S2 di salah satu PTN di Jogja yang melakukan hal ini. Perempuan ini mengaku, ia tidak memiliki waktu dan tenaga yang cukup untuk membaca dan memahami materi perkuliahan seorang diri.
Lita memanfaatkan AI dengan mengunggah materi yang seharusnya dibaca seorang diri. Ia baru akan membaca hasil ringkasan dari AI.
“Kalau aku nggak ada waktu dan tenaga, jadi kadang ngasih AI ke bukunya dan minta diringkasin,” kata dia kepada Mojok, Rabu (22/4/2026).
Fenomena semacam ini juga tidak asing bagi Nabila (bukan nama sebenarnya) (27) yang juga berkuliah di salah satu PTN di Jogja. Perempuan ini mengaku bahwa ia menyaksikan sendiri teman-teman perkuliahannya menggunakan AI.
Dalam kegiatan belajar sehari-hari pun, mereka kerap langsung mengirimkan prompt ke AI. Alih-alih berpikir lebih dahulu, AI seakan-akan menjadi jalan cepat untuk dapat memperoleh jawaban.
Misal, Nabila menggambarkan, materi kuliah yang seharusnya dibaca dan dipahami sendiri justru diproses oleh AI. Hasil tersebut barulah akan dibaca, kemudian diakui sebagai hasil pemikiran kolaborasi, atau bahkan sendiri.
Dengan begitu, kualitas mahasiswa tingkatan ini, menurut dia, mengalami degradasi. Mereka yang ketergantungan kepada AI jadi kosong-melompong karena seluruh pengetahuannya bersumber, serta diolah oleh teknologi.
“Banyak lho mereka yang kopong,” kata dia, Rabu (15/4/2026).
Salah seorang teman di kelas Nabila, kata dia, terus-menerus menggunakan AI, seperti Claude. Penggunaan yang tidak berhenti sampai ketergantungan itu menimbulkan ketidakmampuan dalam memproses informasi sendiri.
Pada akhirnya, mahasiswa S2 yang seharusnya memahami tugas kuliah dengan tingkatan studi yang lebih tinggi ini, malah tidak memahami pengerjaan tugasnya sama sekali. Pasalnya, mereka juga tidak mencoba membentuk fondasi terlebih dahulu, serta mempertanyakan penjabaran AI yang tidak jarang keliru.
“Itu temanku A pakai Claude terus sampai nggak paham sama penelitiannya, bahkan teorinya pun,” kata dia.
“Soalnya dia positif banget sama AI,” kata dia menambahkan.
Sepenuhnya nggak dikerjakan sendiri, parafrase pun enggan
Menurut Nabila, penggunaan AI sebetulnya tidak sepenuhnya salah. Kecanggihan teknologi hadir untuk dimanfaatkan. Penggunaannya dapat membantu memaksimalkan berbagai hal, termasuk kebutuhan kuliah.
Namun demikian, penggunaan AI tetap harus memahami batasan. Akal imitasi ini tidak dapat diterapkan untuk mengerjakan sesuatu tanpa upaya dikontrol. Artinya, penggunaan AI tidak bisa dilepaskan sepenuhnya.
Pengguna AI tidak dapat menelan mentah-mentah apa yang dikatakan teknologi tersebut.
“AI nggak apa-apa, tapi jangan telan mentah-mentah,” kata dia.
Nabila mengaku, ia merasa kesal ketika menemukan mahasiswa yang tidak menyaring kembali temuan AI. Sebab, menurut dia, penting untuk membaca kembali untuk dapat mengetahui celah eror yang tidak sesuai dari pengerjaan seharusnya.
“Aku jujur sebal sama yang nelan mentah-mentah. Apa lu nggak baca ulang? Aneh,” kata dia.
Selain itu, mengingat mereka menyandang status mahasiswa tahap lanjut, keengganan untuk sedikit saja mengerjakan sendiri tugas kuliah ini disayangkan dan terasa tidak pantas. Hal ini diperkuat dengan pengalaman Nabila yang pernah bekerja kelompok dengan mahasiswa yang ketergantungan dengan AI.
Dua orang yang pernah bekerja kelompok dengannya itu berujung menjadi beban kelompok. Mereka tidak melakukan pemrosesan informasi sendiri, melainkan melemparkan seluruhnya kepada AI. Masalahnya adalah mereka mempercayai sepenuhnya temuan AI, sehingga terjadi diskusi tidak perlu terkait benar atau salahnya pemikiran yang bukan bersumber dari temuan sendiri.
“Pengalamanku sih ada teman dulu waktu tugas, ada dua orang yang percaya banget sama ChatGPT,” kata dia.
Jadi beban bagi mahasiswa yang mati-matian menjaga integritas akademik
Meskipun sebenarnya, Nabila mengatakan, dirinya tidak sepenuhnya menentang penggunaan AI. Bagaimanapun, perkembangan teknologi patut dimanfaatkan sehingga penggunaan AI diperbolehkan dalam batas seharusnya.
Seperti halnya etika penulisan artikel jurnal internasional melalui penerbit akademik, SAGE Publications, yang mensyaratkan pencantuman penggunaan AI. Penggunaan dalam batasan untuk memaksimalkan tulisan, seperti pengecekan tata bahasa, tidak perlu dianggap berada dalam batas yang dapat diterima sehingga tidak perlu dijabarkan. Sementara itu, penggunaan lain wajib dicantumkan untuk dapat memverifikasi akurasi dari temuan dan orisinalitas.
Artinya, penggunaan akal imitasi tidak dipermasalahkan selama tidak mengambil alih fungsi akal utama manusia sebagai penggunanya sendiri.
Kecemasan akan hilangnya nalar kritis ini bukan tanpa dasar. Survei Chegg pada tahun 2025 menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam studi ini juga dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Mahasiswa di seluruh dunia menggunakan AI dalam mendukung perkuliahan mereka. Empat dari lima mahasiswa sarjana (S1) melaporkan bahwa mereka menggunakan AI, menghasilkan persentase hingga 80 persen.
Di Indonesia, kehadiran AI dimanfaatkan oleh mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya. Hal ini ditunjukkan melalui penggunaan AI oleh mahasiswa yang menduduki posisi pertama dengan besaran 95 persen berdasarkan survei.

Nabila mengaku, dia juga menggunakan AI untuk dapat mendukung kebutuhan kuliah. Lebih tepatnya, memaksimalkan capaian dalam kuliah. Misalnya, penggunaan AI seperti NotebookLM dimanfaatkan untuk akselerasi pembacaan dan pemahaman.
Sebab, pembacaan sendiri sering memakan waktu lebih lama.
“Aku tuh bisa yah baca paham gitu, tapi takes time,” kata dia.
Maka dari itu, ia bersiasat dengan melakukan pembacaan sekali. Kemudian, mengoperkan materi pembacaan ke AI, lalu membacanya kembali bersama untuk didiskusikan.
“Makanya hadir NotebookLM sangat membantuku, mempercepat pembacaan dan pemahaman aja,” kata dia menutup.
Catatan Redaksi: Tulisan ini telah disesuaikan untuk menghindari tendensi generalisasi.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Malas dan Lelah Kuliah, Telepon Ibu Selamatkan Mahasiswa Keperawatan UGM hingga Lulus dengan IPK Sempurna dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














