Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
23 April 2026
A A
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Ilustrasi - Brain rot (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Membaca menjadi kemampuan paling mendasar yang dibutuhkan mahasiswa untuk bisa bertahan, bahkan lulus dari bangku kuliah. Namun, sebagian orang mengatakan, terjadi penurunan pada mahasiswa gen Z yang mengalami brain rot sehingga tak bisa melakukan kegiatan literasi dengan baik.

***

Laporan Fortune meriliskan fenomena mahasiswa gen Z dengan kemampuan literasi yang buruk. Profesor Sastra, Jessica Hooten Wilson, mengatakan dirinya menemukan mahasiswa gen Z yang bahkan tidak dapat membaca satu kalimat utuh.

“Bukan cuma tidak mampu berpikir kritis, ini juga ketidakmampuan untuk membaca kalimat,” kata dia, dikutip Kamis (23/4/2026).

Pengajar di Pepperdine University ini mengatakan, dia berujung harus membacakan semuanya seakan-akan menyuapi materi perkuliahan kepada para mahasiswa. Sebab, mereka tidak membaca materi pada malam sebelumnya.

Ditambah, mereka bahkan tidak dapat memahami kata-kata yang tertulis dalam materi kuliah.

Meski ada kesalahan masing-masing dalam hal ini, ketidakmampuan gen Z tidak serta-merta muncul. Setidaknya mereka mencapai titik brain rot ini karena terlalu sering disuapi dalam belajar-mengajar, serta adanya AI yang mempermudah segalanya. Ibarat kata, kalau ada yang mudah, ngapain repot?

Terlalu sering disuapi, mahasiswa gen Z tidak bisa mandiri ketika kuliah

Katakan selama kegiatan belajar-mengajar di sekolah, siswa terbiasa dijejali materi oleh guru secara langsung. Selama itu, mereka merasa tidak perlu belajar mandiri dan memahami materi pembelajaran terlebih dahulu.

Kebiasaan inilah yang secara tidak langsung membentuk kepribadian pelajar yang terbiasa disuapi alih-alih belajar sendiri. Mereka juga diperparah dengan konsumsi berbagai hal yang cepat dan singkat, seperti video pendek atau pemberitaan. Alhasil, tidak ada kebutuhan konsentrasi dan pemahaman mendalam dalam kebiasaan sehari-harinya.

Akibat jangka panjangnya, mereka yang tergolong sebagai generasi Z berdasarkan usia ini kehilangan kemampuan mendasar yang dibutuhkan dalam belajar.

Salah seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Bunga (24), menyetujui hal ini. Ia mengatakan, mahasiswa saat ini bukan tak bisa membaca. Melainkan, mereka kesulitan dalam memahami bacaan karena perubahan kebiasaan yang menghilangkan kemampuan itu.

“Mungkin bukan nggak bisa baca, tapi lebih ke memahami bacaan. Mungkin ada hubungannya juga sama digitalisasi sekarang karena kebanyakan pada konsumsi media cepat, kayak terlalu sering terpapar video pendek,” kata dia kepada Mojok, Rabu (22/4/2026).

Perempuan ini mengatakan, konten semacam itu memperparah kebiasaan generasi Z yang tidak akrab dengan kegiatan membaca dalam belajar. Mereka menjadi semakin kesulitan untuk berkonsentrasi secara mendalam karena proses penyerapan informasi terjadi secara cepat. 

“Jadinya malah susah konsentrasi atau fokus panjang, jadinya otak lebih sering scanning cepat daripada memahami secara mendalam,” kata dia.

Iklan

Hasil PISA 2022 yang diterbitkan pada Desember 2023 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat terendah ketiga. Skor membaca siswa Indonesia hanya mencapai 359, menunjukkan kesulitan mereka dalam memahami teks yang kompleks. 

Sudah ada teknologi canggih, gen Z tidak mau repot

Tidak cukup sampai dengan kebiasaan yang membentuk ketidakmampuan, perkembangan teknologi membuat ketidakmampuan gen Z menjadi lebih parah. 

Survei Chegg pada tahun 2025 menunjukkan mayoritas mahasiswa di seluruh dunia menggunakan AI dalam mendukung perkuliahan mereka. Empat dari lima mahasiswa sarjana (S1) melaporkan bahwa mereka menggunakan AI, menghasilkan persentase hingga 80 persen.

Di Indonesia, angka ini meningkat pesat. Indonesia bahkan menempati posisi pertama dengan mahasiswa paling banyak yang menggunakan AI dengan besaran 95 persen berdasarkan survei.

Survei penggunaan AI pada mahasiswa (Sumber: Chegg Survey 2025)
Survei penggunaan AI pada mahasiswa (Sumber: Chegg Survey 2025)

Menurut Bunga, penggunaan AI memang menawarkan kemudahan dalam mendukung perkuliahan. Hal ini membuat sebagian mahasiswa menyalahgunakannya untuk menghindari keharusan membaca dan memahami sendiri.

Ia bercerita, kerap menyaksikan mahasiswa langsung melemparkan materi perkuliahannya ke AI tanpa membaca terlebih dulu. Malah, mereka baru akan membaca rangkuman yang telah diberikan AI dalam bentuk yang lebih singkat, serta bahasa yang diminta lebih mudah—bahasa bayi, istilahnya.

“Orang-orang jadi ketergantungan sama ringkasan, kayak kalau dikasih bacaan panjang langsung drop file dan tolong ringkas dan jelaskan materi ini dengan bahasa bayi. Jadi, kurang mau buat baca keseluruhan dan cari sendiri maksud dari bacaan panjang tersebut,” kata dia. 

Lita (bukan nama sebenarnya) (24) yang juga merupakan seorang mahasiswa di salah satu PTN di Jogja mengaku hal ini. Ia mengatakan, tidak memiliki waktu dan tenaga yang cukup untuk membaca dan memahami seorang diri.

Maka dari itu, Lita sudah tidak asing dengan pemanfaatan teknologi AI dalam perkuliahan sehari-hari. Ia akan memberikan materi yang seharusnya dibaca kepada AI, kemudian membaca hasil ringkasannya.

“Kalau aku nggak ada waktu dan tenaga, jadi kadang ngasih ke AI bukunya dan minta diringkasin,” kata dia kepada Mojok, Rabu (22/4/2026).

Malas berujung brain rot 

Kebiasaan ini menunjukkan bahwa mahasiswa gen Z bukan tidak bisa membaca. Lebih parah, sebagian dari mereka tidak mau atau memang memilih untuk tidak membaca.

Itulah yang mengakibatkan kemampuan membaca mahasiswa gen Z menurun. Hanung (22) yang merupakan mahasiswa UGM, sekaligus tutor bagi mahasiswa lainnya, bercerita bahwa ia kerap menemui ketidakmampuan membaca ini berdampak pada kemampuan literasi secara keseluruhan.

“Skill literasi kayak menulis, membaca gitu, apalagi tulisan itu udah AI itu benar-benar membuat anak-anak S1 sekarang ya itu kayak susah menulis yang baik,” kata dia.

Mengamati teman-teman sebayanya, Hanung mengatakan, mereka mengutamakan hasil yang cepat dalam segala prosesnya. Sementara itu, membaca membutuhkan proses yang panjang dan dilakukan secara perlahan.

Sebagai contoh, kata dia, mahasiswa gen Z kerap mengonsumsi video cepat dengan durasi yang singkat sehingga mereka cenderung memperoleh hasil dalam satu kedipan mata. Ini mengakibatkan dampak lebih lanjut, seperti brain rot yang merujuk pada penurunan kemampuan fokus dalam membaca.

“Ada juga gen Z yang kayak mereka ingin mudah dan cepat dan itu didorong oleh kebiasaan mereka dalam konsumsi media kayak konsumsi video cepat, durasi pendek singkat, informasinya langsung blung blung, sementara proses membaca itu kan perlu pelan-pelan,” kata dia.

Bahkan, sebagian dari mereka yang sudah menggunakan AI untuk mempercepat proses, tidak jarang juga melewatkan pembacaan itu secara menyeluruh. Hanung bilang, mereka bisa jadi juga tidak membaca hasil akhirnya.

“Daya baca itu lemah banget, jadi mereka oke bisa baca, tapi apakah mereka kuat untuk membaca tulisan yang panjang gitu tanpa sabar untuk segera menuju ke akhirnya?” kata dia.

“Nah itu yang menjadi pertanyaan bahkan untuk membaca hasil akhir tugas mereka sendiri aja mereka gak lakukan itu, kayak mereka mengecek tugas mereka, hasil tulisan mereka untuk dinilai, di-review apakah ini udah cocok, itu mereka gak lakukan, apalagi membaca sebuah buku dan lain sebagainya,” tambahnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh

Tags: AIArtificial Intelligencegaya hidup gen zgen z indonesiakuliah pakai AIMahasiswamahasiswa gen Zpenggunaan AI mahasiswa
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Tongkrongan gen Z di coffee shop
Sehari-hari

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

23 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living
Catatan

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI
Sekolahan

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penyesalan pasang WiFi di rumah MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP

17 April 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera

23 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Aksi tanam 100 pohon gayam di sekitar Candi Borobudur, Magelang. MOJOK.CO

Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.