“Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini,” kata dia.
Lulusan SMK satu-satunya yang diterima kuliah di UGM
Perjuangan Alfath membuahkan hasil yang manis. Dari bangku SMK, Alfath menjadi satu-satunya siswa di sekolahnya yang lolos ke PTN yang berada di Jogja ini.
Alfath mampu melawan dominasi lulusan SMA yang menyasar UGM, juga membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya serius untuk melanjutkan pendidikan. Ia diterima di Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil, Sekolah Vokasi, UGM Jogja.
“Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos,” kata dia.
Begitu menerima pengumuman hasil seleksi UTBK di kamarnya seorang diri, Alfath segera memeluk ibunya. Ia juga bergegas mencari sosok lain yang paling ia ingat, yakni kakeknya.
Dengan emosi yang campur aduk, Alfath memeluk sang kakek dan mengatakan bahwa dirinya akan berkuliah.
“Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, ‘Saya jadi kuliah’,” kata dia.
Yang pertama berkuliah di keluarga raih gelar mahasiswa berprestasi
Momen Alfath mengetahui dirinya diterima sebagai mahasiswa UGM bukan hanya kebahagiaan Alfath, ibu, atau kakeknya. Kebahagiaan itu dirayakan oleh seluruh keluarganya.
Sebab, Alfath adalah yang pertama menginjakkan kaki di bangku perkuliahan di keluarganya.
Alfath bercerita, sang kakek menyebutkan dirinya bangga, karena Alfath adalah satu-satunya cucu yang bisa menempuh pendidikan di bangku kuliah. Ia berharap Alfath mampu menjadi pembuka pintu bagi keluarga yang lain untuk berkuliah.
Ini artinya, Alfath bukan hanya yang pertama berkuliah. Alfath juga akan menjadi sarjana, yang diharapkan sebagai pembawa perubahan dalam keluarganya kelak.
Dengan semangat ini, Alfath memasuki bangku kuliah di UGM dengan penuh kepercayaan diri. Ia yang sebelumnya cenderung introvert dan hanya berfokus pada akademik, kini aktif berorganisasi, dipercaya memimpin organisasi kemahasiswaan (BSO) di Sekolah Vokasi, dan mengikuti berbagai kompetisi.
“Saya dulu bahkan diajak lomba nggak mau, tapi di UGM saya sadari itu penting dan mulai aktif sejak semester tiga,” kata dia.
Hasilnya bukan main, hingga kini Alfath tercatat telah memenangkan sekitar 15 perlombaan tingkat nasional dan internasional. Ia bahkan menjadi finalis pada sebuah kompetisi di Nanyang Technological University Singapura. Prestasinya mengantarkan Alfath meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM atau Mahasiswa Berprestasi pada 2025 lalu.
Ia bercerita, kedua orang tuanya yang sempat berpikir panjang akan keputusan Alfath ingin berkuliah, merasa bangga dan tidak menyangka akan pencapaian anaknya ini.
“Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














