Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
3 Maret 2026
A A
Lulusan UT, Universitas Terbuka.MOJOK.CO

ilustrasi - Kampus Universitas Terbuka (UT). (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lulusan UT diremehkan karena dianggap kuliah di kampus abal-abal. Namun, sebagian dari mereka tetap bersyukur karena punya karier lebih bagus daripada para lulusan S1 bahkan S2 yang menghinanya.

***

Iklan

Mika (27) masih ingat betul rasa bangganya saat pertama kali mendaftar kuliah pada awal tahun 2024 lalu. Dua tahun sebelumnya, usai lulus SMA pada 2022, perempuan asal Bengkulu ini terpaksa mengubur mimpi masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Masalah biaya memaksanya harus langsung terjun ke dunia kerja. 

Gaji yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit akhirnya cukup untuk membayar biaya pendaftaran di Universitas Terbuka (UT). Namun, kebanggaan yang baru seumur jagung itu hancur hanya karena celetukan seorang teman kerjanya.

“Ngapain kuliah di UT? Itu kan kampus abal-abal. Kuliah kok cuma dari rumah, belajarnya nggak jelas,” kenang Mika, Selasa (3/3/2026), mengingat ucapan temannya kala itu.

Kata-kata tadi langsung membuat Mika insecure alias tidak percaya diri. Niatnya untuk mandiri dan mencari ilmu sambil tetap bekerja malah dipandang sebelah mata. Sistem belajar UT yang fleksibel dan menuntut kemandirian justru dianggap sebagai tanda bahwa kampusnya tidak berkualitas.

Padahal, UT selevel dengan PTN lain

Kisah Mika bukanlah cerita baru. Dalam sebuah obrolan di Threads, banyak alumni maupun mahasiswa yang masih kuliah di UT mengaku kerap diremehkan bahkan dapat olok-olokan.

 

View on Threads

 

Di lingkungan masyarakat kita, gengsi almamater atau nama besar kampus memang masih dijadikan tolok ukur kesuksesan seseorang. Kampus yang tidak menuntut mahasiswanya datang ke kelas setiap hari, seperti UT, acap kali diremehkan dan dianggap sebagai kampus “kelas dua”.

Padahal, kalau melihat realitas di dunia kerja nyata saat ini justru sedang berbalik arah. Ijazah dari kampus ternama, bahkan gelar S2 dari PTN top sekalipun, tak lagi jadi jaminan otomatis seseorang akan mudah mendapat pekerjaan, apalagi bergaji besar.

Lebih jauh, tudingan UT sebagai “kampus abal-abal” itu sebenarnya sangat salah alamat. Menurut laman resmi UT, paling tidak ada dua alasan.

Pertama, UT adalah PTN resmi milik pemerintah. Statusnya bahkan sudah naik menjadi PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) sejak tahun 2022. Sebagai informasi, status PTN-BH ini adalah kasta tertinggi kampus negeri di Indonesia, sejajar dengan kampus-kampus top legendaris seperti UI, UGM, ITB, atau Unpad.

Kedua, ada fakta menarik yang selalu ampuh membungkam orang-orang yang suka menghina UT. Hampir di setiap penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), lulusan UT selalu menduduki peringkat pertama sebagai penyumbang PNS yang paling banyak lolos. Mereka mengalahkan ratusan ribu pendaftar lain dari berbagai kampus negeri ternama.

“Dulu aku begitu insecure, memposting keseharian saja nggak berani. Minder. Sekarang berdamai sajalah, toh kuliah pakai uangku,” kata Mika.

Iklan

Kerja modal ijazah D1, lanjut kuliah S1 di UT

Cerita lain datang dari Amri (29). Laki-laki asal Jakarta ini baru saja lulus sarjana (S1) dari UT pada tahun 2024 lalu.

Sama seperti Mika, awalnya Amri memilih UT karena alasan biaya yang lebih ramah di kantong dan waktu kuliah yang fleksibel. Amri sadar, dia tidak bisa hanya mengandalkan teori kuliah tanpa bekerja. 

Sebelumnya, ia hanya sempat menamatkan pendidikan hingga jenjang D1 Akuntansi.

“Dulu cuma bisa sampai D1 karena memang ingin langsung kerja. Keluarga nggak bisa biayain kuliah saya sampai sarjana,” katanya, Selasa (3/3/2026).

Bermodal ijazah D1 itu, Amri melamar pekerjaan di Jakarta. Ia bekerja keras setiap hari, sambil melanjutkan S1 Akuntansi di UT pada waktu senggangnya. Tentu saja, perjalanannya tidak lepas dari hinaan. Beberapa temannya yang berkuliah di PTN bergengsi sering meremehkan pilihannya karena ia jarang terlihat “pergi ke kampus”.

Diejek dengan kalimat, “diajar sama dosen setan”

Pengalaman paling membekas bagi Amri terjadi saat acara reuni SMA beberapa tahun lalu. Kala itu, Amri bercerita bahwa ia baru saja mendaftar S1 di UT di hadapan kawan-kawannya yang kebanyakan alumni S1 bahkan S2 PTN top.

Bukannya didukung, ia malah ditertawakan.

“Kuliah kok cuma lewat HP?” 

“Emang dosennya kelihatan?”

“Wah, kamu diajar dosen setan itu, nggak pernah nampak.”

Hinaan itu dilontarkan terang-terangan di depan banyak orang. Telinga Amri tentu terasa panas. 

Meski itu terkesan sebagai candaan tongkrongan, Amri tetap merasa sakit hati. Niat hatinya ingin berbagi cerita, malah direspons dengan ejekan oleh kawan-kawannya.

“Ya saya sih memilih diam. Cuma saya sangat sakit hati,” kata lulusan UT ini.

Lebih sukses dari teman-temannya yang lulusan S1-S2 PTN

Namun, waktu yang akhirnya menjawab semuanya. Saat ini, karier Amri melesat jauh. Di Jakarta, ia kini mengantongi gaji Rp8 juta per bulan. Sebuah angka yang terbilang sangat lumayan untuk ukuran seseorang yang baru mendapat gelar sarjana pada 2024 lalu.

Rahasia kesuksesan Amri sebenarnya sangat sederhana. Ia mengakui, saat sarjana dari kampus lain baru mulai mencari kerja dan kebingungan membuat surat lamaran, Amri sudah memiliki pengalaman kerja bertahun-tahun. Perpaduan antara ijazah S1 dan “jam terbang” riil inilah yang membuat perusahaan tidak ragu untuk membayarnya mahal.

Lalu, bagaimana nasib teman-teman Amri yang dulu sering menghinanya?

Ironisnya, banyak dari mereka yang kini masih luntang-lantung mencari pekerjaan. Ada pula yang sudah bekerja, meski gajinya terbilang kecil, jauh di bawah gaji yang diterima Amri. Bahkan, beberapa kenalannya yang merupakan lulusan S2 dari PTN top pun ikut merasakan kerasnya realitas persaingan kerja ini.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebenarnya sudah lama menunjukkan fenomena ini. Angka pengangguran dari kalangan terdidik—yakni lulusan diploma dan universitas—masih terus menjadi masalah besar di Indonesia. Banyak sarjana terpaksa menganggur karena keterampilan yang mereka pelajari di kelas tidak sesuai dengan kebutuhan praktis perusahaan.

“Saya bersyukur, meskipun nggak dari PTN yang dianggap top seenggaknya bisa hidup mandiri. Biar dihina, yang penting saya lebih sukses dari mereka,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kuliah di Universitas Terbuka (UT), Meski Diremehkan tapi bikin Gen Z Bersyukur karena Beri Jawaban Konkret untuk Kebutuhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2026 oleh

Tags: biaya kuliah utkuliah online utlulusan ptnlulusan utpilihan redaksiPTNsarjana nganggursarjana utukt utuniversitas terbukaUT
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

siswa sekolah.MOJOK.CO

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

16 Juni 2026
Pengamen di kampung Jombang bisa datang 4-5 kali dalam sehari MOJOK.CO

Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman

22 Juni 2026
Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

22 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.