Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
19 Agustus 2026
A A
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Ilustrasi - Lulusan Sarjana (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meningkatnya jumlah pengangguran dari kalangan lulusan S1, lulusan S2, bahkan lulusan S3, tidak hanya disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan. Persoalan mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja turut menjadi penyebab sulitnya mereka memasuki pasar kerja.

***

Iklan

Saya pernah menulis beberapa liputan di Mojok tentang betapa berdarah-darahnya mencari kerja di era sekarang. Dari hasil ngobrol dengan banyak fresh graduate, polanya selalu seragam. Hari-hari mereka dihabiskan dengan memelototi portal lowongan kerja, mengirim puluhan lamaran dalam bentuk PDF, dan berujung pada email penolakan.

Misalnya, pengalaman Ade, lulusan PTS Jogja yang nekat merantau ke Jakarta bermodal ijazah S1. Ujung-ujungnya apes. Karena berkali-keli ditolak perusahaan, tak ada penghasilan, ia berakhir di kos sempit. Sekalinya dapat kerja, ia “hanya” bekerja sebagai tukang parkir.

Atau, ada juga Lita, pekerja asal Magelang. Sama seperti Ade, ia nekat merantau ke Jakarta modal modal ijazah S1. Saking senangnya dapat kerja setelah lama menganggur, ia mengadakan syukuran di kampung. Sialnya, belum juga gaji bulan pertama turun, perusahaan bubar karena memang bodong.

Serta banyak liputan lain.

Mereka, narasumber yang saya wawancarai, mengira gelar akademik yang dikejar susah payah selama empat tahun adalah jalan mulus masuk dunia kerja. Namun, realitasnya, ijazah mentereng itu sering kali ditolak mentah-mentah oleh perusahaan.

Penyebab lulusan S1 hingga S3 nganggur karena 

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026, ada lebih dari 1 juta orang (tepatnya 1.033.132 orang atau 14,31%) lulusan perguruan tinggi dari jenjang D-4 hingga S-3 yang berstatus menganggur. 

Ratusan ribu tenaga terdidik ini mendadak sadar bahwa teori yang mereka pelajari bertahun-tahun di kelas tak cukup “sakti” untuk bersaing di dunia kerja.

Melihat fenomena ini, Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, menyoroti satu akar masalah yang selama ini membuat perusahaan enggan merekrut. 

Menurutnya, kampus terlalu sibuk menjadi pabrik teori, namun luput membekali mahasiswanya dengan keahlian yang bisa langsung dieksekusi.

“Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang ke perusahaan bawa ijazah, bukan bawa keterampilan,” sentil Prof. Tadjuddin, sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (19/8/2026).

Iklan

Penyakit mismatch atau ketidaksesuaian kompetensi inilah yang, menurut Tadjuddin, membuat sarjana kita berguguran di tahap rekrutmen. 

Era AI jadi tantangan lain

Tantangannya makin berat ketika industri mulai bergeser ke arah pemanfaatan AI dan robotika. 

Saat ini, perusahaan tak lagi terlalu peduli seberapa mentereng IPK di transkrip nilai, melainkan skill praktis apa yang bisa dikontribusikan untuk mengejar efisiensi teknologi.

Sudah minim keterampilan, sarjana kita juga harus berhadapan dengan struktur ekonomi yang sedang tidak stabil. Sektor industri padat karya yang biasanya menjadi wadah raksasa penyerap tenaga kerja kini tengah megap-megap. 

Dihantam naiknya biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat, banyak perusahaan terpaksa putar otak melakukan efisiensi yang berujung pada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Daripada bikin kampus baru, mending selesaikan masalah dengan cara ini

Lalu, bagaimana pemerintah merespons ledakan satu juta sarjana nganggur ini? Jawabannya justru mengundang kritik.

Alih-alih membenahi kualitas lulusan yang ada, pemerintah malah mewacanakan pendirian perguruan tinggi baru bernama Universitas Republik Indonesia (URI). Bagi Prof. Tadjuddin, langkah ini adalah solusi yang tidak nyambung dengan akar masalah. 

Mendirikan kampus baru butuh waktu bertahun-tahun, padahal krisis pengangguran terdidik ini butuh diselamatkan hari ini juga.

“Bangsa ini sedang menghadapi pengangguran terdidik. Itu tidak dapat diatasi dengan mendirikan perguruan tinggi,” tegasnya.

Sebagai jalan keluar yang lebih taktis, Prof. Tadjuddin menyarankan agar pemerintah dan kampus berkolaborasi membangun pusat pelatihan vokasi modern. Sebuah program intensif yang secara spesifik dirancang untuk “memoles” sarjana pengangguran agar memiliki keterampilan praktis sesuai permintaan industri. 

Jika program ini dieksekusi dengan masif dan tepat sasaran, ia optimis satu hingga dua juta pengangguran terdidik ini bisa diserap pasar hanya dalam waktu dua sampai lima tahun.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Agustus 2026 oleh

Tags: lulusan perguruan tinggilulusan S1lulusan s2Pengangguran terdidikS1s2sarjana menganggurSkill fresh graduatesusah cari kerja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan?

11 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Kirab Budaya dan Karnaval Pembangunan Klaten Tahun 2025. MOJOK.CO

Karnaval Klaten 2026: Belajar Jejak Sejarah Mataram Kuno dan Keistimewaan Tiap Wilayah

16 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.