Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Februari 2026
A A
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Ilustrasi Lulusan LPDP Susah Cari Kerja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ini adalah curhatan para lulusan LPDP yang mengaku “downgrade” ketika balik ke Indonesia. Bukan karena tak bersyukur atau kurang usaha, tetapi sistem memang menyusahkan mereka hingga susah cari kerja. Yang sedikit lebih beruntung, memilih banting setir agar bisa bertahan hidup.

***

Setiap tahun, ratusan anak muda Indonesia berangkat ke luar negeri dengan harapan besar. Mereka adalah para penerima beasiswa, dan kelak akan menjadi lulusan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang membawa segudang ilmu. 

Di sana, mereka menimba ilmu di kampus-kampus top dunia dan digembleng dengan pengalaman hidup di negeri orang. Harapannya jelas: pulang ke Tanah Air, membangun bangsa, dan menempati karir yang cemerlang.

Namun, realitas seringkali tidak seindah bayangan. Alih-alih langsung diserap oleh industri, banyak dari mereka yang pulang kampung justru merasakan kenyataan pahit. Mereka, yang menyandang gelar S2 luar negeri sebagai lulusan LPDP, malah susah cari kerja di negeri sendiri.

Tembok tebal bernama “overqualified”

Salah satu dari mereka adalah Ade (bukan nama sebenarnya). Sebagai seorang lulusan LPDP program S2 Manajemen Bisnis dari salah satu kampus ternama di Eropa, ia sudah berbulan-bulan bolak-balik menyebar lamaran kerja. 

Ratusan posisi sudah ia incar, mulai dari perusahaan multinasional hingga perusahaan lokal. Namun, jawaban yang ia terima seringkali seragam: “Mohon maaf, kualifikasi Anda terlalu tinggi untuk posisi ini.”

“Semua platform sudah dicoba. Minta bantuan relasi pun nggak ada hasilnya,” kata Ade yang berhasil Mojok hubungi, Minggu (22/2/2026).

Di dunia kerja, fenomena yang dialami ADe dikenal dengan istilah overqualified, situasi “dianggap terlalu pintar” untuk sebuah lowongan. Banyak HRD lokal yang mundur duluan saat melihat gelar Master dari luar negeri. Mereka berasumsi bahwa kandidat seperti Ade pasti meminta gaji selangit.

“Padahal, kami juga mencari pengalaman. Permintaan juga tak muluk, penting bisa kerja dulu dengan gaji layak,” imbuhnya.

Selain itu, ada juga ketakutan bahwa Ade akan cepat bosan dengan pekerjaan teknis biasa dan akhirnya malah buru-buru pindah kantor. Padahal, di kehidupan nyata, Ade rela digaji standar asalkan ia bisa mulai bekerja, berkarya, dan tidak lagi susah cari kerja.

Namun, pengalaman Ade ini bukanlah kebetulan semata. Badan Pusat Statistik (BPS) berulang kali mencatat bahwa angka pengangguran terdidik–yakni mereka yang lulus S1 hingga S3–selalu menempati porsi yang cukup besar di Indonesia. 

Ijazah S2 dari luar negeri ternyata bukan jalan pintas bagi lulusan LPDP. Kadang, ijazah itu justru menjadi tembok tebal karena industri lokal belum punya kapasitas untuk mengelola tenaga kerja dengan keahlian setinggi itu.

Terjebak di “Hollowing Out of the Middles Class”

Pertanyaannya: kok bisa begitu? Mengapa orang pintar yang disekolahkan jauh-jauh malah susah cari kerja?

Jawabannya ada pada struktur industri kita. Laporan dari Bank Dunia (World Bank) pernah menyoroti sebuah masalah sistemik di Indonesia yang disebut Hollowing Out of the Middle Class atau hilangnya ketersediaan lapangan pekerjaan kelas menengah ke atas.

Sederhananya begini: program beasiswa negara sedang sangat cepat mencetak lulusan LPDP dengan keahlian tingkat ahli (seperti pakar energi terbarukan, spesialis kesehatan mental, atau ahli rekayasa genetika). 

Di sisi lain, ekosistem industri kita masih berjalan pelan. Banyak perusahaan lokal yang bisnis utamanya masih di tahap dasar atau padat karya. Mereka belum butuh divisi riset dan pengembangan (R&D) yang canggih. Mojok pernah mengulas fenomena ini dalam liputan berjudul: “Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada”.

Akibatnya, terjadilah “kemacetan”. Lulusan kampus top ini tidak menemukan wadah atau pabrik yang sesuai dengan “mesin” ilmu yang mereka bawa pulang. Ekosistem yang belum matang inilah yang membuat para lulusan LPDP tersebut kebingungan mencari tempat berlabuh yang pas untuk keahlian spesifik mereka.

Iklan

Baca halaman selanjutnya…

Jauh-jauh kuliah S2 ke Eropa, sampai di Indonesia banting setir profesi. Dilakukan demi bertahan hidup.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026 oleh

Tags: LPDPlulusan LPDPlulusan s2lulusan s2 susah cari kerjaoverqualifiedpengangguran terdidik di Indonesiapilihan redaksiRealitas lulusan LPDPreverse culture shocks2 luar negerisusah cari kerja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mending Beli Rumah di Menganti, Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo. MOJOK.CO

Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan

12 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan?

11 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.