Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 Desember 2025
A A
pendidikan, lulusan sarjana nganggur, sulit kerja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Susahnya Cari Kerja (Mojok.co/Ega Fansuri).

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Indonesia terus melahirkan lulusan perguruan tinggi yang disiapkan untuk pekerjaan yang bahkan sudah tidak ada. Sementara ekonomi berubah cepat, dunia pendidikan tertinggal jauh, yang mendorong generasi muda masuk ke pasar kerja yang tak lagi siap menampung mereka.

***

Pada akhir Oktober lalu, Febrian (24) mengikuti job fair untuk ketiga kalinya dalam dua bulan. Hasilnya selalu sama. Antrean panjang, lowongan tidak sesuai jurusan, dan syarat yang ditetapkan kadang tak masuk akal. 

“Misalnya di kriteria masuknya itu ada syarat kemampuan teknis yang tidak pernah aku pelajari selama empat tahun kuliah,” ujar lulusan salah satu PTN di Jogja ini, Kamis (4/12/2025). “Aku bahkan baru dengar istilah SQL dan data cleaning setelah lulus,” katanya.

Ia bercerita, dalam job fair yang digelar di sebuah kampus itu, ada ratusan pencari kerja seusianya menunggu giliran wawancara. Sebagian besar datang dengan optimisme, meski pada akhirnya pulang dengan raut muka lesu.

“Kami itu ke job fair membawa gelar sarjana. Dulu mungkin prestisius, tapi kini terasa seperti embel-embel aja. Cuma jadi beban ekspektasi.”

Fenomena yang dirasakan Febrian bukan cuma cerita satu orang. Sejumlah riset terbaru menunjukkan, Indonesia kini berada dalam ketegangan yang semakin nyata: perguruan tinggi memproduksi tenaga terdidik, tetapi pasar kerja bergerak menuju arah yang berbeda. Mismatch antara pendidikan dan kebutuhan ekonomi ini telah menjadi persoalan struktural yang siap menciptakan generasi “overqualified tapi underutilized”.

Menurut Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, persoalan ini bukan hanya soal kampus atau mahasiswa, tetapi desain pendidikan nasional yang kurang adaptif terhadap perkembangan ekonomi. 

“Anak-anak muda kita sedang berlari, tetapi tanpa kompas. Mereka mengejar gelar, sementara industri sudah pindah lapangan,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang menyoroti problem kesiapan sumber daya manusia Indonesia.

Sementara itu, menurut dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, persoalan ketidaksinkronan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri tidak bisa dipandang sebagai masalah sektoral semata.

Ia menekankan bahwa struktur ekonomi Indonesia tengah bergerak menuju pekerjaan yang semakin menuntut kemampuan analitis, literasi digital, dan kemampuan memecahkan masalah. Sementara sebagian besar tenaga kerja muda masih datang dari sistem pendidikan yang fokus pada hafalan dan kurikulum yang lambat beradaptasi. 

“Perguruan tinggi kita memang menghasilkan lulusan, tetapi tidak semua menghasilkan capabilities yang sedang dicari industri,” ujarnya.

Wisnu juga menilai bahwa ketidaksesuaian ini diperparah oleh minimnya jembatan antara kampus dan dunia usaha. Program magang belum terstandar, pusat karier kampus jarang memakai data pasar kerja real-time, dan kampus cenderung mengukur keberhasilan dari jumlah lulusan, bukan kompetensi yang benar-benar terserap pasar. 

Ia pun menegaskan perlunya reformasi lebih dari sekadar penyelarasan kurikulum. Kampus harus membangun ekosistem pembelajaran yang lincah, responsif, dan berbasis pengalaman nyata. 

Iklan

“Kita bukan hanya menghadapi skill mismatch, tapi expectation mismatch. Lulusan, kampus, dan industri saling bergerak di rel yang berbeda,” katanya.

Makin tinggi pendidikan, makin besar peluang over-education

Salah satu studi yang menyoroti persoalan ini datang peneliti Universitas Brawijaya (UB) Malang, M. Afif Khoiruddin dan kolega. Mereka menganalisis mismatch pendidikan–baik vertical mismatch (tingkat pendidikan tidak sesuai tingkat pekerjaan) maupun horizontal mismatch (bidang studi tak relevan dengan pekerjaan). 

Berbekal data SAKERNAS 2022, mereka menemukan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula peluang ia mengalami over-education. Itu adalah kondisi di mana seseorang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang dijalaninya. 

“Temuan ini ironis sekaligus mengkhawatirkan: pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi pendorong mobilitas sosial, justru membawa sebagian lulusan ke pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian mereka,” tulis Khoirudin dalam laporan tersebut.

Riset tersebut juga menyoroti ketimpangan berdasarkan wilayah dan sektor industri. Lulusan di luar Jawa memiliki risiko mismatch lebih tinggi karena lapangan kerja yang sesuai bidang relatif lebih sempit. Ini menjelaskan mengapa ribuan lulusan dari daerah akhirnya berkumpul di kota-kota besar, menambah persaingan yang sudah ketat.

“Ketimpangan regional, seperti upah minimum yang lebih tinggi dan konsentrasi ekonomi di Jawa-Bali, memperburuk kondisi over-education,” imbuhnya.

Uniknya, sebagaimana diungkapkan oleh Febrian, teman-temannya yang lulusan vokasi justru memiliki karier lebih mumpuni. Setidaknya, dari teman-teman di lingkar pertemanannya, mereka yang lulusan vokasi sudah dapat kerja, sementara sarjana seperti Febrian, masih kesulitan.

“Aku mikirnya karena vokasi pasti langsung to the point ke penjurusan bidang kerja. Jadinya jelas,” ungkapnya. 

Apa yang dirasakan Febrian diamini oleh peneliti BPS, FX Gugus Febri Putranto. Dalam riset di The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning (2024) yang diterbitkan Bappenas, ia memberi gambaran lebih komprehensif bagaimana pendidikan vokasi yang selama ini dianggap “kelas dua” dibanding S1, justru menunjukkan performa lebih baik dalam mengurangi vertical mismatch.

Temuan Putranto jelas: lulusan vokasi yang ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai kompetensi, memiliki peluang lebih besar memperoleh pendapatan layak. Dalam kondisi tertentu, jalur vokasi memberikan hasil yang lebih “efisien” dibanding pendidikan akademik yang “cenderung teoritis”.

Riset ini sekaligus menjadi cermin bagi perguruan tinggi. Sementara kampus berlomba membuka program studi baru dan menambah jumlah mahasiswa, dunia industri bergerak dalam ritme yang lebih cepat. Kebutuhan akan tenaga kerja digital, teknisi industri, analis data, dan operator teknologi berkembang dalam hitungan bulan, sementara revisi kurikulum kampus bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Bukan kuliahnya yang salah, dunia kerja yang sudah berubah

Namun, mismatch bukan hanya soal kurikulum atau jenis pendidikan. Ia juga berkelindan dengan kondisi ekonomi yang berubah secara struktural. Sektor manufaktur, yang selama puluhan tahun dianggap sebagai lokomotif penyerapan tenaga kerja, justru mengalami kemunduran. 

Riset berjudul “Labour Absorption In Manufacturing Industry In Indonesia: Anomalous And Regressive Phenomena” (2023) menunjukkan gambaran yang semakin jelas tentang perubahan struktur ekonomi Indonesia, terutama di sektor manufaktur yang selama ini dianggap sebagai penyangga utama penyerapan tenaga kerja. 

Dengan menganalisis data ketenagakerjaan lintas subsektor antara 2012 hingga 2020, Tongam S. Nababan dan Elvis F. Purba menemukan bahwa 21 dari 24 subsektor manufaktur mengalami penurunan kapasitas serap tenaga kerja. 

Penurunan ini tidak hanya mengindikasikan perlambatan industri, tetapi juga perubahan karakter pekerjaan di dalamnya: banyak lini produksi mulai mengadopsi otomasi, peralatan berteknologi tinggi, dan sistem digital yang mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia. 

Akibatnya, tulis mereka, “sektor yang dulu menyerap lulusan baru dalam jumlah besar–mulai dari teknik, manajemen, hingga administrasi–tidak lagi mampu menampung angkatan kerja baru dengan skala yang sama seperti satu dekade lalu.”

Lebih jauh, riset mereka menyoroti bahwa penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur bukan sekadar fenomena siklus ekonomi, melainkan gejala struktural yang berkelanjutan. Banyak perusahaan memindahkan fokus dari ekspansi fisik ke efisiensi teknologi, sementara sebagian lainnya mengalihkan produksi ke negara yang menawarkan biaya operasional lebih rendah. 

Hal ini mempersempit peluang kerja bagi lulusan baru, termasuk lulusan vokasi yang secara tradisional diarahkan ke industri manufaktur. Implikasinya luas, karena penurunan peran manufaktur tidak hanya mengurangi peluang penempatan kerja yang stabil, tetapi juga menimbulkan efek domino bagi pendidikan tinggi. 

Program studi yang selama ini diposisikan untuk memasok tenaga kerja manufaktur harus menghadapi realitas baru bahwa industri yang mereka layani telah menyusut. Sementara kebutuhan kemampuan digital dan teknis di sektor lain tumbuh lebih cepat daripada kemampuan kampus untuk beradaptasi.

Di titik inilah banyak sarjana baru–seperti Febrian—merasa seperti “generasi yang disiapkan untuk pekerjaan yang tidak lagi ada.”

Kemacetan struktural ini juga berdampak pada ekonomi nasional. Banyak riset menyebut bahwa pengangguran lulusan perguruan tinggi terbukti menghambat pertumbuhan ekonomi. Ketika pendidikan tinggi menghasilkan lulusan yang tidak produktif dalam struktur ekonomi, negara kehilangan potensi tenaga kerja berkemampuan tinggi yang seharusnya menjadi pendorong inovasi dan efisiensi.

Namun, beban terberat tetap terasa di tingkat individu. Setiap tahun ribuan anak muda, seperti Febrian, mendaftar kuliah dengan harapan dapat “mengubah nasib”. Mereka mengikuti nasihat orang tua yang tumbuh dengan imajinasi bahwa ijazah adalah simbol keberhasilan. 

Mereka telah menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk menyelesaikan studi empat tahun, hanya untuk menemukan bahwa pekerjaan yang dulu dijanjikan kampus sudah direbut teknologi, dikecilkan perusahaan, atau direorganisasi menjadi pekerjaan teknis yang tidak memerlukan gelar.

Alhasil, generasi muda kini menghadapi paradoks: “semakin tinggi pendidikan mereka, semakin besar risiko mereka merasa tidak relevan.” Sementara ekonomi yang lesu memperkecil jumlah lowongan, mismatch pendidikan memperburuk kemungkinan mereka memasuki pekerjaan yang layak.

Febrian, seperti banyak temannya, kini tak punya jalan lain selain terus mengikuti job fair demi job fair. Siapa tahu, di kesempatan ke 10, atau bahkan 100, ia bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan pendapatan layak.

Ia juga mengaku tidak menyesal kuliah, tetapi mengakui satu pelajaran penting: “Ternyata bukan kuliahnya yang salah, dunia kerjanya yang sudah berubah,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: In This Economy, Kerja Lembur Bagai Kuda Meski Gaji Tak Seberapa dan Tetap Miskin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Desember 2025 oleh

Tags: lulusan sarjanaover educationoverqualifiedPendidikanpendidikan indonesiapilihan redaksiunderutilitized
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

KIP Kuliah.MOJOK.CO
Edumojok

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO
Urban

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO
Sehari-hari

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Pekerja Jakarta merenung di hutan kota GBK.MOJOK.CO

Hutan Kota GBK Tempat Merenung Terbaik Para Pekerja SCBD Jakarta, Obat Stres Termanjur Meski Kadang Kesal dengan Kelakuan Pengunjungnya

18 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.