Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Perantau Surabaya Kaget dengan Perlakuan Tukang Parkir Jogja, Sama-Sama Dibayar Rp2000 tapi Niat Kerja Nggak Kayak Tukang Parkir Surabaya yang Nggak Ngapa-Ngapain Minta Duit

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
19 April 2024
A A
Perantau Surabaya Kaget dengan Perlakuan Tukang Parkir Jogja, Sama-Sama Dibayar Rp2000 tapi Niat Kerja Nggak Kayak Tukang Parkir Surabaya yang Nggak Ngapa-Ngapain Minta Duit MOJOK.CO

Ilustrasi - Perantau Surabaya merasa tukang parkir Surabaya lebih menyebalkan ketimbang tukang parkir Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jogja dan Surabaya menjadi daerah yang sama-sama bermasalah dengan tukang parkir. Kalau tidak dengan parkir liar yang meresahkan ya dengan tarif parkir yang tidak masuk akal. Namun, bagi perantau Surabaya yang ada di Jogja, tukang parkir di Jogja agaknya lebih mending ketimbang tukang parkir di Kota Pahlawan.

***

Iklan

Setelah hampir lima tahun menjadi perantau di Surabaya, Arfi (24) pindah ke Jogja pada 2022 untuk lanjut S2 sambil kerja. Culture shock tentu banyak, termasuk pada persoalan tukang parkir.

Arfi sendiri sebenarnya sudah sangat sering mendengar isu tukang parkir Jogja yang amat menyebalkan. Tapi setelah 2,5 tahun tinggal di Jogja, menurutnya tingkat menyebalkan tukang parkir di Jogja masih lebih mending ketimbang tukang parkir di Surabaya yang pernah ia temui.

Tukang parkir Jogja masih niat kerja

Selama di Jogja, Arfi terbilang sering ke tempat-tempat yang ada tukang parkirnya. Tapi ya memang sih, seperti isu-isu yang beredar, Jogja seolah dipenuhi oleh tukang parkir. Begitu pikir Arfi.

Hanya saja, berbeda dengan kebanyakan orang yang mengeluh saat harus selalu keluar duit karena banyaknya tukang parkir di Jogja, Arfi malah legowo-legowo saja.

“Soalnya tukang parkir di Jogja yang aku temui ya, entah liar atau yang resmi, rata-rata niat kerja,” ujar Arfi kepada Mojok, Kamis, (18/4/2024) sore WIB.

Sebagai contoh saat sedang ngopi di sebuah coffee shop. Setiap hendak keluar, tukang parkir yang ada di lokasi pasti akan bergegas menghampiri Arfi. Tukang parkir itu tanpa diminta lantas membantu Arfi mengeluarkan motornya yang sudah terhimpit motor-motor lain.

Bahkan meskipun posisi motor tak terhimpit pun si tukang parkir di coffee shop Jogja yang pernah Arfi temui tetap membantu agar Arfi tak kerepotan. Hal serupa juga terjadi pada tukang parkir liar Jogja di ATM. Tiap kali keluar dari ATM, tukang parkir yang berjaga langsung gercep membantu Arfi, minimal untuk mengarahkan motornya ke arah jalan yang hendak Arfi tuju.

“Pada dasarnya memang itu jobdesk mereka. Tapi sebagai perantau Surabaya, bagiku servis-servis semacam itu bikin aku agak culture shock,” ucap Arfi.

“Bahwa kadang kala aku sering jengkel iya. Manusiawi. Karena setiap tempat di Jogja kok ya ada tukang parkirnya. Tapi tetep rela aja bayar mereka karena mereka kelihatan kerja kayak yang aku sebutkan tadi,” sambung pemuda asal Aceh tersebut. Mengingat, servis-servis semacam itu tak pernah Arfi temui selama menjadi perantau di Surabaya.

Tukang parkir Surabaya nggak ngapa-ngapain minta dibayar

Pandangan serupa tentang perbedaan tukang parkir Jogja vs tukang parkir Surabaya juga Winar (26) utarakan. Winar sendiri sebenarnya masih menjadi perantau di Surabaya. Hanya saja ia memang masih sering ke Jogja untuk menemui sang kekasih.

Setiap main ke Jogja, jelas Winar akan diajak pacarnya muter-muter. Entah sekadar ngopi-ngopi, kulineran, atau juga melipir ke titik-titik wisata di Jogja. Yang mana kesemuanya, kata Winar, pasti berurusan dengan tukang parkir.

“Tapi salut aja sama tukang parkir Jogja. Misal yang paling membekas di aku adalah kalau di Kafe Basabasi cabang manapun. Tukang parkirnya niat banget. Kalau panas ya motor pengunjung ditutupi biar joknya nggak panas,” beber Winar.

Iklan
Tukang Parkir di Kafe Basabasi Jogja MOJOK.CO
Tukang parkir di Kafe Basabasi Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

“Kalau hujan, bahkan helm pengunjung ditutup kresek biar nggak basah. Padahal bayar cuma Rp2 ribu,” sambung Winar. Selebihnya mungkin sama dengan yang Arfi beberkan sebelumnya.

Baca halaman selanjutnya…

Tukang parkir Surabaya cuma bisa minta uang

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 22 April 2024 oleh

Tags: Jogjakafe basabasikafe basabasi jogjaparkir liar di jogjaparkir liar di surabayaperantau surabayapilihan redaksiSurabayatukang parkir jogjatukang parkir surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konferensi pers menuju lima tahun Cherrypop sebagai lebaran skena MOJOK.CO

Cherrypop 2026: 5 Tahun Lebaran Skena, Jeda, dan Cerita-cerita di Balik Panggung yang Ubah Jalan Hidup Banyak Orang

10 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.