Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Trauma Warga dan Anak-Anak Kampung Kentingan Baru Solo Menyaksikan Tetangga Meninggal karena Ulah Polisi dan Mafia Tanah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 Februari 2025
A A
kentingan baru, solo.MOJOK.CO

Ilustrasi - Trauma Warga dan Anak-Anak Kampung Kentingan Baru Solo Menyaksikan Tetangga Meninggal karena Ulah Polisi dan Mafia Tanah (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kampung Kentingan Baru, Jebres, Solo tiba-tiba diguyur hujan ketika saya sampai di rumah salah seorang warga pada Minggu (16/2/2025). Cipratan air memasuki bilik tempat saya dan warga kampung berbincang. 

Maklum saja, terdapat banyak rongga di bangunan rumah ini. Dinding triplek tak menutup ruangan secara menyeluruh, atap berbahan asbes juga bolong sana-sini. Kami pun mulai merapat ke tengah, mencari posisi duduk yang aman agar tak basah terkena cipratan.

Iklan

“Maaf ya, Mas. Tempatnya seadanya,” kata Jamin, lelaki berusia 70-an tahun yang sudah seperempat abad mendiami Kampung Kentingan Baru. Ia juga sekaligus tokoh yang dihormati di lingkungannya.

“Dulu ini kampung seperti pada umumnya, Mas. Ada masjid, orang usaha, rumah-rumah juga sudah tembokan semua, malah ada yang rumahnya tingkat (dua lantai). Tapi gara-gara mafia tanah, dirobohkan semua,” imbuhnya, dengan nada geram.

kentingan baru, solo.MOJOK.CO
Kondisi rumah warga di Kampung Kentingan Baru, Solo. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Rumah Jamin berada di Blok I Kampung Kentingan Baru, Solo. Lokasinya mepet dengan kompleks Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS)–bahkan tembok pembatasnya pun menjadi satu dengan Fakultas Pertanian. Permukiman ini berisi 10 rumah (15 KK) dengan 50-an penghuni. Semua bangunan di sini ia sebut sebagai “rumah darurat” yang dibikin apa adanya.

“Soalnya kalau mau membangun ulang, nggak ada biayanya, Mas. Toh, kalau kami membangun rumah lagi, khawatir kalau ujung-ujungnya digusur lagi.”

Dua peristiwa yang mengubah wajah Kampung Kentingan Baru

Ada dua momen yang bikin Jamin dan ratusan warga Kampung Kentingan Baru lainnya kehilangan rumah mereka. Momen pertama terjadi pada 16 Desember 2018, saat ratusan polisi, TNI, satpol PP, dan preman, menggusur paksa warga kampung ini. 

Bentrokan tak terhindarkan. Beberapa warga terluka dan sebagian lagi ditangkap oleh polisi. Di akhir penggusuran, ada lima rumah warga yang dirobohkan.

polisi, penggusuran, solo.MOJOK.CO
Polisi merangsek ke permukiman warga Kampung Kentingan Baru, Solo untuk menggsur paksa. (dok. Istimewa/Narasumber)

Setahun berselang, 7 November 2019, aparat gabungan kembali datang. Warga yang sudah kebacut trauma dengan peristiwa sebelumnya, memilih untuk tak melawan karena takut. Kebanyakan dari mereka sudah pindah setelah dengan terpaksa menerima untuk direlokasi.

“Itu jumlah warga sama aparat, malah banyakan aparat,” ungkap Jamin, mengingat kejadian empat tahun silam. “Warga pada digebukin. Saya ketendang di bagian perut, seminggu masih terasa nyerinya.”

Brutalitas aparat gabungan bikin warga yang dibantu mahasiswa terpukul mundur. Alhasil, 200-an rumah di empat blok, termasuk rumah Jamin, tergusur paksa. Bekas lahannya kini hanya dibiarkan kosong. Sementara Jamin bersama 50-an warga lain, mendirikan bangunan darurat di Blok I, tempat kami mengobrol di hari itu.

Laode Edirahman, advokat LBH Jogja yang memberi bantuan hukum pada warga korban penggusuran di Kampung Kentingan Baru, menyebut tindakan brutal yang dilakukan aparat tak bisa dibenarkan. Penggusuran sendiri ia anggap ilegal karena dilakukan tanpa prosedur yang berlaku.

solo.MOJOK.CO
Puing-puing sisa rumah yang digusur di Kampung Kentingan Baru, Solo. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Ia menjelaskan, warga kampung memilih bertahan karena menurut hukum, memang mereka berhak atas tanah tersebut. Penjelasan selengkapnya soal perjuangan warga melalui hukum dapat dibaca dalam liputan “Riwayat Warga Kampung Kentingan Baru Melawan Mafia Tanah Solo, Digusur Paksa Polisi dan Preman”.

Dipaksa tidur bersama tikus, sampai ada warga yang meninggal

Ada kejadian unik ketika saya berkeliling menyusuri puing-puing bekas rumah yang digusur. Saya menjumpai biawak seukuran orang dewasa. Malahan, saya sempat mengira hewan itu buaya, saking besarnya.

Iklan

Ketika saya menceritakan itu kepada Jamin, ia hanya tertawa. Menurutnya, sejak terjadi penggusuran, binatang melata kerap dijumpai. Sebagian malah masuk rumah.

“Biawak sering. Ular juga. Saya 12 kali membunuh ular yang masuk rumah, Mas,” jelas warga Kampung Kentingan Baru ini.

kampung kentingan baru.MOJOK.CO
Jamin menjelaskan, Kampung Kentingan Baru Solo bisa sangat kumuh saat sedang musim hujan. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Peneliti League of Social Studies and Research (LSSR), Aminullah (25), bahkan mengatakan ada beberapa warga yang meninggal setelah penggusuran. 

“Setelah penggusuran, warga kehilangan tempat tinggal. Mereka terpaksa tidur dalam kondisi kakinya digigitin tikus. Sampai ada satu warga meninggal karenanya (digigit tikus), kemungkinan kena penyakit leptospirosis,” jelas lelaki yang sudah mengadvokasi warga sejak 2018 ini kepada Mojok, Minggu (16/2/2025).

Tak cuma itu, ia bersama kolektif mahasiswa UNS yang bersolidaritas ke warga juga mencatat, sedikitnya ada dua warga lain yang meninggal setelah penggusuran. Satu orang karena tertimpa dinding, sementara satu lagi karena serangan jantung.

“Itu yang baru tercatat dan diduga berkaitan dengan situasi pasca penggusuran,” ungkapnya.

Anak-anak Kampung Kentingan Baru trauma dengan polisi

Tak cuma itu, Amin juga menjelaskan banyak anak-anak di Kampung Kentingan Baru mengalami trauma atas tindakan brutalitas aparat. Bagaimana tidak, saat penggusuran paksa terjadi, anak-anak menyaksikan secara langsung peristiwa tersebut.

“Banyak yang takut sama polisi. Ada juga yang menjadi benci dengan polisi,” kata Amin.

Kentingan baru.MOJOK.CO
Anak-anak di Kentingan Baru, Solo, tengah bermain di rumah darurat yang dibangun ulang karena penggusuran. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Penggusuran di Kampung Kentingan Baru juga bikin anak-anak “terisolir” dari pergaulannya. Mereka menjadi terpisah dengan teman bermain lamanya karena orang tuanya direlokasi paksa.

Tempat bermain mereka pun juga hilang. Amin mengatakan, dulu ada lapangan yang menjadi tempat bermain anak-anak. Kini, lapangan tersebut tertimbun bekas-bekas bangunan, ditumbuhi rumput liar, dan dihuni binatang melata sehingga tak aman lagi untuk bermain.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pahitnya Janji Pemerintah kepada Kelompok Tani Kampung Bayam, Usai Dipenjara kini Terpaksa Tinggal di Huntara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2025 oleh

Tags: kampung kentingan barukentingan baru solopenggusuranpilihan redaksiPolisisolo
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co
Eksplor

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO
Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO
Eksplor

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO
Fragmen

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional, MLSC.mojok.co

Perempuan-Perempuan Cilik Merawat Asa Timnas di Tengah Kekosongan Ekosistem Profesional

30 Juni 2026
Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN untuk perkuat ekosistem pariwisata dan perhotelan nasional MOJOK.CO

Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN: Perkuat Ekosistem Pariwisata Indonesia agar Lebih Kompetitif di Tingkat Global

28 Juni 2026
Gen Z Habiskan Gaji untuk Konser K-Pop. MOJOK.CO

Gen Z Habiskan Gaji demi Konser K-Pop: “Balas Dendam” Terbaik untuk Penuhi Inner Child

25 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.