Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Januari 2026
A A
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Ilustrasi - Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sumbangan pernikahan di desa bagi si pemilik hajat, alih-alih meringankan beban seseorang (karena menerima sumbangan), tapi justru menjadi jebakan yang bisa memberi penderitaan berat di masa mendatang. 

***

Saat menggelar pernikahan untuk anak pertamanya, Sasti (40) sebenarnya sudah menolak pemberian sumbangan dari saudaranya. Pasalnya, sumbangan tersebut berupa emas, beras, dan sejumlah uang. Kalau ditotal, kira-kira menyentuh angka Rp8 jutaan. 

Masalahnya, tradisi sumbangan pernikahan di sebuah desa Yati, di Rembang, Jawa Tengah, dihitung sebagai utang yang berarti harus dikembalikan. Kalau saja memang sumbangan cuma-cuma, tentu ibu dua anak itu pasti akan bahagia. 

“Waktu itu saya sudah menolak. Saya terus terang, saya ini pas-pasan. Nggak mungkin nanti bisa mengembalikan kalau saudara saya itu nanti punya hajat,” tutur Sasti saat bercerita dengan saya di awal Januari 2026 lalu. 

“Tapi saudara saya maksa. Bilangnya, halah, itu (mengembalikan) pikir nanti. Yang penting sumbangan yang dia berikan berguna sekarang,” sambungnya nelangsa. 

Benar-benar ditagih saat saudara punya hajatan

Situasi Sasti saat-saat ini sebenarnya dalam kondisi kurang baik. Sang suami yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan lebih banyak di rumah. Curah hujan tinggi, gelombang laut pasang, sehingga tidak ada nelayan yang melaut.

Sementara saudara yang dulu memberi sumbangan pernikahan ke Sasti sudah menagih. “Acara tiga bulan lagi. Aku dulu ngasih kamu ini-ini-ini,” ujar si saudara saat menyerahkan undangan acara ke rumah Sasti. Tidak eksplisit menagih. Tapi kalimat itu sudah jelas: sumbangan ini-ini-ini adalah sumbangan yang harus Sasti kembalikan. 

Sasti marah, tapi juga sedih. Marah karena dulu dia sudah menolak pemberian yang ia sudah bisa menakar tidak akan mampu mengembalikan dengan barang atau nominal yang sama persis. 

Sedih juga karena ia tidak pegang uang lebih sebanyak itu. Pegang uang sedikit pun untuk kebutuhan sehari-hari dengan suami dan anak keduaya. Sementara Sasti tidak mungkin meminta anak pertamanya yang mengembalikan. 

“Di desa saya, sumbangan pernikahan yang diberikan seseorang pas kita punya hajat, nanti kita berkewajiban mengembalikan dengan bentuk atau angka yang sama. Kalau nggak, kita bisa dimusuhi,” ungkap Sasti. 

Sampai hutang ke tetangga di desa demi kembalikan sumbangan pernikahan

Sasti harus bertamu dari rumah satu saudara ke saudara lain. Berniat meminjam uang. 

Namun, para saudara tidak berani memberi. Sebab, mereka juga sama: menyisihkan uang untuk buwuh/buwoh ke saudara yang hendak menggelar hajat pernikahan tersebut. 

Maka, dengan menahan rasa malu, Sasti menuju rumah seorang tetangga yang selama ini dikenal dermawan. 

Iklan

“Alhamdulillah dikasih pinjam uang. Lumayan buat tambahan, sisanya nanti cari utangan lagi. Saya sampai nangis pas pinjam uang itu,” ucap Sasti. Ia merasa terjebak dalam sebuah tradisi busuk di desa yang menjerat dan seperti susah dilepaskan. 

Ngerinya pernikahan di desa, sumbangan semampunya dihina

Cerita lain datang dari Amad (34), dari desa tetangga Sasti di Rembang. Menurutnya, lingkaran setan jeratan sumbangan pernikahan di desa Amad bermula dari situasi seperti ini: kalau nyumbang itu harus gede-gedean. Hanya urusan gengsi. Pengin terlihat siapa paling berkontribusi. 

Masalahnya, para penyumbang–dengan cara pikir semacam itu–tidak cukup memuaskan ego. Tapi juga sebagai sarana investasi: kalau sekarang nyumbang besar dan jur-juran, nanti pas ia menggelar acara giliran akan panen pengembalian.

“Di desa saya itu sampai ada pemandangan begini, misalnya saya mengembalikan sumbangan pernikahan yang pernah saya terima, tapi bentuk atau nominalnya tidak sepadan, itu pemberian saya bisa dibuang, loh. Dianggap tidak tahu diri dan tidak niat memberi sumbangan,” beber Amad. 

Bahkan, jika ada orang menyumbang sekadarnya/semampunya, mungkin akan diterima. Tapi di ruang belakang rumah si pemilik hajat yang dipenuhi perewang, kata Amad, pemberian yang semampunya bisa dihina habis-habisan. 

“Dicap pelit, kere, sampai ada kalimat, “Ngasih kok barang ora nggadek (Nggak berharga).” Hanya karena nyumbangnya nyumbang beras murah misalnya,” tutur Amad. 

Padahal si penyumbang memang sedang benar-benar dalam masa sulit. Bisa jadi kebutuhan harian sedang banyak, sementara pemasukan sedang seret. Sehingga mampu menyumbang sesuai yang dimiliki. 

Ingin mengembalikan arti “menyumbang”, tapi terbentur cap ora njawani

Bagi Amad, rasa-rasanya tidak butuh gelar “sarjana” untuk memahami bahwa ada yang keliru dari konsep sumbangan pernikahan–dan sumbangan-sumbangan hajatan lain–di desa. 

Amad dulu memang hanya lulusan SMK. Namun, itu cukup untuk memahami bahwa kata “sumbangan” artinya ya “memberi dengan sukarela”. Sumbangan berbeda sama sekali dengan utang. 

Artinya, bagi si penyumbang, seharusnya tidak menaruh ekspektasi suatu saat bakal dikembalikan. Apalagi jika berharap dikembalikan dalam jumlah sama besar. 

Sementara bagi yang disumbang, harusnya kemudian tidak dibebani dengan bayang-bayang suatu saat harus mengembalikan, sekaligus terbelenggu kekhawatiran kalau pengembaliannya tidak serupa bakal dihina-hina. 

Bahkan seharusnya, tidak mengembalikan pun tidak patut dipermasalahkan. Wong akad awalnya kan menerima sumbangan. Bukan utang. 

“Minimal saya coba praktikkan di lingkungan terdekat. Saudara dan tetangga. Saya coba bilang kalau salah paham soal sumbangan ini harus diluruskan,” kata Amad. 

“Apa caranya nggak coba pelan-pelan, Lik?” Tanya saya. 

“Sudah nggak bisa, Ly. Ini sudah mengakar kuat. Kalau mau dicerabut, ya harus okol, harus terang-terangan ditolak model seperti itu,” jawabnya. 

Sebenarnya beberapa orang mengamini apa kata Amad. Akan tetapi, rata-rata orang merasa model begitu sudah terlanjur terbentuk. Seolah melekat sebagai identitas “Jawa”. Alhasil, jika tidak mengikuti tradisi yang sudah berjalan, akan terbentur cap “ora njawani”. 

Sambatan bapak-bapak yang mengiris hati

Ada bulan-bulan ketika acara pernikahan terbilang banter dan rapat di desa. Misalnya menjelang Muharram atau saat Syawal. 

Di momen-momen seperti itu, Amad menangkap banyak sekali sambatan bapak-bapak desa. Mereka hanya bisa memegangi kepala lebih lama, memikirkan cari duit dari mana untuk mengembalikan sumbangan pernikahan yang pernah diterima. 

“Bayangkan ada yang harus mengembalikan dengan nominal Rp10 juta. Bagi bapak-bapak desa yang kerjanya nguli, nelayan, atau serabutan, itu angka yang besar. Paling mentok harus ngutang,” tutup Amad. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2026 oleh

Tags: Desapernikahanpernikahan di desasumbangan pernikahansumbangan pernikahan di desatradisi pernikahan di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO
Edumojok

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.