Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sisi Lain Rajin Tilik (Menjenguk Orang), Menanam Investasi di Balik Tradisi dan Rasa Peduli

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 November 2025
A A
Tilik atau menjenguk orang sakit, agar tak kesepian kala kesusahan MOJOK.CO

Ilustrasi - Tilik atau menjenguk orang sakit, agar tak kesepian kala kesusahan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook
  • Tilik atau menjenguk orang menjadi tradisi khas masyarakat pedesaan yang terus tumbuh lestari hingga saat ini.
  • Tilik kerap diasosiasikan dengan stigma negatif ibu-ibu gosip.
  • Dimensi tilik ternyata lebih luas dari sekadar urusan “tradisi”. Tapi juga mencakup sisi emosional dan ketakutan perihal imbal balik di hari depan.

***

Nyaris setiap hari dan setiap jam ada rombongan orang berdatangan di rumah sakit. Bukun untuk berobat, tapi untuk keperluan tilik: Menjenguk keluarga atau tetangga yang tengah dirawat.

Iklan

Pemandangan itu saya saksikan ketika menginap di RSUD Dr Soetrasno Rembang pertengahan bulan lalu, saat adik saya harus rawat inap usai insiden di sekolah.

Tangan kirinya retak usai terjatuh dalam sesi lompat jauh (mata pelajaran Penjaskes). Tangannya harus dioperasi sekaligus harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari.

Tilik: ketakutan menghadapi kesepian

Di sebuah gazebo di area dalam rumah sakit, saya bertemu dengan seorang ibu-ibu. Ia duduk melamun.

“Tadi habis tilik tetangga, anaknya kecelakaan motor,” ucapnya saat tanya.

“Tadi rombongan pakai contang (mobil pick up). Yang lain ada di dalam, karena berjejalan saya keluar dulu,” sambungnya.

Memang, tilik atau menjenguk orang sudah menjadi tradisi yang mengakar di desa ibu-ibu itu. Rasanya kurang pas saja jika tidak ikut, karena tilik juga menunjukkan seberapa seseorang bisa hidup srawung/bermasyarakat.

Namun, ada celetukan dari si ibu yang kemudian mengena betul di hati saya. “Saya kalau tilik-tilik begini merasa harus ikut, Mas. Supaya nanti kalau saya sakit, orang-orang menjenguk saya. Peduli sama saya. Saya takut sakit dalam keadaan sendirian dan diabaikan,” katanya.

Ah, saya teringat kata almarhum Cak Rusdi Mathari ketika ia dalam sakitnya: “Jangan pernah sakit. Tetap lah sehat dan bahagia. Karena sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.”

Tilik dan kesadarn resiprositas

Karena menjadi tradisi turun-temurun, lambat laun masyarakat menyadari bahwa tilik atau menjenguk orang lain memuat nilai resiprositas. Begitu kata Radius Setiyawan, Sosiolog dan Dosen Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya).

Kesan miring sempat tersemat pada tilik usai viralnya film “Tilik” (Bu Tedjo) pada masa pendemi Covid-19 lalu. Sebab, dalam perjalanan menjenguk orang lain, sekumpulan ibu-ibu tampak “ceriwis” dalam mengomentari hidup orang lain.

“Namun, masyarakat hari ini melihat tilik sebagai investasi moral dan sosial, dengan adanya timbal balik perhatian dan empati di masa depan,” jelas Radius.

“Seseorang membangun dan mempertahankan jaringan sosial yang kelak bisa dimobilisasi saat dibutuhkan, baik dalam bentuk bantuan, perhatian, atau dukungan emosional,” sambungnya.

Kesadaran menanti balas budi

Nilai resiprositas dulu dan sekarang memang sudah bergeser. Dulu orang tilik setidaknya berlandas pada dua hal: Satu, karena faktor tradisi. Dua, karena kebutuhan eksistensi diri (Kebutuhan untuk dianggap bermasyarakat dengan baik).

Sekali pun memang ada sebagian masyarakat yang tilik dengan landasan benar-benar peduli.

Namun, kini sebagian masyarakat desa—seperti ibu-ibu yang saya temui di rumah sakit itu—sudah sadar bahwa ada nilai investasi di dalam tradisi tersebut. Sebagaimana lazimnya investasi, terselip motif bisa “memanen” hasilnya di masa mendatang.

Muhammad Rijal Setiawan dan Ariel Suderajat dalam “Motif Budaya Reprositas Masyarakat Pedesaan dalam Kehidupan Sosial” menyebut, ada in order to motive ketika seseorang dengan sadar memberikan sesuatu pada orang lain—misalnya tilik. Di antaranya adalah seseorang sadar bahwa kelak ia akan menerima balasannya.

Iklan

“Tujuan resiprositas yang terjadi tidak terlepas dari pemberian yang telah dilakukan individu lain. Ada rasa malu jika tidak membalas pemberian yang telah diberikan. Rasa Malu tersebut menjadi pendorong individu mengembalikan pemberian. Namun, pemberian yang diberikan tidak langsung,” tulis jurnal tersebut.

Kesadaran itu (malu jika tidak membalas budi), dalam konteks si ibu-ibu tadi, “dimanfaatkan” sebagai ladang investasi sosial: Sekarang saya tilik kamu, maka kelak kamu pasti nggak enak kalau nggak tilik saya. Sekarang saya peduli saat kamu kesusahan, semoga kelak kamu tak biarkan saya sendirian kala kesusahan. 

Kepotangan: naluri hidup orang Jawa

Hidup di pedesaan—apalagi di Jawa—rasa-rasanya tidak akan sulit menerima imbal balik dari orang lain. Sebab, merujuk buku “Gusti Ora Sare” oleh Pardi Suratno dan Henniy Astiyanto, ada nilai luhur yang sudah lama mengendap di jagat naluriah masyarakat Jawa: Nandur kabecikan, males kabecikan (Menanam kebaikan, membalas budi).

Dalam jurnal “Nilai-Nilai Kepriyayian Jawa dalam Novel-Novel Para Priyayi, Canting, dan Gadis Tangsi: Kajian Budaya, Ideologi dan Sosiopragmatika”, naluri orang Jawa memang sudah disetel dengan konsep “kepotangan”. Yakni kesadaran bahwa seseorang harus membalas budi baik orang lain. Baik dalam bentuk seruapa atau yang lain.

“Kepotangan budi kepada seseorang (dianggap) sebagai salah satu sifat luhur manusia. Karena dengan balas budi, seseorang akan merasa dirinya lemah tanpa bantuan orang lai […],” tulis jurnal tersebut. Ada ketergantungan antar-manusia di sana. Ada kesadaran bahwa seseorang akan selalu butuh bantuan orang lain, dan oleh karena itu akan membantu dan membalas kebaikan orang lain.

Apakah itu salah? Silakan nilai sendiri. Tapi saya memahami ketakutan ibu-ibu tadi. Betapa sepi-sendiri itu tidak enak sama sekali.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cara Menjadi Jawa Seutuhnya dengan Mengilhami Bahasa, Tanpa Mencampurnya Jadi “Jawindo” dan Bahasa Slang ala Gen Z atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 7 November 2025 oleh

Tags: menjenguk orang sakitsejarah tiliktiliktradisi di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

4 tradisi hajatan di Rembang (bancaan) yang terdengar asing bagi orang daerah lain MOJOK.CO

4 Tradisi Hajatan di Rembang yang Bikin Heran Orang Daerah Lain: Terkesan Ada-ada Saja, Terlalu Detail ke Banyak Urusan

27 Agustus 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
tilik

“Tilik” Adalah Film yang Biasa Saja dan Justru Karena Itu Orang-Orang Menyukainya

21 Agustus 2020
tilik

5 Panduan Ghibah Bu Tejo di Film ‘Tilik’ bagi Netizen Sejagat

19 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Motor Honda Verza tua itu 12 tahun menemani saya mengejar rezeki MOJOK.CO

Jok motor Honda Verza tua itu sudah sobek, tangki penyok, spion patah diserempet truk, tapi menolak pensiun menemani saya 12 tahun mengejar rezeki menembus pegunungan Banjarnegara

27 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.