Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Lulusan D3 Selalu Diremehkan di Dunia Kerja, Didiskriminasi Sampai Ditolak Perusahaan 100 Kali

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
7 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perusahaan hanya melirik pelamar yang berpengalaman

Kedua, lulusan D3 itu menilai perusahaan saat ini meminta kualifikasi yang lebih tinggi alias tidak mau menerima pemula. Mereka memilih karyawan yang sudah berpengalaman, siap kerja, dan tidak mau mengajari dari awal. Padahal bisa jadi anak itu mau belajar dengan cepat, bisa dipercaya, dan memiliki kemampuan mumpuni jika diasah.

Pengamat ketenagakerjaan Tadjudin Nur Effendi mengatakan hal serupa. Dosen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu berujar calon pelamar sering kali kebingungan karena syarat pengalaman kerja dari perekrut. Namun, ia menjelaskan pengalaman itu bisa diartikan sebagai standar dari perusahaan untuk melihat kompetensi calon pelamar.

Oleh karena itu, pengalaman semestinya bisa didapat dari pelatihan atau sertifikasi yang mereka capai. Sertifikasi itu menunjukkan bahwa pelamar sudah mempunyai kompetensi yang dicari oleh perusahaan. 

“Kalau bisa ditambah pengalaman tambah oke,” ucap lulusan D3 jurusan kesehatan itu kepada Mojok, Minggu, (6/10/2024).

Lapangan kerja tak mengakomodasi keterampilan para pelamar Lulusan D3

Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan alias Kemnaker mengungkap faktor tingginya angka kemiskinan di kalangan generasi Z. Salah satunya karena ketidakcocokan antara keterampilan yang dimiliki lulusan D3 maupun S1 dengan kebutuhan industri pasar tenaga kerja. 

Fia pun menyadari hal itu. Ia sendiri kerap melamar pekerjaan yang tak sesuai dengan jurusan pendidikannya. Salah satunya dengan melamar menjadi seorang content creator. Bukan tanpa persiapan, di sela-sela mengirim lamaran dan panggilan untuk interview dia aktif mengikuti kelas-kelas pelatihan secara daring. 

Perjuangan itu membuahkan hasil, sebab akhirnya dia diterima menjadi karyawan kontrak di suatu perusahaan laboratorium medis dan klinik di Surabaya sebagai content creator. Mirisnya, ia hanya digaji Rp 500 ribu per bulan. Jauh dari UMR kota pahlawan. 

Sebetulnya ia sempat kaget. Ia menduga keputusan upah tersebut ada hubungannya dengan gelar dan jurusan pendidikannya. Setahu dia, memang ada perusahaan yang menggaji karyawannya dari segi tingkat pendidikan. Meskipun tugas dan keahlian mereka sama.

Meski begitu, lulusan D3 itu berhasil bertahan selama sembilan bulan. “Aku merasa nyaman karena rekan kerjaku selalu mendukung, tapi perusahaan tidak memberiku kepastian tentang jenjang karierku. Sementara, temanku sudah ada yang menjadi karyawan tetap. Padahal kami masuk bersama. Mereka juga tidak menjelaskan. Akhirnya aku memutuskan resign,” tutur Fia.

Upaya pemerintah belum maksimal

Pemerintah mengklaim sudah melakukan upaya mengatasi tingginya angka pengangguran, dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi. Di mana, aturan itu mewajibkan pendidikan dan pelatihan bagi pekerja untuk menyesuaikan kebutuhan di dunia usaha dan industri.

Fia menganggap aturan itu masih belum linier untuk menjawab permasalahan di masyarakat. 

“Di masa aku kuliah, pemerintah sedang gembar-gembor membuka peluang lebih besar bagi jurusan vokasi, tapi di saat yang sama perusahaan belum mau menerima anak D3,” kata dia. 

Menurut Tadjudin, kini semakin banyak perusahaan yang tak memberikan pelatihan bagi pekerja. Kecuali, perusahaan khusus seperti Bank yang memberi pelatihan kepada fresh graduate selama beberapa bulan. 

“Perusahaan tertentu pasti enggak mau, karena biayanya tinggi. Mereka ingin karyawan yang langsung segera kerja,” kata dia.

Iklan

Tadjudin berharap pemerintah bisa mendirikan pusat pelatihan kerja sesuai dengan pekerjaan yang diminati di era sekarang. Ia melihat banyak generasi Z yang lebih minat bekerja secara fleksibel atau remote. Pekerjaan itu seperti pembuat konten, desainer grafis, animator, dan sebagainya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Beratnya Cari Kerja di Jakarta: 250 Lamaran Ditolak

Ikuti artikel dan berita MOJOK lainnya di Google News 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2024 oleh

Tags: d3Gen Zkemenakerlapangan kerjamahasiswa d3unair
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO
Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO
Urban

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jarak Lebar Narasi Optimisme Pemerintah dengan Kondisi Riil Masyarakat: Katanya Ekonomi Baik-baik Saja, Padahal Sebaliknya

20 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.