Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kelakuan Pelaku Kuliner di Tempat Wisata Jogja yang Bikin Kapok Para Pembeli, Belatung dalam Sate Sering Kejadian

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Juli 2024
A A
Kelakuan Pelaku Kuliner di Tempat Wisata Jogja yang Bikin Kapok Para Pembeli, Belatung dalam Sate Sering Kejadian.MOJOK.CO

Ilustrasi Kelakuan Pelaku Kuliner di Tempat Wisata Jogja yang Bikin Kapok Para Pembeli, Belatung dalam Sate Sering Kejadian (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa tahun ke belakang, kuliner di tempat wisata Jogja tengah disorot. Alasannya, banyak pedagang yang dianggap mematok harga sangat tinggi alias nuthuk untuk makanan yang biasa-biasa saja.

Retno (25), salah satu wisatawan yang berkunjung ke Jogja pada akhir Januari 2024 lalu, adalah salah satunya. Guru salah satu SD di Wonogiri ini bercerita, pengalaman tak mengenakkan itu terjadi di sekitaran Tugu Jogja.

Iklan

“Itu pertama kali aku wisata kuliner di Jogja, soalnya tiap ke Jogja paling jalan-jalan aja atau belanja outfit,” katanya, bercerita kepada Mojok, Selasa (9/7/2024).

“Tapi karena aku bawa keluarga, rasanya pengen sekali-sekali nyobain makan deket-deket Malioboro atau Tugu,” sambungnya.

Niat hati ingin menyenangkan keluarga, malah rasa kesal yang dia dapat. Retno bercerita, ia harus menunggu hampir dua jam untuk pesanannya siap.

Sudah dibikin dongkol karena menunggu lama, kekesalannya pun ditambah karena penjual malah melayani pembeli yang baru datang. 

Saat pesanan datang pun, menurutnya, rasa makanannya hambar. Ia pikir hanya dia yang merasakan, ternyata yang lain juga sama.

“Nunggu lama, makanan hambar, pas bayar masa satu orang habis hampir 50 ribuan. Gila banget padahal kita makan 6 orang, tinggal dikalikan aja,” jelasnya.

“Kalau enak dan pelayanan oke, harga mahal masih worth it. Lah, ini enggak.”

Pengalaman makan sate penuh belatung

Pengalaman tak mengenakkan soal kuliner di tempat wisata Jogja juga pernah dialami Fransiska (25). Sekitar tahun 2018, perempuan asal Klaten ini merupakan mahasiswa baru di Jogja. Kendati jarak rumahnya ke Jogja hanya 2 jam perjalanan, ia mengaku jarang liburan ke sini. Kalau ingin jalan-jalan atau nge-mall, ia dan teman-temannya memilih pergi ke Solo.

Mengingat itu adalah kali pertama dia menetap di Jogja, sama seperti teman-temannya yang lain, belum lengkap rasanya kalau belum jalan-jalan ke Malioboro.

Sebelum jalan-jalan, teman-temannya sudah memperingatkannya untuk tidak makan di tempat wisata itu karena harganya pasti mahal. Kalaupun jajan, usahakan tawar menawar pakai bahasa Jawa, karena “katanya” bakal dikasih harga murah.

“Itu udah jadi rahasia umum, sih. Katanya kalau beli tapi kita ngomong pakai bahasa Indonesia, dikasihnya lebih mahal,” jelasnya, Selasa (9/7/2024).

Sayangnya, pengalaman pahitnya hari itu tidak bersinggungan dengan masalah harga, tapi soal kebersihan makanan. Fransiska, pada sore itu, memutuskan untuk membeli seporsi sate ayam seharga Rp20 ribu.

Iklan

Terdengar mahal memang. Namun, harga segitu untuk seporsi berisi delapan tusuk sate, lontong, di tempat wisata pula, sepertinya sudah jadi harga yang wajar.

“Tapi ternyata satenya ada belatung, ada yang gerak-gerak ada juga yang nggak gerak. Ngumpul di sambelnya gitu, dan ada juga di ayam-ayamnya,” Fransiska mengingat kejadian tersebut sambil mengekspresikan rasa mual.

Masalahnya, itu baru ia sadari setelah memakan beberapa tusuk sate. Fransiska juga tak peduli apakah belatungnya sudah mati atau belum, karena yang namanya uget-uget ya tetap menjijikkan.

“Sejak saat itu aku kapok makan di Malioboro,” tegasnya, mengaku kapok dengan kuliner di Jogja. “Aku nggak mau nyebut kalau pedagang di sana kayak gitu semua. Aku percaya itu hanya oknum. Tapi, ya, namanya trauma, sampai sekarang aku tetap takut makan di sana.”

Pedagang berniat amanah, malah dijauhi pedagang lain

Fransiska percaya di tempat-tempat wisata Jogja masih banyak pedagang yang amanah. Selain pasang harga sewajarnya, yang mereka juga aware soal kebersihannya. Kasus belatung dalam sate yang ia alami, menurutnya, “memang lagi apes aja”.

Pada Kamis (11/7/2024), saya menyusuri tempat-tempat para narasumber pernah mengalami kejadian tak mengenakkan soal kuliner Jogja. Khususnya, di sekitaran Tugu, Malioboro, sampai ke selatan ke arah Alun-Alun Utara dan Tamansari. Tujuan saya, salah satunya, sekadar ingin membuktikan klaim Fransiska kalau sate penuh belatung tadi memang lagi apes aja.

Kebetulan, di sekitaran Tugu, saya bertemu Marni*, seorang pedagang sate yang sudah 20 tahun lebih berjualan di Malioboro dan sekitarnya. Sambil memesan seporsi sate seharga Rp20 ribu, saya menembak pertanyaan sensitif kepadanya, “pernah nggak mendengar kasus sate yang penuh belatung di Malioboro”. 

Awalnya, Marni terdiam sebentar. Dan, di luar dugaan saya, ia dengan sabar menjawab: “Dulu sering, Mas, yang kayak begitu”, katanya.

 “Sate kan daging yo, Mas, barang basah, cepat basi kalau nggak habis. Beda sama jajanan kering lain. Kalau sisa jualan hari ini dijual lagi besok, tentu bakal ada yang basi, Mas.”

Soal komplain sate dengan ayam basi, ternyata saya bukan orang pertama yang menanyakan kepadanya. Menurut Marni, hal yang dialami Fransiska tadi memang sudah kerap terjadi.

Marni bahkan pernah mengobrolkan hal ini dengan teman seprofesinya. Tapi mereka malah tersinggung dan menjauhinya.

“Saya tahu, Mas, mereka ini sangat nggak mungkin kan naruh belatung dengan sengaja di dagangannya. Tapi ya itu bisa dihindari, kalau ayamnya sudah nggak fresh ya jangan nekat dijual lagi,” ujarnya, menjelaskan.

“Kalau saya fresh kok, Mas. Kalau hari ini nggak habis ya malamnya diolah jadi makanan lain biar kemakan,” imbuhnya, sambil sibuk mengipas-ngipas daging di atas arangnya.

Kuliner di Jogja mahal itu sudah menjadi kesepakatan bersama

Soal harga nuthuk, Marni juga menjelaskan kalau itu sudah kesepakatan bersama. Di tempat-tempat wisata, seperti Tugu dan Malioboro, tiap pedagang punya paguyubannya sendiri. Di paguyuban itulah mereka menyepakati harga produk yang dijual.

“Jadi kalau disepakati 20 ribu, ya harus segitu, Mas. Kalau kita ngasih lebih murah, ngebunuh pasar. Kasihan pedagang yang lain,” jelas pelaku kuliner Jogja ini.

Selain itu, ternyata sewa lapak di tempat wisata Jogja memang mahal. Saya jadi teringat obrolan saya dengan Rusli, eks pegawai kuliner lesehan di Malioboro 2021 silam. Menurut cerita Rusli, untuk menyewa lapak seluas 3×4 meter, bosnya kudu membayar Rp40 jutaan per tahun.

Maka, untuk mendapatkan untung, ya, memasang tarif mahal pada makanan adalah jalan ninjanya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Keteledoran Para Penjual Angkringan yang Berujung Trauma Banyak Pelanggan, Ada Kecoak dan Telur Lalat di Baceman

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2024 oleh

Tags: Jogjakuliner di jogjaKuliner Jogjasatesate di jogjasisi gelap jogjawisata di jogjawisata jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta MOJOK.CO

KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.