Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pulang dari Perantauan: Dulu Habiskan Waktu Nongkrong bareng Teman, Kini Menghindar dan Lebih Banyak di Rumah karena Takut Menyesal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Desember 2025
A A
Makin ke sini pulang merantau dari perantauan makin tak ada ada waktu buat nongkrong. Karena rumah terasa amat sentimentil MOJOK.CO

Ilustrasi - Makin ke sini pulang merantau dari perantauan makin tak ada ada waktu buat nongkrong. Karena rumah terasa amat sentimentil. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dulu di awal-awal merantau, pulang dari perantauan bisa jadi momen untuk nongkrong lagi dengan teman-teman lama. Namun, makin ke sini, justru secara sengaja tak menyediakan waktu itu. Keadaan sudah berubah. Pulang ke rumah seiring waktu sering kali menjadi momen sentimentil dan bikin nyesek bagi beberapa orang.

Pulang dari perantauan, nyesek lihat wajah ibu hanya sebantar

Sesingkat apa pun waktu kepulangan ke kampung halaman, saya biasanya akan menyempatkan bertemu dengan teman-teman lama. Entah teman masa kecil, teman nyantri dan SMA, hingga teman seperjuangan dalam urusan pekerjaan. Semata agar hubungan yang sudah terikat sejak lama tetap terjaga.

Terutama di masa-masa masih merantau untuk kuliah (2017-2021). Kendati pulang, waktu saya di rumah—kumpul keluarga—tidak lebih banyak dari aktivitas saya di luar. Pagi keluar, siang pulang untuk tidur sampai sore, habis Magrib keluar lagi sampai tengah malam.

Tak jarang ibu mengeluh ketika tiba-tiba saya hendak balik ke perantauan, “Ibu belum puas melihat wajahmu di rumah kok kamu sudah tiba-tiba balik saja.”

Dulu kalimat ibu itu tak begitu mengganggu suasana batin saya. Akan tetapi, makin ke sini, karena saya masih merantau untuk bekerja, saya baru merasakan betapa tidak enaknya suasana batin saya tiap pulang hanya sebentar.

Saya akhirnya merasakan apa yang ibu rasakan. “Perasaan baru sebentar, belum puas kumpul bareng ibu, adik, dan keluarga. Tapi tiba-tiba kok saya sudah harus balik ke perantauan lagi.” Nyesek sekali. Tak jarang saat di atas kendaraan saya menangis sesenggukan.

Itu pula yang mendasari saya kenapa kemudian mengurangi jatah nongkrong dengan teman-teman. Saya sisakan lebih banyak waktu di rumah. Saya puas-puaskan kumpul dan menatap wajah ibu.

Sengaja tak terlihat pulang biar tak ada ajakan nongkrong

Hal serupa juga dirasakan oleh Fatihin (26), pemuda asal Jawa Tengah yang sejak kuliah pada 2017 hingga sekarang bekerja merantau di Malang, Jawa Timur.

Dulu, pulang kampung bagi Fatihin berarti akan bertemu dengan teman-teman lama. Sebanyak apa pun teman baru di perantauan, teman-teman lama tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya. Meski di rumah, amat jarang ia berdiam di rumah. Pasti ada saja ajakan nongkrong.

“Sekarang bapak sakit-sakitan. Ibu juga sudah tua. Kalau pulang, rasanya keliru saja kalau saya masih sering nongkrong di luar ketimbang menemani mereka di rumah,” ujar Fatihin, Kamis (11/12/2025).

Dulu, setiap pulang dari perantauan, Fatihin pasti akan mengabari satu persatu temannya di kampung. “Info ngopi!” Lalu selama ia masih di rumah, ajakan untuk keluar rumah nyaris tak pernah berhenti.

Makin ke sini, Fatihin malah sengaja tak mengabari teman-temannya kalau ia pulang. Semata agar tidak ada yang tahu kalau ia di rumah, sehingga ia bisa menikmati waktu bareng orang tuanya.

“Kalau teman ngajak ngopi, aku nggak bisa nolak. Jadi mending nggak kukabari. Tapi kalau nggak ngabari dan “ketahuan” kalau aku di rumah, ya aku paling bisa ngopinya hanya sebentar,” ujarnya.

Terima risiko dianggap berubah gara-gara terlalu lama di perantauan

Gara-gara itu, tak jarang beberapa teman menganggap Fatihin sudah berubah: Dulu lhas lhos kalau diajak, sekarang susah minta ampun. Pulang saja pakai sembunyi-sembunyi.

Iklan

Ada yang mengucapkan begitu di hadapan Fatihin langsung. Hanya saja dengan nada bercanda. Akan tetapi ada juga yang serius menganggap Fatihin sudah berubah: Ngomongin Fatihin di belakang, menganggapnya jadi sombong gara-gara sudah terlalu lama merantau dan makin terpapar budaya kota.

“Sudah nggak level dia nongkrong sama anak kampung. Sekarang dia jadi anak kota.” Kata Fatihin, percaya lah, ada loh teman yang menggunjingkan Fatihin demikian.

Fatihin tak bisa banyak memberi penjelasan. Sebab, kebanyakan teman-temannya bukan perantau sepertinya. Sehingga, apa pun penjelasan Fatihin, bisa saja ditangkap sebagai sekadar alasan yang dibuat-buat.

“Tapi aku terima risiko itu. Yang penting aku nggak ada masalah dengan mereka. Aku masih berteman. Hanya saja, intensitas nongkrongku memang sudah nggak bisa seperti dulu,” kata Fatihin.

“Aku memang berubah. Aku di usia 20 tahun tentu beda dengan aku yang sekarang sudah bertambah enam tahun. Prioritas sudah beda. Sekarang, prioritasku tiap pulang adalah menebus waktuku yang hilang bersama keluarga,” sambungnya.

Tujuan pulang adalah rumah dan orang tua, bukan reuni sekolah dan kampung halaman

Begitu pula dengan Delinda (23), perempuan asal Lasem, Jawa Tengah yang merantau untuk kuliah di Jogja.

Setiap libur semesteran, grup SMA-nya dulu pasti akan riuh oleh info-info reunian. Renui angkatan ada, reuni kelas ada, bahkan reuni circle pertemanan semasa sekolah pun diada-adakan.

Delinda mengaku lebih sering absen. Mentok-mentok, kalau sengaja meluangkan waktu, ia hanya akan ikut reuni circle pertemanan—karena anak-anak di dalamnya adalah teman-teman terdekat di masa sekolah dulu.

“Di perantauan aku sering nangis-nangis sendiri karena kangen orang tua. Kangen masakan ibu, kangen sama bapak. Pas ada kesempatan pulang, ya agak mikir kalau aku harus sering-sering keluar rumah. Mending nebus kangen,” ucap Delinda.

Bagi Delinda, reuni dan kampung halaman sebenarnya tidak pernah menarik. Satu-satunya hal yang membuat ia begitu semangat pulang adalah karena bisa bertemu orang tua.

Menyaksikan banyak penyesalan kala orang tua sudah tiada

Saya, Fatihin, dan Delinda ternyata punya kesamaan: Orang-orang merantau yang tidak ingin merasakan penyesalan sebagaimana yang banyak kami saksikan.

Kami menyaksikan sendiri, betapa banyak perantau yang saking sibuknya di perantauan, amat jarang bisa pulang barang sebentar. Tak menyadari kalau waktu terus berjalan, mengikis usia dan raga orang tua masing-masing.

Sehingga ketika orang tua tiada, yang tersisa adalah penyesalan dan rasa bersalah. Penyesalan karena tak cukup waktu untuk melihat wajah orang tua. Rasa bersalah karena terlalu lama meninggalkan mereka dan tak kunjung punya waktu untuk menemani.

Saya pernah tidak sepakat dengan seorang teman perihal ini. Di tahun-tahun belakangan, saya mewajibkan diri saya untuk selalu pulang sebulan sekali. Paling maksimal ya dua bulan sekali.

Teman saya sangsi. Katanya, terlalu sering pulang bisa nguras gaji buat ongkos. Itu lah kenapa ia memilih pulang setiap ada situasi penting atau darurat saja.

Masalahnya, jika situasi penting atau darurat itu adalah kepergian orang yang disayang? Masa untuk pulang harus menunggu duka terlebih dulu? Lantas kapan kita menikmati tawa dan bahagia bersama orang tersayang di rumah? Sekali pun hanya sebentar saja waktunya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sibuk Skripsian sampai Abaikan Telpon Ibu dan Jarang Pulang, Berujung Sesal Ketika Ibu Meninggal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 12 Desember 2025 oleh

Tags: merantauperantauperantauanpulangrumah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Tukang pijat.MOJOK.CO

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

24 April 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.