Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pondok Aren, Kecamatan di Tangerang Selatan yang Anak Mudanya “Dipaksa” Kerja Seperti Orang Jaksel tapi Digaji UMR Banten

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 April 2025
A A
Kecamatan Pamulang Tangerang Selatan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Pamulang, Kecamatan Terpadat di Tangerang Selatan yang Tak Ramah Pekerja, Gaji Perantau Habis buat Hidupi Preman (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kerja “nyaris ready 24 jam”, gaji cuma Rp3 juta sebulan

Berawal dari informasi Gani, Mojok terhubung dengan Vita* (25), seorang perantau asal Jawa Barat yang sudah setahun ke belakang ini kerja di Pondok Aren. Ia bekerja sebagai customer service sebuah toko daring yang berkantor di Pondok Aren.

Awalnya, Vita menerima pekerjaan di sana mengingat UMR di Tangerang Selatan yang memang cuma beda tipis dengan Jakarta. Per 2024 lalu, saat ia pertama bekerja, angkanya menyentuh Rp4,6 juta.

Iklan

“Sementara aku kemarin di Semarang, kerja di bidang kerja yang sama, gaji Rp3,5 juta,” ungkapnya kepada Mojok, Senin (21/4/2025).

Sialnya, yang Vita tak duga, beban kerjanya ternyata juga bertambah. Jika di Semarang ia bekerja sesuai shift (8 jam per hari), hal itu tak berlaku saat dia bekerja di Pondok Aren.

“Aku udah kaya kerja udah 24 jam. Secara teknis memang 10 jam per hari, tapi di luar itu tetap wajib merespons customer, client, dan lain-lain,” paparnya.

Sialnya lagi, gaji yang ia terima tak sesuai ekspektasi. Ia hanya digaji Rp3 juta sebulan–lebih sedikit dari yang diterima sebelumnya. Gaji ini jauh berada di bawah UMR Tangsel per 2025 ini: Rp4,9 juta. Kalau mau dibandingkan, gaji Rp3 juta setara dengan UMR Banten yang sebesar Rp2,9 juta.

“Udah begitu tuntutannya banyak banget. Kayak kita itu dituntut buat bisa segalanya. Ya bikin proposal mandiri, nawarin project, sampai nge-live TikTok.”

Iri dengan teman-temannya di Jaksel

Vita pun mengaku iri dengan kawan-kawannya yang bekerja di Jakarta Selatan. Pasalnya, memang mereka nyaris bekerja dengan ritme dan beban, tapi gajinya yang kalah jauh.

“Teman-temanku gajinya di atas 5 juta semua. Ya, meskipun sama-sama stres. Tapi setidaknya mereka dapat duit lebih banyak.”

Selama enam bulan kerja di Pondok Aren, Vita pun mengaku ibarat kerja ala-ala anak Jaksel, tapi mendapatkan gaji standard Banten.

“Kudu bisa semuanya, tapi gaji ala kadarnya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ciputat, Kecamatan di Tangerang Selatan yang Sebaiknya Jangan Ditinggali Kalau Kesabaran Setipis Tisu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 22 April 2025 oleh

Tags: jakarta selatanJakselpondok arenpondok aren tangerang selatantangerang selatantangsel
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO
Esai

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

3 Agustus 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO
Urban

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO
Urban

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko” MOJOK.CO

Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko”

3 Agustus 2026
Lolos SBM Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jual Tiramisu. MOJOK.CO

Seporsi Kemenangan usai Ayah Tiada: Jualan Tiramisu di Saparua sejak Remaja agar Bisa Sekolah hingga Tembus SBM ITB

3 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.