Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pilunya Perantau di Jakarta 5 Tahun Tak Mudik Gara-gara Lowongan Kerja Tipu-tipu, Sekalinya Pulang Kampung Ternyata Sudah Tak Punya Rumah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
27 Maret 2024
A A
Kebayoran Baru Jakarta Selatan, merantau ke Jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kebayoran Baru Jadi Saksi Para Sarjana “di-Prank” Kemewahan Jaksel: Nekat Merantau Bermodal Ijazah S1, Berakhir Jadi Tukang Parkir Liar (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya bingung harus tertawa atau bersedih saat mendengar cerita Jaya (25). Pasalnya, ia punya pengalaman yang memilukan soal kerasnya jadi perantau di Jakarta. Lima tahun lamanya, dia hidup sengsara di ibu kota dan terpaksa memendam rindu kampung halaman karena tak bisa mudik. Namun, di sela-sela kisah pilu itu, Jaya terus-terusan bercerita dengan selingan lelucon garing. Tidak ketawa mubazir, tapi kalau mau ngakak takut dosa.

Jaya adalah kenalan saya. Kami sama-sama berasal dari Wonogiri. Bedanya, saya sudah menetap di Jogja sejak 2017, sedangkan dia baru pada awal 2023 lalu bekerja di sini.

Ia bekerja di salah satu warung makan bebek goreng yang kondang di Jogja. Pertemuan kami pun juga dari tempat kerjanya itu. Jadi, warung bebek goreng tempat Jaya bekerja punya banyak cabang di Solo. Nah, sudah jadi rahasia umum kalau para pegawainya di cabang Solo adalah orang-orang Wonogiri. Makanya, ketika mampir ke salah satu cabangnya di Jogja, saya tembak saja langsung.

“Mas, dari Wonogiri ya?,” tebak saya waktu itu. Ia tak hanya mengangguk, tapi juga langsung grapyak. Orangnya memang mudah akrab dengan orang lain berkat jokes bapak-bapaknya. Sejak saat itu, kami jadi mengenal satu sama lain.

Dua tahun luntang lantung di Jakarta gara-gara kena tipu saudara brengsek

Sebelum kerja di Jogja, Jaya sebelumnya menjadi perantau di Jakarta. Tapi jangan bayangkan di sana ia bekerja enak. Hidupnya luntang-lantung, tanpa kerjaan yang jelas.

Setelah lulus SMA pada 2017 lalu, salah seorang saudaranya yang “terlihat” sudah sukses datang ke rumahnya menawarinya kerjaan sebagai loper toko-toko kelontong di Jakarta. Bagi orang desa, bisa merantau ke ibu kota adalah kemewahan. Apalagi kalau sudah ada jaminan kerjaan tetap dan gaji tinggi.

“Saat itu dia menawari gaji 3 juta sebulan. Tinggal di mes dan uang makan. Jadi katanya 3 juta itu penghasilan bersih,” kisah Jaya, saat di bertandang ke kosan saya di sela-sela santap sahur, Selasa (26/3/2024).

Saudaranya itu terlihat meyakinkan. Ia datang ke rumah Jaya dengan mobil. Pokoknya semua syarat kesuksesan di Jakarta ada pada penampilannya. 

Masalahnya, karena kerja di loperan, saudaranya itu minta jaminan sebesar Rp2 juta. Itu adalah uang komitmen sekaligus deposit yang akan dikembalikan secara bertahap dalam enam bulan.

“Jadi di loperan gitu harus ngasih jaminan 2 juta, kan takutnya pekerjanya kabur bawa barang. Tapi katanya secara bertahap uang itu akan kembali selama enam bulan ditambahkan ke gaji kita.”

Jaya sepakat. Restu orang tua juga ia dapat. Pinjaman Rp2 juta dari tetangga akhirnya mendarat juga di kantong saudaranya itu. Masa depan yang lebih baik rasanya hanya berada lima sentimeter di depan mukanya.

“Brengsek! Nyatanya enggak kayak gitu,” air muka penuh rasa kecewa dan dongkol terpancar dari mukanya saat menceritakan bagian ini.

Ditinggal di terminal sendirian, masih hidup berkat ketemu pedagang asongan

Setelah semuanya sudah siap, Jaya dan saudaranya yang menjanjikan kerjaan di Jakarta itu berangkat dari Terminal Tirtonadi, Solo. Tujuh jam perjalanan ia lalui sebelum akhirnya sampai di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur.

Begitu sampai di ibu kota, lagak mencurigakan mulai saudaranya tunjukkan. Awalnya, ia meminta ponsel Jaya, katanya mau pinjam sebentar buat menghubungi bos buat menjemput mereka. Jaya juga dimintai uang Rp50 ribu untuk membeli makanan kecil, katanya sih mau dikembalikan.

Iklan

“Waktu itu aku cuma pegang 50 ribu, sama 5 pasang baju di tas,” ujarnya membuka kisah pilunya sebagai perantau di Jakarta.

Jaya sama sekali tak curiga dengan saudaranya itu. Namun, karena tak kembali setelah hampir sejam meninggalkannya, rasa was-was mulai menghampiri. “Itu posisi udah mau Maghrib, tapi dia enggak juga kelihatan.”

Jaya tak bisa menahan tangis. Perut lapar dan berada di kerumunan orang-orang asing bikin dia amat ketakutan. Di tengah suasana hatinya yang campur aduk, seorang pedagang asongan mendatanginya, menawari makan dan mengajaknya ngobrol. “Aku selalu mikir Jakarta itu tempatnya orang-orang jahat. Tapi enggak tahu kenapa ketika bapak itu menawari pertolongan buat sementara tinggal di kos-kosan sempitnya aku mau-mau aja,” katanya. Tahu telah kena tipu, perasaan dendam kepada saudaranya itu menancap di hatinya.

Jadi tukang parkir sampai kuli bangunan pernah dia jalani di Jakarta

Boleh dibilang, ia hidup sebatang kara di Jakarta. Satu-satunya harta berharganya hanya beberapa lembar baju dan secarik kertas dengan nomor HP adiknya.

Karena tawaran kerja di Jakarta dari saudaranya itu cuma tipu-tipu, mau enggak mau Jaya kudu cari pekerjaan lain. Ia juga tak bisa selamanya numpang. Apalagi numpang tidur dan makan tanpa kontribusi apa-apa.

Alhasil, kerja jadi tukang parkir sampai nguli di proyek-proyek harus ia jalani. Kerasnya hidup di Jakarta benar-benar Jaya rasakan. Kerja banting tulang cuma demi makan di hari itu jadi kesehariannya. 

Pilunya Perantau Jakarta 6 Tahun Tak Mudik Gara-gara Lowongan Kerja Tipu-tipu, Sekalinya Pulang Kampung Ternyata Sudah Tak Punya Rumah.mojok.co
Ilustrasi kuli kerja (unsplash)

Ia memang bisa nabung buat membeli ponsel bekas guna menghubungi orang rumah. Namun, tetap saja, ada perasaan tak tega buat jujur ke orang tua kalau hidupnya luntang-lantung di Jakarta.

“Aku cerita kalau saudara kami memang nipu,” kata dia. “Tapi, soal hidup di Jakarta, aku ngakunya ketemu juragan bakso dan dibantu kerja di sini. Supaya keluarga di rumah tak khawatir.”

Tak pernah bisa mudik karena tak punya duit

Jangankan buat mendongkrak ekonomi keluarga–sebagaimana cita-citanya sebagai perantau di Jakarta–buat makan sehari-hari aja sulit. Pada lebaran pertama pasca merantau, Jaya memutuskan tak pulang. Alasannya, “juragan enggak ngasih libur karena warung ramai”. Jelas ini kebohongan meski orang tuanya tetap percaya dan mempercayainya.

“Aku juga selalu berusaha ngirim uang bulanan dari yang kutabung tiap harinya.”

Saya tak mampu membayangkan betapa pedih kehidupan yang dijalani Jaya. Selama lebih dari dua tahun, kerja serabutan ia sikat demi makan sehari-hari dan nabung buat kiriman orang tua. Ia berkisah, misalnya, dalam sehari paling tidak ia bisa mengumpulkan uang Rp70 ribu hasil dari nguli proyek. “Yang 30 ribu aku tabung, sisanya buat makan sama ngumpulin bayar kos,” tuturnya.

Boleh saya bilang, menjadi kuli proyek adalah kerja fulltime-nya di Jakarta, meski hasilnya kadang tak menentu. Alhasil, selama dua tahun Jaya “tak tega” buat pulang karena tak pegang uang. Lebaran 2018 dan 2019, ia tak mudik karena alasan bohong “tidak bisa libur” tadi. Untungnya, orang tuanya amat mempercayainya, meski tiap kali lebaran ia hanya bisa mendengar alunan takbir idul fitri dari kamar sempit kosnya, sambil berderai air mata. 

“Lebaran selalu menyiksa. Tak pulang rindu, mau pulang malu!,” kata Jaya.

Baca halaman selanjutnya…

Pulang setelah 5 tahun, tapi rumah sudah raib juga gara-gara saudara

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2024 oleh

Tags: jakartaLebaranMudikperantauperantau di jakartapilihan redaksitak bisa mudik
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

indonesia masters, badminton, bulu tangkis.MOJOK.CO
Ragam

Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora

20 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO
Catatan

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO
Ragam

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

19 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.