Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sebagai “Alumnus” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
30 Januari 2026
A A
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Ilustrasi -Pengalaman Naik Kereta Api (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai alumnus KA Airlangga, naik kereta ekskutif macam KA Taksaka itu ibarat pengkhianatan kelas. Namun, sesekali wajib dicoba juga, demi kesehatan mental dan tulang punggung tentunya.

***

Bagi penumpang setia KA Airlangga rute Surabaya-Jakarta, kereta ekonomi bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah tempat terbaik buat menguji ketabahan dan daya tahan tulang belakang.

Bayangkan saja, dengan harga tiket murah meriah–setara tiga gelas kopi di coffee shop, kereta ini menawarkan paket uji ketahanan duduk di kursi tegak 90 derajat selama 11 jam. 

Saya sendiri, yang merupakan “alumnus” KA Airlangga, merasa sebagai manusia kuat. Kalau boleh dibilang, daya tahannya melebihi para user KA Sri Tanjung rute Jogja-Surabaya. Dua kereta ini sama-sama “menawarkan” paket kursi tegak; bedanya, mereka cuma perlu “bertahan” 7 jam, sementara saya 11 jam.

Saya sendiri pernah menuliskan pengalaman seru sekaligus haru naik KA Airlangga dalam liputan Mojok berjudul “Coba-coba Naik KA Airlangga Jakarta-Surabaya: Bahagia Tiketnya Cuma Seharga 2 Porsi Pecel Lele, tapi Berujung Tak Tega sama Penumpangnya”.

Namun, minggu lalu, saya melakukan sebuah “pengkhianatan kelas”. Saya, yang merupakan pengguna setia kereta-kereta berfasilitas kursi tegak, akhirnya bisa mencicipi KA Taksaka. Ia adalah kereta kelas eksekutif, yang kalau dibandingkan dengan kereta ekonomi, jelas nggak apple to apple.

Hanya saja, sebagai alumnus KA Airlangga, ada rasa gegar budaya saat pertama kali naik kereta mewah tersebut.

Dari yang biasanya naik kereta harga Rp80-an, kini Rp600 ribu

Keputusan naik KA Taksaka sebenarnya bukan datang dari saya sendiri, tetapi fasilitas kantor. Jujur saja, saya orangnya gampang; lebih suka mencari opsi termurah meski mengorbankan sedikit kenyamanan, daripada harus merogoh kocek lebih dalam. 

Salah satunya urusan kereta: kalau ada opsi yang lebih murah, se-nggak-enak apapun mending ambil opsi itu. Namun, karena tiket kereta eksekutif ini sudah dibelikan oleh kantor, tidak mungkin saya tolak.

Tiap kali pergi ke Jakarta, KA Bengawan adalah andalan saya. Dengan tiket nggak sampai Rp80 ribu, saya sudah bisa turun di Pasar Senen dengan aman, meski punggung agak pegal.

Atau juga, saya pernah mencoba cara “ekstrem” karena nggak kebagian KA Bengawan. Yakni dengan naik KA Kahuripan dari Jogja ke Bandung, kemudian estafet dengan naik KA Cikuray untuk sampai di Bekasi. Dari Bekasi ke Jakarta, tentu menggunakan KRL. Semua dilakukan demi satu kata: murah.

Makanya, ketika kawan kantor memberi tahu harga tiket KA Taksaka, jujur saja saya langsung kaget. Saya yang biasanya menikmati kereta ekonomi dengan harga nggak sampai Rp80 ribu, kini akan naik kereta dengan harga tiket hampir delapan kali lipatnya: Rp600 ribu.

“Anjir, ini sih sudah bisa 8 kali bolak-balik ujung barat ke ujung timur Jawa,” canda saya saat itu.

Iklan

Maka, dengan sedikit rasa canggung sebagai penumpang yang terbiasa hidup prihatin di jalur subsidi, saya melangkah menuju peron eksekutif. Saya resmi membunuh kelas.

Biasanya duduk tegak di KA Airlangga, kini bebas ongkang-ongkang dan rebahan

Gegar budaya selanjutnya, bahkan terjadi bahkan sebelum kereta berangkat. Begitu menginjakkan kaki di gerbong KA Taksaka, telinga saya disambut oleh keheningan–sesuatu yang tak saya jumpai di KA Airlangga.

Sebagai alumnus kereta ekonomi tersebut, saya memahami betapa bising dan “chaos-nya” transportasi ini. Namun, di KA Taksaka, tidak ada suara bising orang atau aroma menyengat dari nasi bungkus yang dibawa penumpang. 

Lantai gerbongnya juga begitu bersih, hingga saya tak tega jika harus mengotorinya. Kemudian saat mencari kursi, saya sempat tertegun. Di KA Airlangga, kursinya berupa bangku panjang yang memaksa kita duduk intim dengan orang asing, kadang saling desak, lutut vs lutut. 

Sementara di KA Taksaka, kursi adalah singgasana pribadi dengan ruang kaki yang begitu luas. Hingga saya bisa melakukan peregangan tanpa harus meminta izin kepada lutut orang di depan saya.

Duduk di “kursi pribadi” kereta eksekutif ini rasanya jauh berbeda karena saya dengan bebas melakukan apapun. Mau main laptop, meja lipat telah tersedia. Mau ongkang-ongkang, juga tak ada penumpang lain yang merasa terganggu. Mau rebahan pun, tinggal atur kemiringan kursi.

Berbeda dengan KA Airlangga, di mana setiap aktivitas dan gerak-gerak kita di kursi tegak, harus diperhitungkan secara presisi agar penumpang lain tak terganggu.

Akhirnya, saya menikmati kereta yang tak menyiksa tulang belakang

Momen paling epik dalam perjalanan ini adalah saat saya menekan tombol reclining. Kursi itu turun perlahan, menyangga punggung saya dengan sudut yang selama ini hanya ada dalam mimpi di KA Airlangga. 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah perjalanan kereta api saya, tulang punggung saya tidak meronta-meronta. Ia justru merasa begitu lega.

Di kelas eksekutif ini, saya menyadari bahwa kesehatan tulang belakang benar-benar terjaga. Jika di KA Airlangga saya harus terjaga sepanjang malam demi menjaga keseimbangan leher agar tidak jatuh ke bahu penumpang sebelah, di KA Taksaka saya bisa tidur terlelap. Tidak ada lagi leher kaku atau pinggang yang terasa seperti habis dipukuli.

Bahkan, saya sempat bercanda ke teman kantor bahwa untuk pertama kalinya saya bisa tidur di dalam kereta. Dan, itu terjadi siang bolong, saking nyamannya.

Perjalanan dari Stasiun Gambir ke Stasiun Tugu ini mengubah cara pandang saya. KA Taksaka pada akhirnya bukan hanya soal kecepatan atau fasilitas mewah. Ini adalah soal membeli “waktu istirahat”.

Selama ini, dalam hal naik kereta, saya menganggap kemewahan adalah dosa. Namun, KA Taksaka mengajarkan bahwa rasa nyaman adalah “investasi” agar kita sampai di tujuan dengan kondisi mental yang waras dan tubuh yang tidak remuk.

Namun, apakah saya akan melupakan KA Airlangga, atau kereta-kereta dengan kursi tegak lainnya? Tentu tidak. KA Airlangga adalah guru kesabaran saya. Tapi, toh, nggak ada salahnya sesekali mencoba sesuatu yang nggak menyiksa.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Users Sri Tanjung Kaget saat Pertama Kali Naik KA Jaka Tingkir: Kereta Api Ekonomi Nggak Kayak Ekonomi, Malu karena Jadi Kampungan dan liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2026 oleh

Tags: ka airlanggaka ekonomika eksekutifka taksakakaiKAI acceskereta api airlanggakereta api taksakakereta ekonomikereta eksekutifpilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Deep talk dengan bapak setelah 25 tahun merasa fatherless, akhirnya tahu kalau selama ini bapak juga sangat kesepian MOJOK.CO
Catatan

Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian

20 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.