Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pengendara Motor Plat K: Pekerja Keras yang Temukan Jalan Pulang dan Pelajaran Berharga dari Rusaknya Jalanan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
25 Juni 2025
A A
Jalan pantura memang brutal, tapi memberi jalan pulang dan pelajaran berharga bagi pengendara motor plat K MOJOK.CO

Ilustrasi - Jalan pantura memang brutal, tapi memberi jalan pulang dan pelajaran berharga bagi pengendara motor plat K. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jalanan pantura Surabaya-Semarang (terutama menuju Semarang) yang brutal menjadi santapan sehari-hari pengendara motor plat K (Kudus, Pati, Rembang, Blora, Purwodadi).

Orang luar daerah pantura kerap kali mengeluhkan kondisi jalanan pantura. Selain banyak yang rusak, juga karena ngeri-ngeri sedap lantaran keberadaan truk-truk tronton hingga bus-bus yang melaju dengan ugal-ugalan.

Akan tetapi, pengendara motor plat K punya cara pandang lain terhadap jalanan pantura. Di tengah segala kebrutalan jalan pantura, para pengendara motor plat K justru memberi perasaan lega dan beragam pelajaran hidup.

Pantura, jalan pulang pengendara motor plat K

Saya akan memulainya dari diri saya sendiri. Umur saya memang masih muda: 25 tahun. Tapi sebagian besar hidup saya memang habis di luar kampung halaman (Rembang).

Setelah bertahun-tahun di Surabaya, kini sudah satu tahun setengah saya merantau di Jogja.

Saya memang lebih sering naik bus untuk perjalanan pulang pergi—entah Rembang-Surabaya atau Rembang-Jogja. Meski begitu, beberapa kali saya memilih menggunakan motor plat K saya.

Setelah lama merantau di Surabaya dan terbilang jarang pulang, belakangan saya menyadari kalau di lubuk hati terdalam, saya menimbun rasa bersalah pada ibu di rumah. Karena saya telah absen menemaninya di masa tuanya.

Perasaan itu akhirnya membuat saya lebih gampang kangen dengan rumah. Maka, selama di Jogja, saya selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Rembang tiap sebulan sekali. Saya biasanya memilih rute agak panjang: Jogja-Semarang terlebih dulu, baru kemudian lanjut menyisir pantura: Semarang-Rembang.

Jalanan pantura rasa-rasanya memang lebih menyiksa. Akan tetapi, di antara jalanan rusak, truk tronton, dan bus yang ugal-ugalan, ada perasaan lega menyelinap di tengah hati. Jalan pantura menjadi penanda bahwa saya sedang dalam perjalanan menuju rumah—sebagai sebaik-baik tempat untuk kembali.

Rutukan dan syukur pengendara motor plat K di pantura

Sama seperti saya, Gandika (24)—yang juga berasal dari Rembang—lebih banyak menghabiskan hidupnya di perantauan. Dia bahkan sejak lulus SMK sudah berpindah dari satu kota ke kota lain untuk bekerja.

Bedanya, Gandika nyaris tidak pernah menggunakan bus. Dia lebih senang menggunakan motor. Kendati jalanan pantura yang brutal nyaris merenggut nyawanya karena diserempet truk hingga tersungkur di aspal, sebagaimana dia ceritakan dalam tulisan, “Kengerian Motoran saat Malam di Jalan Pantura, Hati-hati Saja Tak Cukup kalau Tak Mau Celaka”.

“Jalanan pantura itu cocok untuk merenung. Kalau dari Surabaya, aku biasanya berhenti di Tuban. Kalau dari Semarang, biasanya berhenti di Kudus atau Pati. Nah, pada momen berhenti itu aku selalu bisa bernapas lebih lega atas situasi yang kuhadapi,” ujar Gandika, Selasa (24/6/2025) malam WIB.

Gandika kadang memilih berhenti di minimarket. Bukan untuk membeli minum, karena biasanya dia sudah membawa botol plastik yang sudah dia isi dengan air galon di kosan.

Dia juga tidak memilih duduk di kursi  besi yang disediakan minimarket. Tapi justru selonjoran dan bersandar di area parkiran sembari menyesap satu sampai dua batang rokok Djarum Super yang kerap menyertai di saku jaketnya.

Iklan

“Sebatang, dua batang, sambil melihat lalu-lalang jalan. Itu membuat aku sadar, ternyata di dunia ini yang harus kerja keras untuk diri sendiri dan orang rumah bukan cuma aku. Tapi banyak. Aku seharusnya nggak punya alasan untuk menye-menye atas takdir hidupku,” ucap Gandika.

Sebab, sering kali Gandika merutuki nasibnya sendiri. Merasa bernasib sangat buruk sehingga harus loncat dari satu daerah ke daerah lain untuk bekerja.

Setelah batinnya merasa lebih legawa, rokok Djarum Super yang dia sesap terasa jauh lebih nikmat. Lalu dia merasa punya energi besar untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Berlatih sabar dan ringan tangan

Pemuda dari Rembang lain, Baid (24), sama belaka dengan Gandika. Berkelana untuk bekerja sejak lulus SMA. Pindah dari satu kota ke kota lain dengan motor plat K andalannya.

Di pantura, motor plat K teramat sering bernasib apes. Misalnya, ban jebluk usai menerjang jalanan berlubang, velg penyok pun pernah dia alami.

Kadang kala situasi itu membuat Baid kesal sendiri. Apalagi kalau bengkel atau tambal ban masih jauh. Lebih-lebih jika tengah dalam kondisi hujan deras. Maka sumpah serapah atas kondisi jalan pantura akan keluar beruntun dari mulutnya.

“Kalau nemu bengkel, aku biasanya hanya menatap motorku sambil melamun, sambil ngudud dulu lah. Dari situ baru bisa tenang. Terus merenung, harusnya aku lebih sabar dan nggak kagetan. Kan ya sudah biasa kayak gitu di pantura. Untung cuma ban jebluk atau velg penyok. Toh aku masih diberi keselamatan sama Tuhan,” ucapnya.

Renungan itu membuat seluruh emosi dalam dirinya lenyap seketika. Sisanya, sembari menunggu motor plat K andalannya dibereskan, Baid akan menghabiskan berbatang-batang rokok Djarum Super. Meresapi sehisap demi sehisap, batang demi batang, dengan kondisi batin lebih siap melanjutkan perjalanan.

Masih banyak orang baik di jalanan

Baik Gandika maupun Baid senada. Mereka mengaku kerap bertemu orang-orang baik kala menghadapi situasi tidak menyenangkan di jalanan pantura.

Misalnya Gandika. Saat tersungkur di aspal pantura, orang-orang langsung sigap menolongnya. Memastikan kondisi Gandika tidak amat buruk.

“Aku kalau bocor terus nuntun, entah kenapa ada saja orang yang nolong. Ada yang bantu mencarikan tambal ban, ada yang menemani saya mendorong, bahkan pernah kehabisan bensin ada yang sukarela nyetep dengan jarak lumayan jauh,” sementara begitulah pengakuan Baid.

Pas sudah sampai pom bensin, orang yang membantu nyetep tadi langsung pamit melanjutkan perjalanan. The real orang tulus kalau kata Baid.

“Itu mengajariku juga akhirnya. Misalnya lagi jalan, terus lihat ada orang motornya mogok atau bannya bocor, aku nggak bakal berpikir dua kali untuk membantu,” sambung Baid.

Sembari membantu, Baid biasanya bertukar cerita dengan orang yang dia bantu. Baid tak akan pelit-pelit membagi rokok Djarum Super-nya juga. Lalu segala kesal dan lelah atas situasi buruk di jalanan pantura pelan-pelan menguap untuk kemudian tidak bersisa sama sekali.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Plat K Harus Hadapi Banyak Derita kalau Merantau di Semarang, Benar-benar Penuh Drama atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 25 Juni 2025 oleh

Tags: Djarum Supermotor plat kpanturaplat K
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO
Catatan

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO
Esai

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO
Catatan

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Mendalam

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang MOJOK.CO

Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

21 April 2026
Tukang pijat.MOJOK.CO

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

24 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.