Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 Januari 2026
A A
guru BK.MOJOK.CO

Ilustrasi - Guru BK (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi guru adalah cita-cita Margawati (26). Oleh karena itu, ia dengan sadar mengambil jurusan Bimbingan Konseling (BK) saat masuk kuliah 2019 lalu. Proyeksi dia jelas, ketika lulus bakal langsung terjun sebagai guru BK.

Sayangnya, tahun lalu, Marga harus menutup perjalanannya sebagai pengajar di sebuah sekolah menengah di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun, tak ada perasaan sedih karena harus “membunuh” mimpi. Yang keluar malah perasaan lega karena keputusan ini diambil demi menjaga kewarasan dan menyambung hidup.

Iklan

Selama satu tahun pengabdiannya, Marga merasakan betul betapa profesi guru BK sering kali disalahpahami. Di sekolah, ia tidak sekadar duduk ongkang-ongkang menanti siswa yang melanggar aturan. Ia justru menjadi “garda terdepan” bagi kesehatan mental siswa. 

Namun, di balik peran mentereng sebagai “pembentuk karakter”, ada beban psikis dan finansial yang nyaris tidak pernah dibicarakan secara terbuka.

Selalu siap jadi tempat curhat, sekaligus menyerap “energi negatif” siswa

Bagi banyak siswa, sosok guru muda seperti Marga adalah teman curhat yang ideal. Selisih usia yang tidak terlalu jauh membuat siswa merasa nyaman menumpahkan segala masalah. Mulai dari patah hati ala remaja, perundungan di media sosial, hingga konflik yang dialami dengan orang tua.

“Kadang, mendengar masalah-masalah siswa itu sangat melelahkan,” ujar Marga, dikutip Kamis (29/12/2026).

Pekerjaan ini menuntut empati penuh. Namun, empati yang terus-menerus dikuras tanpa adanya sistem pendukung (support system) bagi si guru sendiri, berujung pada kelelahan mental yang hebat/

Di dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai compassion fatigue. Marga harus menyerap trauma siswa, mengolahnya, dan tetap tampil tegar sebagai pendamping, sementara ia sendiri tidak memiliki tempat untuk mengadu.

Kondisi ini diperparah dengan rasio guru BK dan siswa yang timpang. Berdasarkan aturan nasional, satu guru BK idealnya menangani 150 siswa. Namun, di lapangan, seorang guru honorer sering kali harus mengawasi ratusan siswa sendirian.

Pendekatan personal yang seharusnya mendalam menjadi sekadar “pemadam kebakaran” yang hanya turun tangan saat kasus besar pecah.

Guru BK sekarang kerap kena stigma “lembek” dari boomer

Tantangan Marga tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga dari lingkungan kerja. Ada stigma yang melekat bahwa guru BK adalah pekerjaan yang santai karena tidak memiliki jadwal mengajar di kelas sesering guru mata pelajaran.

Marga kerap menghadapi komentar sinis dari rekan sejawat senior, yang kebanyakan kalangan boomers. Pola pikir kolot sering kali membandingkan ketangguhan mental generasi masa kini dengan masa lalu. 

“Ada anggapan kalau kami ini terlalu lembek. Para senior sering membandingkan zaman mereka dulu yang lebih keras, padahal konteks masalah yang dihadapi anak muda zaman sekarang sudah jauh berbeda. Isu kesehatan mental bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan teguran keras,” tambahnya.

Gesekan antargenerasi ini menciptakan lingkungan kerja yang toksik. Alih-alih mendapatkan dukungan profesional, guru BK muda seperti Marga justru sering merasa terisolasi di ruang guru sendiri.

Iklan

Upah yang tak bisa buat memenuhi kebutuhan hidup

Namun, dari semua beban yang ada, faktor finansial menjadi pukulan telak yang meruntuhkan idealisme Marga. Sebagai guru honorer, pendapatan bulanannya jauh dari kata layak. Di tengah tuntutan biaya hidup di Sleman yang terus meningkat, honor yang diterimanya bahkan tidak menyentuh angka Upah Minimum Kabupaten (UMK).

Untuk bertahan hidup, Marga harus memutar otak mencari sampingan. Idealisme untuk mencerdaskan kehidupan bangsa perlahan terkikis oleh kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. 

“Cinta pada pekerjaan tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan listrik atau membeli makan,” tegasnya.

Mojok sendiri pernah memotret cerita pilu guru honorer yang memang diupah tak layak. Laporan tersebut bisa dibaca dalam liputan berjudul “Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks”.

Data menunjukkan bahwa upah guru honorer di banyak daerah di Indonesia masih berkisar antara Rp500.000 hingga Rp1.000.000 per bulan, bahkan bisa kurang. 

Angka ini sangat kontras dengan beban kerja dan tanggung jawab moral yang dipikul. Kondisi ini membuat profesi guru, khususnya guru BK, menjadi pilihan yang tidak berkelanjutan secara ekonomi bagi anak muda yang ingin mandiri secara finansial.

Memilih meninggalkan dunia pendidikan demi hidup yang lebih tenang

Satu tahun sudah cukup bagi Marga. Ia memutuskan untuk melepaskan cita-citanya dan beralih ke dunia korporat di Semarang. Keputusannya bukan karena ia tidak lagi mencintai dunia pendidikan, tetapi karena ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Kini, Marga bekerja di sebuah kantor dengan jam kerja yang jelas dan gaji yang jauh lebih manusiawi. Beban emosional yang dulu menghimpitnya setiap hari kini berganti dengan rutinitas administratif yang, meski kadang membosankan, tidak merusak kesehatan mentalnya.

“Banyak teman saya yang juga akhirnya menyerah. Kami ingin mengabdi, tapi sistem tidak memberikan ruang bagi kami untuk hidup layak dan tetap sehat secara mental,” pungkas Marga.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2026 oleh

Tags: bimbingan konselingbkguruguru BKguru honorerPendidikan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Sekolahan

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Tajuk

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Tren selebrasi di panggung wisuda seperti minta difotoin rektor ala wisudawati UINSA: mengejar atensi maya hingga pergeseran batas hierarki formal MOJOK.CO

Difotoin Rektor: Selebrasi Wisuda biar Berkesan, Atensi Maya, dan Pergeseran Batas Hierarki Formal

30 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah MOJOK.CO

Pentingnya Tes Kesehatan sebelum Menikah, Bukan untuk Ragukan Pasangan tapi Cegah HIV/AIDS seperti Kasus Ratusan Anak di Sidoarjo

29 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.