Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Guru di Aceh dan Murid di Jawa Barat Merasa Terjajah oleh Kurikulum Merdeka

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
26 Februari 2024
A A
Guru di Aceh dan Murid di Jawa Barat Mempertanyakan Kurikulum Merdeka yang Membuat Mereka Terjajah MOJOK.CO

Ilustrasi Guru di Aceh dan Murid di Jawa Barat Mempertanyakan Kurikulum Merdeka yang Membuat Mereka Terjajah. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kurikulum Merdeka yang menggantikan Kurikulum 2013 dipandang lebih baik dari yang sebelumnya. Namun, memposisikan sebagian tenaga pendidik dan siswa sebagai orang-orang yang terjajah.

Budi seorang guru di Provinsi Aceh meminta namanya tidak ditulis lengkap. Ia adalah guru di sebuah SMAn di Aceh yang punya uneg-uneg tentang Kurikulum Merdeka yang mulai berlaku di tahun 2024 ini. 

Iklan

“Saya yang guru SMA di Aceh melihat kurikulum ini lebih baik dalam berbagai aspek, dibandingkand ari sebelumnya, tapi bukan berarti sebelumnya tidak baik,” katanya kepada Mojok, Minggu (25/2/2024)

Namun, dalam Kurikulum Merdeka, ada beberapa kemajuan yang tampaknya membuat kualitas guru menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Sisi negatif Kurikulum Merdeka untuk para guru

Budi menuturkan, meski ada aspek positifnya, tetap saja Kurikulum Merdeka punya aspek negatif yang justru “menjajah” guru itu sendiri. 

Menurutnya kurikulum baru tidak memandang guru tersebut merupakan guru baru atau guru yang sudah tua. Semua dipukul rata. 

“Guru yang muda, yang katanya akrab dengan smartphone dan teknologi terkini nyatanya tidak sedikit yang kesulitan untuk beradaptasi dengan Kirikum Merdeka. Itu karena mereka harus membuat berbagai karya menggunakan smartphone atau laptop,” kata Budi. 

Jika guru muda saja keropetan, lantas bagaimana dengan guru-guru tua yang mereka tak update soal teknologi. “Yang terkadang mereka tak tahu cara menghubungkan handphone ke WiFi sekolah, tapi ketika sudah terhubung pun, jaringan malah lemot,” katanya. 

Banyaknya tugas guru selain tugas utama mengajar murid

Menurut Budi, yang guru-guru permasalahkan dari Kurikulum Merdeka adalah terlalu banyak tugas guru di luar tugas utama mereka yaitu mengajar. 

Mojok pernah menuliskan keluhan guru soal Kurikulum Merdeka dalam liputan  Mirisnya Penerapan Kurikulum Merdeka di 2024, Siswa Sampai Mencari Guru yang “Hilang” karena Sibuk Administrasi.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Dalam liputan tersebut menjelaskan guru harus mengisi Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) e-Kinerja lewat Platform Merdeka Mengajar (PMM). Hal itu tertuang dalam SE BKN dan Mendikbudristek No 9 Tahun 2023 tentang Sistem Informasi Pengelolaan Kinerja Aparatur Sipil Negara Guru. Salah satu tujuannya yakni membuat guru lebih sering mengakses PMM sebagai platform terintegrasi untuk implementasi Kurikulum Merdeka.

Bagi sebagian guru persoalan mengisi e-Kinerja di PMM bukan persoalan besar, tapi tindak lanjutnya menuntut guru mendapat 32 poin pengembangan diri lah yang ia nilai memberatkan.

“Misalnya satu agenda diklat itu dapat 8 poin. Padahal diklat itu prosesnya panjang dan memakan waktu,” keluhnya kepada Mojok, Senin (29/1/2024).

Menurutnya, keluhan semacam ini banyak keluar dari para guru di sekitarnya. Impelementasi Kurikulum Merdeka di 2024 ini mendorong mereka untuk terus mengejar perolehan sertifikat pengembangan diri padahal tugas utamanya adalah mendidik siswa di kelas.

Iklan

Guru punya peran lain selain mengajar

Hal seperti itulah yang Budi rasakan sebagai guru SMA di Aceh. Seolah-olah, 24 jam guru harus memikirkan pekerjaannya sebagai guru. 

“Apakah guru tak punya keperluan atau hobi yang bisa mereka lakukan setelah cukup lelah mengajar di sekolah dan menghadapi berbagai karakter murid,” katanya. 

Belum dengan guru-guru yang statusnya masih bakti atau honorer, yang gajinya masih ratusan ribu rupiah per bulan. Jika mereka tidak melakukan pekerjaan lain, maka mereka mungkin tidak bisa makan. 

“Kurikulum Merdeka membuat tidak adil kepada para guru karena tidak waktu khusus untuk keluarga, atau masyarakat. Seluruh waktunya alah habis di depan laptop dan smartphone untuk urusan sekolah,” katanya.

Menurut Budi ada alasan-alasan manusiawi yang harusnya pemerintah ikut pertimbangkan dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Misalnya, apakah pantas, jika waktu yang harusnya untuk si buah hati yang masih bayi, setelah pulang ke rumah guru malah justru pusing karena harus menyelesaikan persoalan administrasi sebagai guru.

“Masih banyak hal lain yang kami keluhkan, lantas di mana letak merdeka bagi seorang guru?” katanya. 

Baca halaman selanjutnya

Siswa merasa Kurikulum Merdeka itu seperti menjajah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2024 oleh

Tags: gurukurikulum merdekamengajarmerdeka belajarmuridsekolah
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO
Esai

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO
Pendidikan

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO
Esai

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.