Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cerita “Alumni” Paylater Rungkad Gara-Gara Kecanduan: Hanya 2 Tahun Pakai tapi Bikin Gagal Nikah karena Nguras Tabungan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
22 Mei 2024
A A
Cerita "Alumni" Paylater Rungkad Gara-Gara Kecanduan: Hanya 2 Tahun Pakai tapi Bikin Gagal Nikah karena Nguras Tabungan.MOJOK.CO

Ilustrasi Cerita "Alumni" Paylater Rungkad Gara-Gara Kecanduan: Hanya 2 Tahun Pakai tapi Bikin Gagal Nikah karena Nguras Tabungan (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Paylater alias “beli sekarang, bayar nanti” memang seperti dua mata pisau. Di satu sisi, ia membantu orang-orang yang ingin membeli barang tapi punya keterbatasan dana melalui mekanisme kredit. Namun, di sisi lain efek candunya bisa amat destruktif. Tidak jarang pengguna malah jadi terlilit utang yang nominalnya tak main-main.

Hari ini, banyak e-commerce menyediakan paylater pada opsi pembayarannya. Pengguna pun menjadi dipermudah karena tak harus melunasi pembayaran saat itu juga. Ada pilihan mencicil tiga kali, enam kali, bahkan 12 kali, sesuai limit yang ia punya.

Survei Katadata Center dan Kredivo pada Maret 2021 lalu bahkan menunjukkan, jumlah pengguna paylater di Indonesia meningkat 55% selama pandemi. Sejak saat itu, sistem pembayaran ini pun jadi makin lazim digunakan, baik yang sebenarnya mampu maupun golongan tak berduit atas berbagai alasan.

Faisal (26), pekerja asal Jakarta, mulai mengenal paylater pada 2020 lalu saat pandemi. Kala itu, penghasilannya amat tak menentu karena dia “dirumahkan” oleh kantor. Alhasil, ia menggantungkan hidup dari hasil kerja freelance sebagai editor konten.

“Karena gaji nggak tentu juga, ngandelin kerjaan yang tiap bulan nggak tentu jumlahnya, jadi ya pakai paylater buat beli barang di e-commerce,” jelasnya, saat Mojok hubungi Senin (20/5/2024).

“Nggak cuman beli barang, kadang pesen makan juga pakai paylater,” sambung lelaki yang kini bekerja desainer grafis di Jakarta Selatan itu.

Awalnya terbantu, lama-lama kaget tagihan jadi menggunung

Pertama pakai paylater, limit yang Faisal terima masih kecil. Sehingga, barang-barang yang ia beli pun masih sangat terbatas. Namun, lama-lama limitnya naik seiring dengan cicilan yang dengan tertib ia bayar.

“Dulu awal daftar cuma dapat limit 700 ribuan. Tapi karena cicilan masih so-so, enteng lah, tertib bayarnya dan limit naik ke 2 jutaan,” jelasnya.

Saat limitnya makin besar, hasrat Faisal buat membeli barang via paylater makin besar. Apalagi, sejak awal 2021 ia kembali ngantor. Penghasilannya menjadi lebih menentu ketimbang saat freelance.

“Susah jelasin alasannya. Kadang itu aslinya punya duit, tapi lihat paylater bawaannya yaudah mending nyicil saja karena kayak sayang kalau sekali bayar abis banyak,” ungkap Faisal.

Cerita "Alumni" Paylater Rungkad Gara-Gara Kecanduan: Hanya 2 Tahun Pakai tapi Bikin Gagal Nikah karena Nguras Tabungan.MOJOK.CO
Ilustrasi seorang pengguna e-commerce mengakses paylater.(Ilustrasi oleh Katadata)

Seiring berjalannya waktu, limitnya yang diberikan e-commerce padanya makin besar. Faisal ingat betul, pada awal 2021, dia mendapat limit sampai Rp12 juta.

Hasrat buat mencicil barang-barang yang harganya mahal pun tak bisa dibendung lagi.

“Beli HP baru harga 8 jutaan, cicilan  12 kali. Dan masih ada lagi cicilan barang lain yang masih running.”

Tabungan terkuras, sampai gagal nikah

Faisal sebenarnya merasa mampu buat membayar tagihan bulanannya yang berkisar di angka Rp1-3 jutaan. Namun, kadang ada rasa eman-eman alias sayang kalau dia kudu mengeluarkan uang sebesar itu tiap awal bulan.

Iklan

“Tiap habis gajian, harus bayar tagihan 2 jutaan. Sisa gaji ya cukup buat 3 mingguan saja, akhir bulan dah bingung lagi,” kata dia.

Akhirnya, Faisal malah menjadi abai. Ia kerap tak membayar tagihan di bulan tersebut dan sengaja ingin merapelnya di bulan berikutnya, sambil berharap ada “rezeki tambahan” di tengah-tengah bulan.

Sayangnya, kebiasaan buruk ini malah berlanjut. Faisal sampai pernah kebingungan karena pernah jatuh tempo sampai 3 bulan.

“Hampir tiap hari ada orang asing nelponin, mereka dari pihak DC. Ya meskipun nggak galak-galak amat tapi itu ganggu kerjaan banget, sehari bisa ada 10 panggilan lho.”

Merasa kesal, Faisal malah jadi malas buat membayar tagihan sampai berbulan-bulan berikutnya. Hingga akhirnya, sekitar November 2021, pacarnya mengetahui kalau Faisal ada cicilan nyaris Rp11 juta yang belum terbayar.

Pacarnya marah besar karena selama ini tak pernah diceritakan soal paylater tersebut. Mau tak mau, Faisal kudu melunasi semua cicilan beserta bunganya bulan itu juga, demi meredam kemarahan sang pacar.

“Akhirnya mecah tabungan yang harusnya sudah kita rencanain buat nikah tahun depannya. Ya mau nggak mau karena tabungan nggak kesisa, rencana nikah kudu kami undur,” jelasnya.

“Sekarang sih aku sudah kapok, ya. Mending kalau mau beli apa-apa cash ajalah, soalnya pakai paylater kayak dikejar-kejar dosa.”

Kata pakar UI, candu paylater memang tak main-main

Soal paylater sendiri, Dosen FEB UI Prita Hapsari Ghozie menyebut kalau efek candunya memang tak main-main. Sistem “beli sekarang, bayar nanti”, menurut Prita, dapat mendorong para penggunanya, terutama kalangan muda, terjerumus dalam perilaku konsumtif.

“Karena hanya dengan sentuhan layar, mereka dapat membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan,” kata Prita, dikutip dari laman resmi UI. “Bahkan, sebagian dari mereka memesan makanan, tiket pesawat, dan hotel untuk berlibur meskipun sedang tidak memiliki uang,” sambungnya.

Akibatnya, banyak pengguna terjerat utang hingga puluhan juta karena tidak mampu melunasi pembayaran.

Berdasarkan perilakuknya, Prita menyebut kalau jerat utang yang menimpa pengguna paylater terjadi karena mereka belum berpenghasilan, tetapi sudah mengambil cicilan. 

Adapun yang sudah bekerja pun, biasanya mengambil pinjaman di luar batas kemampuan dan melakukan skema gali lubang tutup lubang. Sehingga di saat utang yang satu belum lunas, mereka justru mengambil utang baru. 

“Candu belanja online yang dibarengi dengan minimnya literasi keuangan ini pun semakin memperburuk keadaan,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Enggan Pakai m-Banking Sampai Umur 30-an, Rela Repot ke ATM Setiap Transaksi dan Telat Sadari Manfaaatnya

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 22 Mei 2024 oleh

Tags: cicilan paylaterjakartaketagihan paylaterpaylaterpekerja jakartatagihan paylater
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Bekerja di Jakarta vs Jogja
Urban

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

9 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Jurusan Antropologi Unair kerap diremehkan. MOJOK.CO

Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas

9 April 2026
kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.