Iseng Jadi Pengamen Liar di Jogja: Sehari Dapat Cuan Menggiurkan, Tolong Saya saat Luntang-lantung karena Puluhan Kali Gagal Kerja

Iseng jadi pengamen liar di Jogja: sehari bisa Rp300 ribu-Rp500 ribu, bantu bertahan hidup saat puluhan lamaran kerja tidak ada yang tembus MOJOK.CO

3 bulan kerja terus luntang-lantung, putuskan jadi pengamen liar di Jogja

Akbar sempat merasakan hidup sedikit lebih enak setelah bekerja di lembaga tersebut. Karena gajinya ada di atas UMR Jogja.

Dengan gaji itu, Akbar akhirnya tidak “merepotkan” seniornya tadi. Dia bisa ngekos sendiri. Sayangnya, kenikmatan itu tidak bertahan lama. Sebab, setelah tiga bulan bekerja, kontraknya ternyata tidak diperpanjang.

“Aku sempat merayu HRD, barangkali bisa diperpanjang. Eh ternyata nggak bisa. Ya sudah alamat nggembel lagi,” ucap Akbar dengan tawa terbahak.

Akbar sempat bertahan beberapa saat di kos. Sambil kembali melempar lamaran demi lamaran kerja lagi. Namun, karena tak kunjung ada yang tembus, sementara persediaan uang kian menipis, Akbar akhirnya memberanikan diri menghubungi seniornya lagi untuk numpang tinggal.

“Dibolehin. Tapi waktu itu udah nggak seperti sebelumnya. Kalau sebelumnya kan aku bantu-bantu dan dapat upah lumayan. Sekarang ya upahnya lebih kecil. Tapi aku dikasih tumpangan saja sudah syukur, Mas,” tutur Akbar.

Karena makin terpepet, Akbar berpikir keras untuk bagaimana caranya menghasilkan cuan tanpa harus menunggu lamaran kerjanya ada yang tembus. Saat memandangi gitarnya yang teronggok di sudut kamar mes, tercetuslah ide untuk menjadi pengamen liar di Jogja.

Jadi pengamen liar di Jogja, penghasilan ratusan ribu perhari

Akbar akhirnya mulai menggenjreng gitarnya dari satu lampu merah ke lampu merah lain. Saat itu, hanya satu kunci lagu yang bisa dia kuasai dengan baik. Yakni “Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki” – Sheila On 7. Lagu itu terus dia ulang-ulang.

“Sehari itu ternyata lumayan, Mas. Penghasilan sebagai pengamen di Jogja itu dapat Rp300 ribu. Luamayan kan pikirku. Bayanganku, ya sudah ngamen aja kalau hasilnya senyata itu,” kata Akbar. Padahal saat itu Akbar hanya berniat cari recehan untuk sekadar makan dan beli rokok.

Bahkan, dia kemudian tahu kalau ternyata ada pengamen yang bisa dapat penghasilan hingga Rp500 ribuan perhari. Tergantung durasi mengamennya: dari jam berapa sampai jam berapa.

Alhasil, beberapa hari dia habiskan di jalanan. Menggenjreng gitar. Lalu meraup cuan dari Rp200 ribu hingga Rp300 ribu perhari. Itu dia dapat dari pukul 10.00 WIB-hingga 20.00 WIB.

Tertangkap Satpol PP dan rezeki yang menyambar

Hingga tibalah hari sial bagi Akbar. Suatu hari, saat dia tengah asyik menggenjreng gitarnya, tiba-tiba ada rombongan Satpol PP. Akbar menjadi salah satu yang diangkut ke kantor Satpol PP, tanpa perlawanan, pasrah saja.

“Setelah ditangkap itu aku baru tahu, Mas, ternyata kalau di Jogja itu sistemnya komunitas. Jadi pengamen-pengamen yang pakai sound system di lampu merah itu dari komunitas yang bayar pajak ke Satpol PP. Jadi nggak diangkut,” beber Akbar.

Di Satpol PP Akbar hanya mendapat beberapa penjelasan mengenai aturan pengamen di Jogja. Untungnya dia tidak sampai dilempar ke Dinas Sosial.

Kembali luntang-lantung tanpa pekerjaan, Akbar mencoba berpikir keras. Bayangan paling mentoknya adalah nekat menemui pengamen-pengamen yang berkomunitas. Siapa tahu boleh gabung.

“Aku sempet nebeng ngamen sama komunitas. Boleh ternyata, karena kan aku cerita kondisiku,” akunya. “Mungkin

Sepulang dari ngamen, dengan langkah agak gontai menyisir jalanan Jogja, kabar baik tiba-tiba menyambar. Ada notifikasi panggilan interview dari sebuah perusahaan swasta di Jogja. Akhirnya. Gajinya juga jauh di atas UMR Jogja.

Pekerjaan itu dia jalani hingga sekarang. Di sela-selanya, Akbar masih menyempatkan waktu untuk bermain musik di studio musik. Ada motif sentimentil nan lucu di baliknya: Berkat musik lah (menjadi pengamen liar di Jogja) dia bisa bertahan hidup saat puluhan lamaran kerja tertolak.

Dengan terus berlatih musik, paling tidak dia bisa mengusai beragam kunci lagu. Jadi ketika suatu saat dia terpaksa harus jadi pengamen lagi, lagunya nggak cuma “Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki” saja.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Eksperimen Seminggu Jadi Tukang Parkir Ilegal di Jogja, Penghasilannya Bisa Kebeli Apa Aja? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2025 oleh

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.