Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Anak Jadi PNS Bikin Ortu Suka Pamer Pencapaian, Padahal Sang Anak Tersiksa karena Gaji Kecil dan Sering “Dipalak” Teman

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
19 Juni 2025
A A
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ilustrasi - ASN (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Barangkali, kehidupan Hasan (28) adalah dambaan banyak orang. Bagaimana tidak: umurnya belum kepala tiga, tapi dia sudah berhasil bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). 

Bagi banyak orang, profesi ini adalah impian. Pekerjaan berkelas, gaji besar, dan tunjangan mumpuni adalah gambaran pertama ketika mendengar kata ASN.

Namun, itu tidak berlaku bagi lelaki asal Jawa Tengah ini. Bagi dia, menjadi ASN adalah sebuah ironi. Ingin disebut menyesal, tidak juga; tapi kalau disebut menikmati, kok batinnya tersiksa.

“Walaupun banyak orang mendambakan pekerjaanku ini, percayalah nggak semua PNS itu hidup makmur. Apa yang bisa kamu harapkan dari gaji yang nggak seberapa dan rutinitas yang membosankan?” ujarnya, bercerita kepada Mojok, Rabu (18/5/2025).

Sejak kuliah sudah ngebet jadi ASN

Kalau mau jujur, menjadi ASN memang cita-cita Hasan. Sejak kuliah di sebuah PTN Jawa Tengah, potret abdi negara dengan seragam rapi dan penuh wibawa selalu membayanginya.

“Sekarang aku tanya, siapa coba yang nggak mau jadi PNS? Aku yakin semua orang mau. Apalagi PNS itu profesi paling stabil di tengah ketidakpastian ekonomi kayak begini,” ujarnya.

Baginya, ada alasan kuat selain “wibawa” yang membuatnya ngebet ingin jadi ASN. Menurut Hasan, secara ekonomi, kehidupan ASN itu terjamin: gajinya pasti, ada tunjangan, dan nggak mungkin dipecat.

“Kalau kita kerja di swasta kan ada kemungkinan dipecat, atau amit-amit PHK juga bisa. Sedangkan kalau PNS itu nyaris nggak mungkin dipecat kalau kesalahannya nggak fatal. Mentok mutasi aja.”

Menjadi ASN di usia 26

Oleh karena itu, setelah lulus kuliah pada 2021, Hasan mempersiapkan betul mental dan kapasitasnya agar untuk mengikuti serangkaian tes CASN. Sebelum menjadi ASN, ia merupakan tenaga honorer di salah satu kantor pemerintahan daerah di Jawa Tengah. 

Sialnya, dalam percobaan pertama di CASN 2022 ia gagal. Barulah pada kesempatan berikutnya setahun berselang, Hasan lolos sebagai ASN.

Ia tercatat diangkat ASN pada tahun 2023. Usianya kala itu masih 26 tahun. Dan, cuma beberapa bulan setelah diangkat sebagai abdi negara, ia menikahi perempuan yang kini menjadi ibu dari buah hatinya yang berusia setahun.

Gaji sebulan sudah habis dalam dua minggu

Awal-awal menjadi ASN, Hasan menikmati betul kehidupannya. Bayangan kehidupan ideal yang pernah ia bayangkan, akhirnya tergapai juga.

Namun, makin ke sini, ia merasakan kehidupannya semakin berat. Apalagi kalau sudah berbicara soal gaji.

“Percaya nggak percaya, sekarang itu rasa-rasanya gaji sebulan abis dalam dua minggu aja. Kayak nggak tahu aja kemana larinya,” kata dia.

Iklan

Hasan tak merinci terkait uang yang bisa ia bawa pulang tiap bulannya. Namun, sebagai gambaran, untuk ASN staf golongan IIIa sepertinya, gaji pokoknya berkisar di angka Rp3 juta. Itu belum termasuk tunjangan keluarga, tunjangan makan, dan tunjangan umum, yang kalau ditotal tak lebih dari Rp4,5 juta.

“Enak sih enak, dapat penghasilan pasti tiap bulannya,” ujarnya. “Tapi itu nggak seberapa dibanding pengeluaran tiap bulannya yang lebih besar.”

Sandwich generation yang banyak tagihan

Ada alasan mengapa pengeluaran bulanan Hasan begitu besar. Di samping untuk membiayai keluarga intinya (istri dan anak), ia juga merupakan seorang sandwich generation.

Ada orang tua dan dua adik (masih SMP dan SMA) yang harus dia tanggung.

“Gimana coba caranya muterin duit 4 juta sebulan untuk keluarga besar gitu?” keluhnya.

Apalagi fakta bahwa dari jumlah kepala yang ia tanggung, cuma dirinya yang bekerja. Istrinya ibu rumah tangga, sementara kedua orang tuanya sudah tua. Mereka sudah tidak bekerja, ke kebun pun cuma biar ada “kesibukan” saja.

Belum lagi, setelah menikah Hasan memutuskan meminjam uang yang cukup besar ke bank (modal SK ASN) untuk membangun rumah baru bagi dia dan istri. Tiap bulannya, cicilannya tak sedikit. Inilah yang bagi Hasan semakin menyiksa fisik dan batinnya.

Ortu sering pamer soal pencapaiannya

Bagian yang paling menguras energi Hasan adalah, ia tak pernah menceritakan betapa susahnya menjadi ASN kepada orang tua. Mereka hanya tahu bahwa jadi ASN itu enak, serba berkecukupan. 

Alhasil, orang tuanya, dengan penuh kebanggaan, sering pamer terkait pencapaian itu. 

“Bapak sama ibu itu tiap kali ngomongin aku jadi PNS, suka dilebih-lebihkan. Bilangnya gaji sekian lah, sudah punya rumah lah, inilah, itulah, sampai aku sendiri sebenarnya malu,” kata dia.

Jujur saja, ketika mendengar itu ia tak bisa berbuat banyak. Ia mewajarinya karena siapa, sih, orang tua yang tidak bangga anaknya sudah sukses?

Namun, ada kalanya juga ia merasa getir, karena di balik gembar-gembor orang tuanya itu, dia sendiri sedang mikir keras bagaimana sisa gajinya cukup sampai akhir bulan.

Teman suka meminjam uang yang susah buat ditolak

Tak sampai di situ, selain harus menghidupi banyak kepala dan tumpukan tagihan, ada satu lagi yang memberatkan Hasan: menjadi “ATM berjalan” bagi teman-temannya. Mentang-mentang profesinya ASN, ia dianggap selalu ada uang.

Alhasil, kalau ada temannya yang butuh uang, pasti selalu datang kepadanya buat ngutang. 

“Kalau minjam tapi baliknya tepat waktu sih nggak apa-apa. Masalahnya mereka sering telat, bahkan mungkin lupa kalau ngutang,” ujarnya.

Kendati sudah tahu risikonya, Hasan tak bisa menolak. Yang pinjam uang ini biasanya adalah teman-teman baiknya yang mungkin sudah dianggap keluarga. Apalagi kalau alasan yang dipakai ngutang untuk mencukupi kebutuhan keluarga, rasanya tak tega buat menolak.

“Makanya, kalau ada temen minjem duit. Rasanya kayak dipalak. Hahaha.”

Pun, kalau berasalan nggak punya uang, rasa-rasanya mustahil. Alasan ini tidak akan bisa diterima karena sudah jadi rahasia umum kalau ASN itu “dianggap” selalu berduit.

“Jujur, kalau dibilang menyesal sih nggak juga. Cuma ya aku nggak menikmati juga jadi ASN. Mungkin ekspektasiku aja yang dulu ketinggian,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rasanya Jadi Perantau Mengurus KTP Hilang di Dukcapil Sleman: “Sat-Set”, Lima Menit Selesai, Tidak Ribet Seperti di Tangerang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

 

Terakhir diperbarui pada 19 Juni 2025 oleh

Tags: Abdi Negaraaparatur sipil negaraASNcasnkerja asnpilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)
Catatan

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO
Sehari-hari

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Edumojok

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Yamaha Mio Sporty 2011 selalu mogok di Jogja. MOJOK.CO

Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

20 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.