Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Rela Bayar UKT Mahal demi Bisa Sarjana, Usai Lulus Ijazah S1 Malah Susah buat Cari Kerja

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 April 2025
A A
Ijazah S1 makin susah buat cari kerja. Loker pembantu jadi rebutan sarjana MOJOK.CO

Ilustrasi - Ijazah S1 makin susah buat cari kerja. Loker pembantu jadi rebutan sarjana. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jebakan keterampilan untuk sarjana yang bermodal ijazah S1

Dampak minimnya lapangan kerja bisa saja berbeda bagi setiap lapisan masyarakat.

Misalnya, bagi yang masih memiliki kemampuan finansial untuk mengasah keterampilan ataupun melanjutkan pendidikan, mungkin masih bisa bertahan.

Iklan

Tapi kondisi berbeda jelas akan dialami oleh mereka yang tidak bisa mendapatkan penghasilan tanpa bekerja. Termasuk para sarjana yang mengandalkan ijazah S1 yang mereka dapat dari bertahun-tahun kuliah dengan biaya mahal.

Kata Dian, situasi tersebut berisiko memunculkan skill trap atau jebakan keterampilan.

“Mereka terpaksa bekerja di sektor-sektor yang tidak sesuai dengan kompetensi. Biasanya mengambil pekerjaan di bawah kualifikasi yang mereka miliki. Ini memunculkan fenomena skill trap,” terangnya.

60% masyarakat pekerjakan diri sendiri

Fenomena skill trap, jelas Dian, merupakan kondisi di mana seseorang tidak mendapatkan penambahan kompetensi sesuai bidangnya. Skill trap dapat disebabkan oleh tidak adanya wadah yang sesuai untuk melatih dan mengelola kompetensi. Seseorang hanya bekerja untuk mendapatkan penghasilan dan bertahan hidup.

Fenomena ini, lanjut Dian, cukup menjelaskan tren pekerja informal yang meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 pekerja sektor informal mencapai 74,09 juta orang (57,27% dari populasi). Kemudian meningkat di tahun 2024 hingga 84,13 juta orang (59,17% dari populasi).

“Hampir 60% masyarakat kita bekerja secara self-employed, mempekerjakan dirinya sendiri karena tidak ada lowongan. Kita juga mengenal Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tapi dengan kondisi ekonomi seperti ini, UMKM juga sulit bertahan,” terang Dian.

“Kabur Aja Dulu” jadi solusi?

Atas kondisi dalam negeri yang makin tak pasti, tak heran jika belakangan sempat mencuat #KaburAjaDulu. Sebagai ungkapan rencana meninggalkan Indonesia ke luar negeri demi harapan hidup yang lebih terjamin.

Terlebih, banyak negara lain tengah mengalami kekurangan tenaga kerja akibat ketersediaan populasi angkatan kerja yang minim.

Bahkan, dari laporan-laporan yang masuk ke Mojok, ada banyak mahasiswa yang kuliah di luar negeri—baik S1 (sarjana) maupun S2 hingga S3—setelah tuntas masa studinya memilih menetap di luar negeri. Karena merasa hidupnya lebih terjamin di sana.

Dian melihat “Kabur Aja Dulu”—dalam artian menjadi pekerja migran di luar negeri—menjadi salah satu bentuk solusi. Meskipun tetap bisa diperdebatkan.

Katanya, sejak dulu, pekerja migran telah menjadi opsi menarik bagi berbagai kalangan. Maka, menurut Dian, kondisi negara seperti Hongkong, Taiwan, dan Jepang yang sedang mengalami usia penduduk tua, bisa menjadi kesempatan bagus bagi angkatan kerja Indonesia.

Iklan

“Pekerja migran dianggap sebagai “pahlawan devisa” juga. Ya karena ada pendapatan negara di sana. Meskipun banyak lowongan yang umumnya low skilled, tapi yang high skilled saya kira juga banyak. Ini bisa jadi opsi yang debatable,” tutur Dian.

Hanya saja, Dian menggarisbawahi, pemerintah tetap harus mengambil andil dalam upaya memaksimalkan pekerja migran. Pemerintah harus mampu mengakomodasi kebutuhan seperti pelatihan, seleksi negara tujuan dan penerima jasa, serta jaminan perlindungan pekerja migran.

Harapan Dian, pemerintah dapat mengambil kebijakan yang menguntungkan bagi situasi ekonomi dan politik, dan juga menaungi seluruh lapisan masyarakat.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Modal Ijazah SMA Merantau ke Jakarta demi Hidup Lebih Baik Malah Bernasib Sial, Pindah ke Jogja Makin Ngoyo Hidupnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 11 April 2025 oleh

Tags: ijazah s1loker s1pilihan redaksisarjanasarjana susah cari kerja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

burnout kerja kantoran mojok.co

Mencintai Pekerjaan tanpa Harus Menyukai Orang-Orang di Dalamnya

4 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Putus pertemanan di lingkungan kantor yang toxic. MOJOK.CO

Putus Pertemanan dengan Rekan Kerja Toxic adalah Jalan Terakhir Saya Hidup Bahagia dari Drama Usia 30-an

5 Agustus 2026
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.