Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sulitnya Menghadapi Ekspektasi Tinggi Ibu pada PNS, Paksa Anak Daftar CPNS meski Tahu Sistemnya Tak Beres

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Maret 2025
A A
Susahnya berdebat pada ibu yang minta anaknya ikut CPNS di Jakarta, karena ekspektasi PNS hidup sejahtera MOJOK.CO

Ilustrasi - Susahnya berdebat pada ibu yang minta anaknya ikut CPNS di Jakarta, karena ekspektasi PNS hidup sejahtera. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berita pengunduran pengangkatan CPNS 2024 membuat Sevi (27) makin malas untuk daftar PNS. Dia merasa sistemnya makin lama makin tidak beres. Tidak menutup kemungkinan juga di periode-periode selanjutnya menjadi lebih parah. Masalahnya, perempuan asal Jakarta tersebut amat susah mendebat ibunya, yang masih menganggap PNS sebagai profesi prestisius.

Minat menjadi PNS di Jakarta

Sevi lulus kuliah dari jurusan Biologi sebuah kampus di Jakarta pada 2021. Ibunya memang mendorong betul agar Sevi menjadi PNS.

Semula, Sevi sejalan dengan dorongan sang ibu. Dulu, dia mengincar mendaftar CPNS di Jakarta untuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Selain itu, di keluarga Sevi belum ada satu pun anggota keluarga yang menjadi PNS. Sevi bahkan menjadi satu-satunya anggota keluarga yang bisa sampai lulus kuliah.

“Makanya keluarga berharap aku jadi PNS,” ucapnya berbagi cerita, Senin (10/3/2025) malam WIB. Karena bagi keluarga Sevi, PNS adalah pekerjaan mapan.

“Dulu tertarik (ikut CPNS) waktu LIPI masih ada. Aku pengin banget jadi peneliti di LIPI. Tapi belum juga usahaku buat masuk berbuah hasil, eh LIPI-nya udah melebur ke BRIN,” sambung perempuan Jakarta itu.

Untuk diketahui, LIPI dulu merupakan badan terpisah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lalu berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 78 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), beberapa lembaga penelitian di Indonesia—termasuk LIPI—melebur dalam BRIN.

LIPI lalu berganti menjadi Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati dan Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Kebumian.

Memilih menjadi pekerja swasta

Sebenarnya tidak ada perubahan maupun perbedaan yang signifikan dari peleburan tersebut. Namun, Sevi mencoba mencari pengalaman dengan menjadi pekerja swasta di Jakarta.

Memang masih karyawan kontrak. Akan tetapi, secara gaji bisa lah bersaing dengan gaji PNS yang sering dibangga-banggakan.

Terlebih, seiring waktu, PNS kerap dihantui oleh bayang-bayang kebijakan yang penuh ketidakpastian. Seperti isu seretnya tunjangan kinerja (Tukin). Belum implikasi-implikasi tak menyenangkan lain akibat efisiensi anggaran—dalam konteks era pemerintahan Prabowo-Gibran sekarang ini.

“Tapi aku sebenarnya pernah nyoba daftar CPNS dari 2023. Tapi gagal,” kata Sevi. Sekadar untuk menunjukkan pada orangtuanya juga kalau mendaftar CPNS tidak semudah itu.

Hanya saja, orangtua Sevi terlanjur menaruh ekspektasi tinggi terhadap profesi sebagai abdi negara tersebut. Maka, desakan agar Sevi terus mencoba agar bisa jadi PNS pun tak lekas surut, justru makin menggebu.

Baca halaman selanjutnya…

Iklan

Sulitnya menghadapi ekspektasi ibu

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2025 oleh

Tags: CpnsPNSpns jakarta
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
Pojokan

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO
Urban

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan MOJOK.CO

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan

24 Juli 2026
Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31 jadi sumber sukacita dan perkuat posisi Yogya sebagai Kota Budaya di mata dunia MOJOK.CO

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31: Sumber Sukacita dan Perkuat Posisi Yogya sebagai Kota Budaya di Mata Dunia

22 Juli 2026
Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.