ADVERTISEMENT

Dianggap Aib Keluarga karena Jadi Sarjana Nganggur Selama 5 Tahun di Desa, padahal Sibuk Jadi Penulis

Sarjana nganggur digosipin saudara. MOJOK.CO

Kejadian itu membuat Putri tak berani keluar rumah selama dua tahun, ia takut dicemooh lagi sebagai sarjana nganggur saat bertemu orang di sekitarnya. Meski begitu, Putri tetap menulis. Ia mengubah naskah ceritanya sedikit-sedikit dan mengirim ulang karyanya ke penerbit lain.

“Sejatinya, buku ini nggak jauh-jauh dari kisahku. Buku ini mengulas tentang seseorang yang tumbuh dengan menerima banyak penolakan, selalu diabaikan, dan tuntutan untuk menjadi orang yang sempurna oleh orang tuanya maupun orang di lingkungan sekitarnya sejak kecil, sehingga menciptakan luka batin hingga dewasa,” tutur Putri.

Buku pertama akhirnya terbit, beriringan dengan meninggalnya ayah

Siapa sangka, beberapa bulan kemudian Putri akhirnya mendapat kabar baik dari penerbit. Sayangnya, kabar gembira itu beriringan dengan kabar buruk yang ia terima di awal tahun 2025.

“Hari itu juga, ayahku meninggal. Aku nggak sempat ngecek HP, ternyata beberapa jam sebelum ayahku meninggal aku dapat kabar dari penerbit Loka Media kalau naskahku lolos,” ucapnya.

Buku Putri pun akhirnya terbit pada September 2025 dengan judul “Di Tengah Perjalanan, Apa Aku Boleh Menangis?”. Kini, ia telah mematahkan anggapan orang-orang yang menilai dirinya sebagai sarjana nganggur.

Putri berharap buku tersebut dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya mereka yang sedang mengalami masa berat dalam hidup. Sebab, ia paham betul bagaimana rasanya ditolak, dianggap gagal, dan tak punya support system untuk membantu.

“Aku paham betul bagaimana rasa-rasanya. Kadang-kadang perasaan itu membuat kami berpikir sempit. Seolah hidup tuh hanya di ruangan itu-itu saja dan kita lah yang paling menderita. Padahal kalau kita bisa keluar dan melihat, ternyata banyak sekali loh orang-orang yang mengalami hal serupa,” ujar Putri.

Oleh karena itu, lewat buku pertamanya, Putri ingin membagikan cerita “Di Tengah Perjalanan, Apa Aku Boleh Menangis?” agar pembaca tidak merasa sendirian. Ia ingin memberitahu ke orang-orang bahwa mereka tidak sedang menghadapi masalah sendirian.

“Satu hal yang mungkin pahit, bahwa satu-satunya yang bisa menolong kalian tuh ya benar-benar kalian sendiri. Walaupun kalian nggak tahu gimana caranya, yang penting kalian jangan pernah berhenti untuk melangkah dan tetap fokus dengan apa yang ada di depan.” Ujar Putri.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Putus Asa usai Ditolak Kerja Ratusan Kali, Sampai Dihina Saudara karena Hanya Jadi Sarjana Nganggur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2025 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.