Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pengalaman Pertama Naik Bus di Terminal Bungurasih Masih Menakutkan karena Calo, tapi Masih Ada yang Lebih Seram dari Itu

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
7 Juni 2025
A A
Terminal Bungurasih. MOJOK.CO

ilustrasi - Terminal Bungurasih masih jadi sarang penipu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salah satu alasan Eka Puji (24) lebih memilih naik bus dari Terminal Bungurasih, ketimbang kereta api adalah tiket kereta sudah habis saat ia ingin pergi liburan dari Surabaya ke Jogja. Sebetulnya, ia sudah pesan tiket jauh-jauh hari lewat Access by KAI tapi entah kenapa aplikasi di gawainya selalu ngadat. 

Biasanya, Eka lebih memilih menggunakan kereta api karena estimasi waktu perjalanannya dapat lebih cepat. Sekitar 5 jam lebih sedikit untuk perjalanan dari Surabaya ke Jogja. Eka pun sempat meminta tolong temannya untuk memesankan tiket kereta dari akun lain yang bukan miliknya, tapi tiket keberangkatan kereta Sri Tanjung sudah habis. 

“H-seminggu tiket kereta api itu sudah banyak yang habis karena mungkin waktu itu long weekend juga kan,” ujar Eka  

Ia sendiri tak mau membeli tiket kereta lain, sebab kereta Sri Tanjung memang lebih murah jika dibandingkan dengan kereta Logawa misalnya. Alhasil, Eka mencari alternatif transportasi lain yakni bus antar kota. 

Namun, kurang dari seminggu sebelum keberangkatannya, Eka gelagapan mencari informasi seputar bus lantaran itu adalah pengalaman pertamanya. Ia pun mulai mengorek-ngorek informasi di internet hingga bertanya kepada teman-temannya yang kemungkinan pernah naik bus. 

Ndilalah, banyak temannya yang jarang menggunakan bus dari Surabaya ke Jogja, apalagi untuk liburan sendiri. Kalau pun berangkat dengan bus, biasanya mereka pergi rombongan. Akhirnya, ia mencari informasi lewat mesin pencari seputar harga bus dan jenisnya di Terminal Bungurasih.

Tetap waspada dan menaruh curiga

“Kalau dilihat dari informasi yang ada di internet aku merasa harga bus di Terminal Bungurasih masih terjangkau. Sesuai dengan budget liburanku dari Surabaya ke Jogja,” kata Eka.

Setelah mengetahui kisaran harga dan jenis bus yang akan dipakai, kebingungan Eka masih berlanjut. Bagaimana cara ia membeli tiket bus tersebut? Beberapa temannya juga tak tahu cara membeli tiket bus secara online, mereka justru menyarankan agar datang langsung ke loket Terminal Bungurasih.

“Akhirnya, aku diantar temanku ke sana, bahkan sampai masuk Terminal Bungurasih,” ujar Eka.

Mulanya, Eka sedikit bingung kenapa temannya ini mau menemaninya sampai masuk ke Terminal Bungurasih. Rupanya, ia khawatir kalau Eka kena tipu.

Temannya mengingatkan agar selalu waspada saat membeli tiket langsung di Terminal Bungurasih. Sebab, berdasarkan cerita yang beredar, banyak calo yang mangkal di sana. Mereka pun menawarkan harga dua kali lipat dari biasanya.

“Jadi salah satu saudara temanku itu pernah beli tiket bus dari Surabaya ke Malang. Dia kena harga calo sampai harganya Rp100 ribu ke atas padahal harga aslinya nggak sampai segitu,” ujar Eka.

Terminal Bungurasih selalu ramai di momen libur

Sesampainya di Terminal Bungurasih, sekitar pukul 07.00 WIB, Eka sudah melihat orang-orang berlalu-lalang. Suasananya sudah ramai, apalagi di hari-hari long wekeend. Menurut penelusuran Mojok di media sosial TikTok, sejumlah akun memposting sebuah video yang menunjukkan ramainya warga Surabaya memadati Terminal Bungurasih pada musim libur Iduladha.

Eka juga pernah merasakannya saat libur kenaikan Isa Almasih pada Kamis (29/5/2025) lalu. Meski tak sebanyak penumpang yang ditunjukkan pada video di atas, Eka masih melihat pengunjung maupun bapak-bapak yang sudah berjejer di lorong Terminal Bungurasih sejak pagi.

Iklan
@efyepe95 sg gak bagian bis tunggu sampe pagi🤣 #bungurasih #terminalbungurasih #sidoarjo #sidoarjo24jam #surabaya #surabaya24jam ♬ suara asli – Efyp

“Sekitar pukul 07.00 WIB aku sudah tiba di Terminal Bungurasih dan ternyata emang bener kata temanku, aku nggak tau ya mereka ini calo, kernet, atau apa tapi aku merasa risih saja karena terkesan sering ditodong dan ditarik buat ikut mereka,” tutur Eka.

Kejadian itu tak hanya dialami Eka, malahan, Nur Falaah yang juga pengguna bus di Terminal Bungurasih berujar pernah ketipu harga makanan di sekitar sana. Jadi, bentuk penipuan yang ia alami tak sebatas melihat realita banyaknya calo di sekitar Terminal Bungurasih. Melainkan, harga makanan yang dijual tak seperti harga normal biasanya. 

Saat itu, keluarganya hendak membeli rawon di sebuah warung sekitaran Terminal Bungurasih. Ayah dan ibu Nur Falaah memesan rawon, sedangkan dia sendiri memesan pecel. Mulanya, Nur Falaah tak kaget karena harga pecelnya masih standar yakni Rp20 ribu, tapi yang menjadi masalah adalah harga rawonnya.

“Pecelku harganya masih terhitung masuk akal, Rp20 ribu satu porsi. Sedangkan, rawon ini harganya dibanderol Rp50 ribu per porsi. Masalahnya, daging rawonnya ini cuman 3 slice kecil plus tipis, nggak berasa rempahnya. Alhasil, nyokap waktu itu pas pulang bete banget,” tutur Nur Falaah.

Untung ada petugas Terminal Bungurasih

Untungnya, Eka tak apes seperti Nur Falaah. Ia dan temannya yang mengantarkan ke terminal sudah waswas dari awal masuk Terminal Bungurasih. Terlebih, temannya ini punya kemampuan menghindar. Jadi, saat mereka ditanya bapak-bapak yang berjejer tadi, mereka hanya menjawab “tidak” sambil lewat, meski ada saja perasaan gusar karena Eka merasa tak sopan.

Sebelum datang ke Terminal Bungurasih, Eka juga sudah melihat referensi harga di internet. Jadi saat tiba di Terminal Bungurasih, ia langsung datang ke lobi untuk bertanya soal informasi tiket. Petugas terminal pun cukup responsif dan memberitahu caranya membeli tiket. Ia pun diarahkan ke petugas customer service.

“Nah ternyata aku bisa langsung memilih jenis bus dan memesan tiket di sana. Aku juga diarahkan nanti naiknya di lorong mana,” ujar Eka.

“Petugasnya juga bilang, nanti kalau dimintai lagi di dalam bus nggak usah bayar,” lanjutnya.

Dari arahan tersebut, Eka merasa selamat. Setidaknya dia tidak tertipu calo pada pengalaman pertamanya naik bus di Terminal Bungurasih. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang 

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bukan Calo, Tukang Gendam Adalah Ancaman Paling Mengerikan di Terminal Bungurasih Surabaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 7 Juni 2025 oleh

Tags: Calo Tiketharga tiket busJogjapenipuan di terminalSurabayaTerminal Bungurasih
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.