Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Bos yang Toxic adalah Waktu yang Tepat untuk Resign

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
20 Januari 2024
A A
Bos yang Toxic adalah Waktu yang Tepat untuk Resign MOJOK.CO

Ilustrasi Bos yang Toxic adalah Waktu yang Tepat untuk Resign. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tak ingin kondisi mentalnya terganggu karena bos yang toxic, beberapa orang memilih untuk resign atau keluar dari pekerjaan. Beberapa yang lainnya memilih untuk bertahan karena hidup tanpa pekerjaan adalah sesuatu yang berat.

***

Hujan rintik-rintik di Jumat malam, 19 Januari 2024 mempertemukan saya dengan Reza (31) di sebuah kafe kopi di bilangan Jalan Palagan, Sleman, Yogyakarta. Reza mewanti-wanti saya untuk menyembunyikan nama aslinya karena menjaga perasaan teman-temannya.

Resign karena bos yang toxic dan intervensi pekerjaan

Sekitar dua minggu yang lalu ia akhirnya memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai salah satu produser di sebuah production house di Yogyakarta. “Aku gabung baru Februari 2023, secara gaji tinggi untuk ukuran Jogja, tapi aku sudah nggak tahan,” katanya. 

Perusahaan tempatnya bekerja mengelola beberapa channel YouTube dengan subscriber di atas 1 juta. Tugasnya sebagai produser adalah mengonsep konten dari pra-produksi hingga pasca-produksi. “Yang buat jengkel awalnya karena apa yang saya rencanakan bos selalu intervensi tanpa komunikasi lebih dulu,” katanya. 

Misalnya saja, tanpa konfirmasi pada dirinya sebagai pihak yang bertanggungjawab, bos sekaligus pemilik usaha itu meminta tim editing untuk mengedit video sesuai kemauannya. Padahal tanggung jawab itu harusnya pada diri Reza sebagai produser. 

Lebih dari itu, yang membuatnya overthinking dan mulai berpikir dirinya tidak kompeten adalah omongan bos di belakangnya. “Dia bilang ke karyawan lain kalau hasil editing saya jelek. Padahal kalau diomongin langsung ke saya kan lebih enak. Kalau diam-diam, kan saya malah jadi kepikiran,” kata Reza.

Banyak hal lain yang menurut Reza menilai atasan sekaligus pemilik usaha tersebut toxic. Kejadian itu terus berulang selama berbulan-bulan, Reza memutuskan untuk resign. Ia tidak ingin mentalnya justru terganggu karena menghadapi bos yang toxic di tempat kerja. 

Berani resign meski istri sedang hamil

Keputusannya resign tergolong berani karena istrinya dalam kondisi mengandung 6 bulan yang merupakan anak pertamanya. 

“Saya sudah mantapkan sih untuk mundur, kalau soal rezeki, yakin saja ada,” kata Reza. Ia tidak mau setiap hari justru kepikiran dengan apa yang bosnya lakukan padanya.

Kebutuhan sehari-hari ia tutupi sebagai freelance editor video wedding. Di sisi lain, ia kembali menekuni cita-citanya untuk serius menekuni dunia film.

Dalam sebuah kesempatan lainnya saya bertamu dengan Olga (28) yang akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaannya di Jakarta di sebuah agensi kreatif. Ia tidak kuat dengan karakter bosnya yang selalu berkata kasar pada anak buahnya, termasuk dirinya. 

“Kasar banget omongannya, sukanya maki-maki karyawan. Takut lah kalau ketemu dia di kantor,” katanya. Kadang atasannya juga sengaja menciptakan konflik antar-karyawan.

Awalnya ia mencoba bertahan karena bekerja di sebuah perusahaan besar adalah cita-citanya. Selain itu, ia masih menghadapi pikiran, kalau resign maka ia akan mulai dari nol lagi.

Iklan

Ia tahu teman-temannya di tempat kerja juga merasakan hal yang sama. Namun, padatnya pekerjaan dan tuntutan kebutuhan sehari-hari membuat dirinya dan teman-temannya mengabaikan pikiran yang timbul tenggelam untuk resign.

Kena psikosomatis karena bos yang kasar

Dokter juga mendiagnosisnya kena psikosomatis, yaitu suatu kondisi yang menggambarkan saat munculnya penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental. “Jantung berdebar-debar, nyeri kepala, sesak napas, susah tidur, tidak nafsu makan itu alami,” kata Olga. 

Ilustrasi bos toxic di tempat kerja. (Photo by Amy Hirschi on Unsplash)

Puncaknya saat kondisi mentalnya itu juga berpengaruh pada fisiknya. Ia kena tipes. Titik itu menurutnya jadi waktu yang tepat untuk resign dan keluar dari bos yang toxic. 

“Orang tua juga mendukung keputusanku. Mereka minta aku pulang ke Jogja dan bantu usaha mereka. Tapi selain itu juga mengambil beberapa pekerjaan freelance,” kata Olga.

Cerita Olga, mirip yang Herta (27) alami. Sudah setahun ini ia menjadi karyawan di sebuah startup asal Jepang. Ia kebetulan bekerja di kantor yang ada di Jogja. Herta bahkan sampai menilai dirinya nggak berharga sebagai manusia. 

Salah seorang atasan selalu menekan dan mengkritiknya di depan karyawan lain. Padahal ia termasuk karyawan baru yang butuh pendampingan. 

Situasi semakin buruk karena ada sebagian karyawan lain yang menurutnya juga toxic. “Mereka selalu ngomong manis di depan kita, tapi pas nggak ada, omongannya kejam,” kata Herta saat ngobrol di warung makan di kawasan Jalan Magelang.

Selamat dari bos beracun karena pindah divisi

Ia sudah menyiapkan surat untuk resign sampai kemudian atasan lain di tempatnya bekerja “menyelamatkannya”. “Atasanku yang lain memindah aku ke divisi yang tidak mengharuskan ketemu dengan atasan satunya yang toxic dan kerjanya tak menuntut sering berkomunikasi dengan teman-teman yang toxic,” katanya tertawa.

Soal atasan dan lingkungan toxic, Herta sebenarnya pernah mengalaminya. Bahkan kondisinya lebih parah dari kantornya yang sekarang.  Ia bahkan langganan ke psikolog dan psikiater karena kondisinya mentalnya yang terganggu. 

Ia saat itu memilih bertahan karena ia membayangkan hidup tanpa pekerjaan juga akan lebih berat dari sekadar menghadapi atasan yang toxic.

“Tapi, pas pandemi kan WFH ya, nah itu titik aku merenung. Kalau aku terus kerja dengan atasan dan lingkungan kerja yang toxic, kondisi mentalku nggak akan membaik dan aku juga dari sisi karier mungkin nggak berkembang. Aku akhirnya memutuskan resign,” kata Herta. 

Mengutip Tempo.co, soal atasan yang toxic ternyata banyak terjadi di organisasi di seluruh dunia. Seorang profesor dari Universitas Johannesburg di Afrika Selatan menunjukkan sekitar tiga dari 10 pemimpin itu toxic.  Universitas Manchester pernah melakukan studi kepada 1.200 orang, hasilnya riset tersebut menemukan efek kepemimpinan yang beracun adalah penindasan di tempat kerja, perilaku kerja kontraproduktif, ketidakpuasan kerja, ketegangan psikologis, serta depresi dan kelelahan.

Resign karena bos toxic adalah pilihan terakhir

Namun, pilihan untuk resign ketika menghadapi bos yang toxic sebaiknya menjadi pilihan terakhir. Mengutip The Muse yag dilansir Kompas.com, resign di waktu yang tepat karena atasan yang toxic sebaiknya jika sudah kehabisan opsi lain untuk merasa nyaman dan tenang dalam bekerja.

Selain itu, keluar dari tempat kerja karena atasan yang toxic setelah sebelumnya melakukan beberapa upaya terlebih dulu. Misalnya, memberi tahu atasan yang toxic secara lugas. Langkah lain adalah memahami (bukan memaafkan) dari setiap perilaku toxic bos atau atasan. Langkah lain adalah bisa berkonsultasi dengan divisi lain atau orang dengan jabatan lebih tinggi di tempat kerja.

Jika tidak ada opsi lain resign adalah pilihan. Namun, sebaiknya tidak terburu-buru keluar dari pekerjaan sebelum mendapat tempat kerja baru. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammm Izzuddin

BACA JUGA Derita Fresh Graduate yang Kerja: Kami Nggak Manja dan Lebai, Kami Itu Capek!

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2024 oleh

Tags: bos yang toxickerjaresigntoxic
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Mendalam

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
5 tahun pakai WHV di Australia, kena mental. MOJOK.CO
Sosok

Sisi Gelap Kerja di Australia Tak Seindah Konten Medsos, Sadar bahwa Bahagia Tak Melulu soal Gaji Ratusan Juta

2 Mei 2026
mabar game online.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO
Urban

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar S2 Kesehatan Masyarakat dan S1 Kedokteran sebelum usia 25 tahun

Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun

1 Mei 2026
Mayday 2026: Buruh tuntut 8 poin. MOJOK.CO

8 Tuntutan “Jujur” Buruh di Mayday 2026: Ciptakan Lapangan Kerja, Kendalikan Dampak AI, hingga Lindungi Pekerja Platform Digital

2 Mei 2026
Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO

Solusi atas Jeritan Hati Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

30 April 2026
Penumpang KRL Jakarta lebih manusiawi dibanding penumpang KRL/Commuter Line Jogja

KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

4 Mei 2026
Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.