Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Aura Farming Pacu Jalur bikin Iri Orang PSHT: Sama-sama Mendunia tapi PSHT bikin Malu, Diajak Perbaiki Diri Nggak Mau

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
18 Juli 2025
A A
Anggota pencak silat PSHT iri dengan aura farming pacu jalur MOJOK.CO

Ilustrasi - Anggota pencak silat PSHT iri dengan aura farming pacu jalur. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bukan introspeksi malah songong

Ironisnya, caci maki dan hujatan yang sebenarnya berbasis fakta itu, tidak direspons secara jernih oleh oknum-oknum anggota PSHT. Kalau menurut Niam (27), kebanyakan yang merespons tidak lebih seperti bocil-bocil yang secara emosi belum matang sama sekali. Sehingga cenderung reaktif dan denial terhadap kesalahan.

Niam mengambil contoh komentar di unggahan Instagram Mojok berjudul, “Pacaran sama Pendekar PSHT: Dulu Merasa Bangga dan Keren Punya Pacar Jago Gelut, Setelah Putus Eh Imbasnya Nggak Hilang-hilang”.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh MOJOK (@mojokdotco)

“Ada yang komen, kalau nggak PSHT nggak FYP. Media butuh makan, carinya lewat PSHT. Kan denial sekali,” ucap anggota pencak silat PSHT asal Tuban, Jawa Timur itu.

Komentar-komentar tersebut tak pelak dibalas oleh netizen dengan tak kalah sengak, misalnya: “Dikritik nggak introspeksi malah songong,” atau “Jadi tukang onar kok bangga.”

Padahal, bagi Niam, kemarahan—hingga kemuakan publik—terhadap PSHT adalah alarm serius. Seharusnya bisa dijadikan sebagai pengingat kalau ada kesalahan yang perlu diluruskan, bukan malah membenar-benarkan yang salah.

“Jika terus begitu, yakin, sampai kapanpun, mau di Indonesia mau di Jepang, kesannya mesti buruk. Karena diajak berbenah malah denial terus,” keluh Niam.

Keirian PSHT kepada aura farming pacu jalur

Pencak silat—seperti PSHT—sebenarnya bukan bela diri pinggiran. Sebab, pencak silat menjadi olahraga yang juga dipertandingan di level internasional. Punya sejarah panjang pula.

Sayangnya, bagian itu tertutup kabut pekat lantaran keonaran yang kerap dipertontonkan oknum PSHT di daerah. Alhasil, kini publik lebih mengenalnya sebagai simbol keonaran alih-alih simbol warisan budaya Indonesia yang patut diapresiasi setinggi-tingginya sekaligus dilestarikan.

Baik Amirudin maupun Niam mengaku sama-sama iri dengan respons publik terhadap aura farming pacu jalur. Sama-sama simbol budaya, tapi aura farming pacu jalur mendapat respons yang sangat positif.

“Aura farming pacu jalur seperti jadi simbol budaya yang menyenangkan. Bukan yang rusuh-rusuh. Berdampak juga di segi pariwisata, bukan berdampak merugikan orang lain seperti konvoi-konvoi pencak silat,” kata Amirudin.

Iklan

“Seandainya oknum-oknum pencak silat PSHT kembali ke akar ajarannya yang luhur, jika nggak dapat sorotan positif, paling tidak PSHT nggak kena stigma buruk secara massal,” sambung Niam.

Lebih bisa banggakan aura farming pacu jalur

Amirudin dan Niam pun mengakui, mereka lebih bisa bangga ketika orang-orang luar negeri ramai-ramai mengikuti tren aura farming pacu jalur. Karena apa yang bisa dibanggakan dari bendera PSHT yang terbentang di sebuah jembatan di Jepang yang kemudian menuai banyak kecaman?

Awalnya ingin terlihat keren. Tapi justru berujung masalah dan—kalau kata Amirudin dan Niam—malah membuat malu orang Indonesia.

Amirudin dan Niam sama-sama berpendapat, rasa-rasanya perlu ada pembenahan secara menyeluruh baik di level pusat maupun pelosok-pelosok. Misalnya terkait pematangan emosional dan reinternalisasi nilai-nilai luhur.

“Orang PSHT dikritik terus reaktif ngajak share loc atau bahkan denial itu saja sudah nggak produktif. Belajar bela diri itu bukan kok dikit-dikit kalau ada masalah langsung main pukul, emosian, tersinggungan. Tapi justru bagaimana belajar menahan emosi, menahan diri, dan belajar mendengarkan,” ucap Amirudin.

“Pencak silat PSHT bukan untuk merasa sok keren. Misalnya dengan konvoi-konvoi di jalan. Nggak keren blas itu. Membuat orang lain merasa nggak nyaman dan nggak aman kalau berurusan dengan PSHT, itu juga tanda nggak ada keren-kerennya,” begitu kata Niam.

Bagi Niam, keren itu, jika tidak sampai pada tahap seperti aura farming pacu jalur, paling tidak ya tidak menjadi batu kerikil yang membuat orang lain tersandung. Jika tidak mampu jadi solusi atau prestasi, setidak-tidaknya jangan jadi sumber masalah. Itu saja sudah cukup, tak perlu sampai orang luar negeri (misalnya) ikut tren memeragakan kembangan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gara-gara Tolak Gabung PSHT demi Karate Jadi Dimusuhi Saudara Sendiri, Tak Menyesal karena Jauh dari Keburukan kayak Pencak Silat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2025 oleh

Tags: aura farmingpacu jalurpencak silatPSHT
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO
Kampus

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO
Ragam

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Atlet pencak silat asal Kota Semarang, Tito Hendra Septa Kurnia Wijaya, raih medali emas di SEA Games 2025 Thailand MOJOK.CO
Kilas

Menguatkan Pembinaan Pencak Silat di Semarang, Karena Olahraga Ini Bisa Harumkan Indonesia di Kancah Internasional

22 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.