Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Mahasiswa Jogja Cari Dana Event Kampus dengan Mengamen: Tanda Kreativitas Mahasiswa Seret atau Dana Kampus yang Mepet Banget?

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
2 April 2024
A A
Saat Wisatawan di Jogja Kewalahan Hadapi Pengemis dan Pengamen yang Mengintimidasi. MOJOK.CO mahasiswa event kampus

Ilustrasi Saat Wisatawan di Jogja Kewalahan Hadapi Pengemis dan Pengamen yang Mengintimidasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi kalian yang pernah terjebak lampu merah di Jogja, pasti sekali dua kali pernah melihat kumpulan mahasiswa mengamen untuk event kampus. Entah event charity, acara akhir tahun, atau makrab. Saya tentu tak asing dengan hal ini. Sebab, sekira 11-12 tahun lalu, saya juga jadi bagian mahasiswa yang mengamen tersebut. Meski, jujur saja, saya tak terlalu suka hal tersebut.

Bagi saya, tak sepatutnya mahasiswa mengamen untuk cari dana acara kampus. Mahasiswa lumrahnya ya cari sponsor, kreatif perkara cari dana, dan jika acara tersebut memang hajat kampus, ya urusan kampus perkara menyediakan dananya. Bukan dibebankan pada mahasiswa yang pada dasarnya hanya jadi pelaksana saja.

Apalagi di Jogja, yang dipenuhi pengamen yang punya skill dan mempergunakannya untuk bertahan hidup, bukan untuk diserahkan kepada kampus.

Tapi, saya sedikit memahami kenapa ngamen jadi jalan bagi para panitia event kampus untuk menutup dana. seperti yang saya sudah bilang, saya pernah ikutan ngamen, jadi saya tahu kenapa keputusan ngamen tersebut diambil. Tetap saja, saya tak setuju-setuju amat dengan hal itu.

Maka, saya bertanya kepada para pelaku ngamen lain, dan orang yang jelas punya sudut pandang berbeda dengan saya. Siapa tahu, informasi dari mereka, bisa membuat saya, dan mungkin kalian para pembaca, saat mau nyinyir mahasiswa yang ngamen buat event kampus di Jogja.

Saya mewawancarai Syafiq, mantan Ketua EDSA, ormawa Pendidikan Bahasa Inggris UNY, dan Bugis, mahasiswa Sastra Inggris, anggota Edsacoustic dan gitaris Holiday With Masha. Kedua orang ini, saya pikir, punya pendapat otoritatif perkara fenomena mahasiswa mengamen di Jogja

Mahasiswa mengamen karena duit kampus seret

Jam menunjukkan 00.18 ketika saya memulai percakapan dengan Syafiq. Bukan waktu yang proper untuk melakukan wawancara, tapi waktu yang tepat bagi laki-laki untuk menyatakan kejujuran. Tak berlama-lama, saya langsung menanyakan pada Syafiq. Sebagai ketua, apakah dia setuju dengan mahasiswa mengamen untuk event kampus di Jogja. Jawabnya, setuju, dengan banyak catatan.

“Kesepakatanku dengan (alm) Jodi, wakil ketuaku saat itu, adalah anak-anak (anggota ormawa) boleh ngamen asal acara tersebut memang untuk umum. Bisa dinikmati siapa pun di Jogja. Untuk acara internal, aku jelas melarang.”

“Tapi memang aku nggak pernah secara eksplisit melarang ngamen, dan secara terang-terangan memberi saran ngamen. Cuma aku memang memahami, kalau nggak ngamen, dana acara nggak akan ketutup, Mas.”

“Kok bisa?”

“Soalnya dana dari kampus juga seret, Mas. Dana untuk ormawa itu turun cuman tiga kali. Maksudnya 3 gelombang, Mas. Itu pun waktunya nggak tentu. Banyak acara yang jalan duluan sebelum uang turun. Kita juga nggak bisa nyesuaiin acara dengan kapan duit turun. Lagian yang kena kayak gini bukan hanya EDSA, Mas. Tapi juga ormawa lain. Bayangin betapa hectic dan ribetnya rapat saat itu cuman perkara nentuin ormawa mana yang dapet duit dulu.”

“Dan jelas bukan kita aja, Mas, yang ngamen di Jogja. Dulu sempat ketemu anak dari UPN juga, mau ngamen buat USDA (usaha dana).”

Saya kaget. UPN? Salah satu kampus di Jogja yang terkenal isinya orang kaya itu?

“Cok, ngopo coba cah UPN golek duit?”

Iklan

“Hambuh, Mas, aku yo kaget.”

Guest star event kampus bikin beban (?)

Bugis ini kebetulan berbagi pandangan yang sama dengan saya: dia menolak keras mahasiswa ngamen untuk event kampus di Jogja. Apa pun alasannya, dia tidak bisa menerima. Sebab, jika memang perkara uang yang kurang, yang perlu dibenahi adalah perencanaannya.

“Ngene, Mas. Aku belum pernah lihat EO ngamen buat nutup uang event. Sponsor itu sebenere banyak, tapi nggak tau kenapa selalu jadi masalah. Padahal kalau tahu acaranya di akhir tahun, kan bisa digarap di awal.”

Selain itu, dia terkadang merasa malu ngamen hanya untuk nutup acara yang mengundang guest star yang nggak mahal-mahal amat. Baginya, ini menunjukkan kekurangan fatal panitia, yang dia juga ada di dalamnya.

“Bayangne, Mas, ngundang band X yang udah punya nama pas rate masih 5 jutaan, dananya kurang. Bisa dianggap ormawa nggak kuat ngundang band seharga 5 juta. Kalau itu terjadi sekarang, aku nggak bisa bayangin betapa malunya. Sekarang, band Jogja mana yang mau dibayar 5 juta, dan punya nama?”

Ketika dia bilang itu, saya tertarik untuk bertanya. Apakah misalnya jika nggak pakai guest star, dana bisa tertutup?

“Jane iso, Mas. Tapi pasti bakal ada yang bilang, masak nggak ngundang guest star gede? Nah, balik lagi ke esensi acara. Mau pamer guest star, atau bahagia bersama-sama? FBSB UNY kan salah satu kampus di Jogja yang punya banyak seniman, sebenarnya ya bisa pake jasa mereka.”

Perkara ini, Syafiq juga kurang lebih sama pendapatnya. Saya sempat bertanya hal yang sama, dan jawaban dia ya mirip-mirip.

“Ya aku dah sering denger mereka mau usaha lebih kuat saat bilang mau undang guest star X, misalnya. Aku sering ngingetin juga, Mas. Tapi, Mas dewe yo paham kan, kalau anak muda itu nggak bisa dibilangin. Kalau kejadian, baru paham.”

This shit hits me hard. Saya jadi mengingat-ingat masa muda saya yang begitu penuh keputusan bodoh. Damn.

Kreativitas mahasiswa yang seret

Meski setuju, Syafiq mengkritik kreativitas mahasiswa yang seret. Tak hanya ormawanya yang punya budaya ngamen. Ormawa lain pun begitu. Kampus lain pun begitu. Artinya, “penyakit” ini menyebar di Jogja.

Saya iseng bertanya ke Syafiq, kenapa tak ada juniornya yang mencoba mencari sponsor atau meminta alumni untuk menyumbang. Toh, jurusan Syafiq terkenal kuat ikatan alumni dan juniornya. Katakanlah ada 10 alumni menyumbang 100 ribu, sudah dapat 1 juta. Lumayan untuk menambal kekurangan kan?

“Nah, itu Mas. Selama aku kuliah, nggak ada yang kepikiran akan hal itu. semuanya kembali ke formula yang seniornya lakukan. Entah karena dipaksa, atau memang pada tinggal niru aja. Tapi mengingat aku nggak pernah memaksa kayak gitu, jadi ya kesimpulanku memang kreativitas mencari dana mahasiswanya seret.”

Bugis punya jawaban yang berbeda akan hal ini.

“Selain kreativitas mahasiswanya yang emang seret, koneksi antar-angkatannya memang nggak kuat, Mas. Contoh UGM, ikatan alumni Jakarta aja bisa bikin event. Kampus kita jelas beda. Akhirnya karena koneksi yang nggak kuat, mana bisa kepikiran minta sumbangan ke senior?”

Apakah harus ngamen untuk event kampus?

Saya mengulang pertanyaan untuk menegaskan stance kedua narasumber saya: setujukah mahasiswa mengamen untuk event kampus?

Tak berubah, Syafiq dan Bugis tetap pada pernyataannya. Syafiq kondisional, Bugis tetap menolak. Keduanya valid, keduanya punya alasan yang jelas. Pendapat mereka (mungkin) mewakili banyak orang di Jogja. Masalah tiap kampus tentu tak berbeda, jika solusinya terlihat sama, amat wajar.

Saya tak lagi jadi mahasiswa, jadi, pendapat saya tak penting, setuju atau tidak. Tapi yang jelas, mengamen untuk event kampus bisa jadi pembeda Jogja dengan daerah lain. Jogja mengajak mahasiswanya untuk kreatif dan menggunakan cara-cara yang bisa digapai untuk survive. Kreativitas mereka tanpa batas, dan meski kadang melanggar batas, tetap saja perlu diapresiasi.

Yah, begitulah jika kamu hidup di daerah dengan upah rendah. Kau akan dipaksa untuk kreatif mencari cara untuk selamat.

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Alasan Musisi Jalanan Tetap Bernyanyi di Perempatan Jalan Meski Suara Tak Didengarkan

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 2 April 2024 oleh

Tags: EOevent kampus jogjaJogjaMahasiswaPengamen
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co
Pojokan

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
Amplop nikahan jadi kebingungan untuk fresh graduate di Jakarta

Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

24 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.