Status sebagai karyawan bank tak membuatnya gengsi jualan mie ayam malam hari. Semua demi kebahagiaan istri, rumah idaman, dan orang tuanya.
***
Rasa kantuk yang menyerang membuat motor saya nggak stabil. Saya paham, dalam kondisi seperti itu, menepi dan beristirahat adalah pilihan tepat.
Jalan Godean atau Jalan Ngapak – Kentheng antara perempatan Demak Ijo hingga sebelah barat Jembatan Klajuran memang terkesan lengang.
Namun, justru di sini bahayanya. Banyak pengendara baik itu motor dan mobil yang menekan dan memutar gasnya kencang-kencang karena merasa kondisi jalan yang sepi.
Apalagi ruas jalan tersebut sudah diperbaiki dan relatif halus. Hampir tidak ada lubang di tengah jalan yang biasanya banyak ditemui di Jalan Godean.
“Sering terjadi kecelakaan, sudah beberapa kali di dekat jembatan. Jalannya memang agak gelap,” kata penjual mie ayam tempat saya memutuskan berhenti dan beristirahat. Nama warung itu Mie Ayam dan Bakso Urat Pak Sunar.
Saat melihat ponsel, waktu menunjukkan pukul 00.10 WIB. Saya memesan mie ayam bakso, sambil ngobrol dengan penjualnya.
Alasan jualan mie ayam malam
Awalnya ngobrol basa basi saja untuk menghilangkan kantuk sambil menunggu racikannya selesai. Namanya Dewajati Enggar. Usianya tergolong masing muda, 31 tahun. Mulai buka warung di tempat tersebut sekitar dua tahun lalu.
“Saya jualan malam karena memang punya waktunya itu, Mas. Kalau pagi sampai sore saya kerja kantoran,” katanya tersenyum. Enggar mulai jualan pukul 20.00 WIB sampai jualan habis antara pukul satu hingga dua pagi.
Enggar kemudian cerita kalau dirinya kerja di salah satu bank syariah di Kota Jogja. Ia dan istrinya yang ia nikahi tahun 2021 sama-sama kerja di bank syariah. Ia di bagian IT sementara istrinya di bagian lain.
“Ini semua saya buat sendiri, Mas. Pulang kerja saya langsung buat adonan, termasuk ayamnya. Saya nggak nyetok, takut basi,” katanya.
Mie ayam malam dengan rasa asin gurih
Belum sempat ngobrol panjang, mie ayam buatan Enggar sudah jadi. Lokasi warung Enggar ini ada di depan deretan toko. Selasarnya ini yang dijadikan tempat lesehan pembeli menikmati pesanannya.
Penampilannya masakan Enggar menggiurkan. Toping berupa daging ayam dan sawi hijaunya menutup mie. Dari mangkok yang yang disodorkan Enggar itu, menguar aroma yang membuat selera makan meningkat.
Tampilan daging ayam maupun kuahnya yang kekuningan, bisa ditebak kalau rasa mie ayam ini nggak jauh dari rasa asin gurih. Benar saja, seruputan pertama kuahnya langsung tergambar cita rasa gurihnya.
Bentuk mienya agak keriting dan tidak terlalu besar. Ada tambahan satu pangsit yang disertakan sebagai pelengkap. Dari daftar menu, sekilas saya melihat kalau menu yang ditawarkan oleh Enggar terdiri bakso, mie ayam bakso, dan mie ayam ceker. Tekstur baksonya kenyal berserat urat, enak.
“Sehari untuk mie ayam saya buat sekitar 5 kilogram tepung, itu satu kilogramnya jadi 10 porsi mie, kalau bakso sekitar 200 butir,” jawab Enggar ketika saya tanya berapa porsi yang ia jual setiap hari. Semuanya habis terjual, kalau pun tersisa, sangat sedikit.
Baca halaman selanjutnya














