Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Gara-gara Kakek dari India, Suami Istri Buka Rumah Makan Nasi Biryani di Jogja

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
9 September 2025
A A
Gara-gara Kakek dari India, buka nasi biryani MOJOK.CO

Nasi biryani khas India di Jogja. (Ilustrasi Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berawal dari sulitnya mencari cita rasa nasi biryani yang pernah mereka nikmati, suami istri asal Yogyakarta membuka warung makan India. Sebagai “guru” seorang kakek asal India melalui channel YouTube-nya.

***

Kenangan umroh tahun 2019 memberikan kesan tersendiri bagi Dian (35). Salah satunya adalah kuliner yang ia santap selama ibadah tersebut, yaitu nasi biryani. Sepulang dari umroh, ia mencoba mencari menu serupa di Yogyakarta, tetapi ternyata sulit menemukan cita rasa yang sama seperti yang ia rasakan di Tanah Suci.

Ia lantas mencoba memasak sendiri. “Guru” pertamanya adalah seorang kakek asal India bernama Narayana Reddy, yang dikenal lewat kanal YouTube Grandpa Kitchen. Dari sanalah ia mulai belajar memasak nasi biryani.

“Saya suka nontonin YouTube Grandpa Kitchen, itu loh kakek dari India yang suka masak besar kemudian dibagi-bagi ke orang-orang yang nggak mampu. Salah satu yang ia bikin kan nasi biryani. Langkah-langkah memasaknya jelas, terus saya padukan dengan resep-resep yang saya lihat di Google,” kata Dian.

Siang itu, saya menjumpainya di restoran yang ia dirikan bersama suaminya, Alesha Biryani, Kamis (4/9/2025). Lokasinya agak nyempil di sebuah perumahan, tepatnya di Terakota Residence, Jl. Sumatera, Sonoraya, Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Dian dan Rangga, pemilik Alesha Biryani. Adanya peminat masakan India atau Timur Tengah membuatnya konsisten untuk menjual masakan khas India MOJOK.CO
Dian dan Rangga, pemilik Alesha Biryani. Adanya peminat masakan India atau Timur Tengah membuatnya konsisten untuk menjual masakan khas India. (Agung P/Mojok.co)

Sehabis menandaskan seporsi nasi lamb biryani dan satu set samosa, saya berbincang dengan Dian. Ia menuturkan, keahlian memasak nasi biryani awalnya hanya dinikmati keluarga terdekat. Suatu kali, ayahnya yang baru pensiun mengundang teman-temannya di rumah. Hidangan utamanya tentu saja nasi biryani buatan Dian.

Dari sajian menu nasi biryani saat arisan, mulai banyak pesanan

Begitu juga saat ibunya menjadi tuan rumah arisan, ia menyajikan nasi biryani sebagai menu utama. Ternyata banyak yang suka. Dari situ, keahlian Dian makin tersebar.

“Terus kenal sama dia, dan meminta saya untuk open PO (pre-order),” kata Dian sambil menunjuk suaminya, Rangga (33), yang juga dikenal sebagai foodgram dengan nama Mas Clink Kulineran.

Masakan mereka rupanya banyak diminati. Sampai kemudian, keduanya mendapat masukan dari salah satu pemilik restoran di Yogyakarta yang juga foodgram. “Kalian ini, makanan seenak ini kenapa wadahnya pakai thinwall, jadi terkesan murahan,” kata Rangga menirukan masukan tersebut.

Menurut Rangga, saat itu harga nasi biryani buatan mereka sekitar Rp25 ribu. Itu saja kadang masih ditawar. Ada yang membandingkannya dengan nasi kebuli di Jakarta yang hanya Rp10 ribu.

Namun, pemilik restoran itu meyakinkan mereka agar tidak takut memberi harga sesuai kualitas makanan. Kalaupun belum laku, lebih karena pasarnya belum terbentuk. “Kami tetap ragu, dengan harga Rp25 ribu saja pasarnya nggak ada,” kata Dian.

Nasi briyani di Alesha Briyani dengan kari kambing MOJOK.CO
Nasi briyani di Alesha Briyani dengan kari kambing. (Agung P/Mojok.co)

Akhirnya mereka diajak kolaborasi pop-up di stan milik pemilik restoran tersebut, dengan mengganti kemasan dan menaikkan harga. Ternyata laris. Dari situ mereka makin percaya diri.

Pesanan online kian banyak. Sekaligus, muncul permintaan untuk makan di tempat. Mereka pun mencari lokasi yang bisa dijadikan rumah sekaligus tempat usaha. Akhir 2024, Dian dan Rangga menetap di lokasi sekarang.

Iklan

Putuskan buka restoran dan perbanyak menu

Keduanya sadar, jika membuka restoran dine-in, tidak mungkin hanya mengandalkan nasi biryani saja. Mereka lalu mencoba kembali memasak ulang menu-menu dari YouTube Grandpa Kitchen.

Bagi yang belum tahu, kanal Grandpa Kitchen pertama kali muncul pada 2017 dan langsung jadi daya tarik dunia. Kini kanal tersebut memiliki sekitar 9 juta subscriber.

Sayangnya, Narayana Reddy meninggal dunia pada 27 Oktober 2019. Kanal ini kemudian dilanjutkan oleh cucu-cucunya.

Rangga dan Dian tidak sekadar menyalin resep seperti yang mereka lihat, tetapi juga melengkapi serta memodifikasi agar sesuai dengan lidah orang Indonesia, terutama warga Yogyakarta.

Kini, sajian di Alesha Biryani makin lengkap: dari yang awalnya hanya nasi biryani dengan kari daging sapi dan kambing, lalu berkembang dengan lauk kari ayam, nasi mandi, samosa, hingga beberapa menu lain.

“Menunya lainnya tetap mengarah ke India karena kan menyesuaikan dengan menu utamanya, nasi biryani,” kata Dian.

Jaga kualitas, cari bahan nasi biryani dari India

Dian dan Rangga paham menu mereka tergolong mahal jika dibandingkan dengan warung makan biasa, meski lebih murah dibandingkan restoran India lain di Yogyakarta.

Soal kualitas, meski tergolong rumahan, keduanya menjaga bahan-bahan dengan ketat. Beberapa bahkan masih didatangkan dari India.

Samosa, makanan ringan asal India berbentuk segitiga bersiai daging sapi/ayam
Samosa, makanan ringan asal India berbentuk segitiga bersiai daging sapi/ayam serta kentang berbumbu rempah-rempah. (Dok. Alesha Biryani)

“Beras basmati harus kami datangkan dari India. Agak repot kalau barangnya lagi nggak ada. Beberapa rempah juga masih kami datangkan dari sana, seperti bawang bombay merah,” kata Rangga.

Rangga dan Dian mengungkapkan, pasar Alesha Biryani lebih banyak orang Indonesia. Namun, cukup banyak juga orang India yang sedang berlibur di Yogyakarta.

“Ada yang suka, ada juga yang merasa rempahnya kurang medok. Tapi dari review di Google, banyak yang suka,” ujar Rangga.

Mereka kemudian sadar, cita rasa biryani memang tidak tunggal. Saat bepergian ke Singapura, misalnya, mereka mendapati setiap restoran punya cita rasa berbeda-beda.

“Hampir semua cita rasanya beda. Jadi sangat mungkin di India pun cita rasa nasi biryani beda-beda, apalagi karakter wilayahnya kan juga berbeda,” jelas Rangga.

Secara harga, menu di Alesha Biryani cukup terjangkau. Satu set samosa dijual Rp22 ribu, sementara muhallabi (dessert) Rp15 ribu. Menu favorit seperti lamb biryani dijual Rp85 ribu, berisi pilihan kari sapi atau kambing plus satu potong ayam. Cukup untuk dimakan berdua.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bangku Panjang Warteg Tak Sekadar Tempat Duduk: Tempat Merenung Terbaik, Adu Nasib dan Saling Menguatkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 9 September 2025 oleh

Tags: indiaKulinerNasi Biryani
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO
Kuliner

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO
Kuliner

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura
Urban

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.