Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Sisi Lain Mahasiswa “Jurusan Agama Islam” di Jogja: Mabuk dan Maksiat Jalan, Ibadah Juga Lancar

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Oktober 2025
A A
mahasiswa jurusan agama islam.MOJOK.CO

Ilustrasi - Sisi Lain Mahasiswa “Jurusan Agama Islam” di Jogja: Mabuk dan Maksiat Jalan, Ibadah Juga Lancar (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi narasumber Mojok, kuliah di jurusan agama Islam tak menjamin mahasiswa menjadi “suci”. Malahan, banyak yang tetap mabok, main judol, bahkan kumpul kebo. Istilah dia: ibadah dan maksiat seimbang.

***

Malam itu, di sebuah angkringan di utara Kota Jogja, Rafi* (22) menyalakan rokok sambil memandangi kopi di atas meja. Di sana, ia duduk bersama empat temannya, mahasiswa lain dari berbagai kampus.

Tawa, asap, dan musik pelan, bercampur dalam suasana malam yang hening.

“Eh, kalau kalau ngomongin Tuhan hati-hati, ada ustaz,” celetuk salah satu temannya menunjuk Rafi. Tawa pun seketika meledak. 

Kalimat itu bukan penghinaan, melainkan candaan yang sudah jadi kebiasaan. Setiap nongkrong, Rafi tak pernah lepas dari label alim hanya karena ia kuliah di “jurusan agama Islam”.

Menanggapi candaan itu, biasanya Rafi cuma ikut tertawa. Namun, sebenarnya hatinya merasa getir. Merasa ada yang ganjal saat candaan tadi dilontarkan.

 “Aku kayak selalu diawasin. Nggak boleh ngomong kotor, selalu dituntut suci. Padahal, ya, cuma nongkrong biasa,” katanya, Sabtu (4/10/2025) lalu, ketika ditemui di Jogja.

“Beban aja jadi mahasiswa jurusan agama Islam.”

Kuliah di Jurusan Agama Islam karena “dihukum” orang tua

Rafi bukan anak pesantren. Bukan pula anak ustaz. Kebetulan saja, setelah gagal masuk jurusan impiannya di universitas negeri, ia memilih kuliah di salah satu kampus swasta Jogja. Pilihannya jatuh pada jurusan S1 Pendidikan Agama Islam.

Kampus dan jurusan ini dipilih lantaran kemauan orang tuanya. Awalnya, ia mengira orang tua memilihnya karena nama besar kampus. 

Namun, lama kelamaan, ia merasa jurusan dan kampus itu dipilih sebagai hukumannya.

“Kayak pengen didisiplinkan sama orang tua,” ujarnya. “Kaya ada rasa, ‘mampus, rasain, siapa suruh nggak lolos PTN.”

Karena tak bisa melawan kehendak orang tua, ia terima saja kuliah di jurusan tersebut. Toh, bagi dia, nggak ada bedanya. Lingkungan, pertemanan, masih laiknya circle-circle lain. Paling-paling, ia cuma harus sedikit effort buat mengikuti materi perkuliahan.

Iklan

“Kuliah di jurusan agama Islam mah nggak ada bedanya sama jurusan lain. Pertemanan gitu-gitu aja.”

Ada yang rajin salat, ada juga yang rajin main slot

Seiring waktu, Rafi memang belajar banyak hal tentang agama Islam. Namun, ia juga menyadari satu hal, bahwa belajar agama tak otomatis membuat seseorang menjadi alim atau suci.

Setidaknya, ini terlihat dari teman-teman satu jurusan di kampusnya.

“Manusia ya tetap manusia. Ada yang rajin ngaji, ada juga yang rajin nge-slot,” katanya sambil tertawa.

Teman-temannya di kampusnya amat beragam. Ada yang taat dan aktif di masjid kampus, banyak pula yang tiap malam nongkrong sambil menenggak minuman keras.

“Lucunya, yang mabuk kadang tetap salat Subuh,” ia menambahkan. “Ibadah jalan, maksiat juga jalan.”

Ibadah dan maksiat seimbang

Fenomena tadi, bagi Rafi sendiri, mengamini apa yang pernah dikatakan dosennya.

“Ilmu agama tidak menjamin kesalehan.”

Kira-kira begitu yang mahasiswa jurusan agama Islam ini ingat.

Dan, benar saja. Ia bercerita, di kampusnya ada mahasiswa yang tinggal satu kost dengan pacar alias kumpul kebo.

Banyak dari teman-temannya yang bahkan terang-terangan mengakui hal tersebut. Tanpa ada perasaan tabu, apalagi berdosa. Mojok sendiri pernah menulis fenomena kumpul kebo di kalangan mahasiswa Jogja dalam liputan berjudul “Kisah Dua Wajah Mahasiswa di Kota Pelajar Jogja: Alim di Desa, Kumpul Kebo di Kota Demi Hemat”.

“Kalau orang luar tahu, pasti bilang munafik. Tapi kalau lihat lebih dekat, ya mereka tetap salat, tetap puasa. Mereka cuma berjuang dengan dosanya masing-masing,” kata dia.

Rafi tak menampik, dirinya pun pernah “melenceng”. Ia mengaku salat masih bolong, kata-kata kotor kadang lolos bagaikan rem blong.

“Makanya aku nggak mau menghakimi teman-temanku yang maksiat. Karena aku sendiri juga nggak suci. Cuma mau menyampaikan aja, kalau fenomena kayak begitu, di kalangan kami ya banyak.”

Beban dan tuntutan moral sebagai mahasiswa jurusan agama Islam

Alhasil, Rafi merasa bahwa tantangan terbesar sebagai mahasiswa jurusan agama Islam bukan sekadar menjaga diri. Melainkan menghadapi ekspektasi orang lain.

Misalnya, seperti tercermin dalam dialog di awal, setiap kali nongkrong teman-temannya kerap menahan ucapan, seolah takut diceramahi. 

“Kadang ada yang begitu aku datang, mereka langsung berhenti ngomong soal hal-hal ‘duniawi’. Kayak aku ini polisi moral,” ujarnya.

Kehidupan sebagai mahasiswa jurusan agama Islam membuatnya hidup dalam dua dunia. Di satu sisi dituntut tampil religius, dan di sisi lain ingin tetap jadi manusia biasa. 

“Kadang aku iri sama teman dari jurusan lain. Mereka bebas ngomong kasar tanpa dihakimi,” ujarnya.

Namun di balik rasa lelah itu, Rafi belajar memahami makna belajar agama.

“Kalau dulu kupikir belajar agama buat orang jadi suci, sekarang aku tahu, belajar agama itu buat ngerti kenapa aku sering nggak suci,” pungkasnya.

*bukan nama sebenarnya

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jadi Mahasiswa UIN Merasa Rendah Diri karena Kena Banyak Label Menyebalkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2025 oleh

Tags: jurusan agama islamjurusan pendidikan agama islammahasiswa jurusan agama islammahasiswa pendidikan agama islampendidikan agama islampilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.