Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

KKN Bikin Warga Muak Kalau Program Kerja Template dan Kelakuan Mahasiswanya Tak Beretika

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 Oktober 2025
A A
Mahasiswa KKN.MOJOK.CO

ilustrasi - Mahasiswa KKN. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah lebih dari sepuluh tahun, tempat tinggal Damar, salah satu desa di Jawa Tengah, menjadi lokasi program kuliah kerja nyata (KKN). Saban tahun, mahasiswa datang silih berganti. Kebanyakan malah berasal dari PTN besar.

Setiap pertengahan tahun, deretan motor berplat luar kota terparkir di halaman balai desa dan rumah warga. Spanduk besar bertuliskan “Posko KKN Universitas…” sudah jadi pemandangan lazim di sana.

Iklan

Bagi warga desa, pemandangan itu sudah seperti ada musimnya. Mereka sudah hafal bulan-bulan desa bakal ramai diserbu mahasiswa, dan kapan desa sepi lagi.

“Awal-awal dulu sih kami senang,” kata Damar (28), pemuda desa yang aktif di Karang Taruna, pada Selasa (14/10/2025).

Ia sudah belasan kali mendampingi mahasiswa KKN dari kampus berbeda. Ada yang memang meninggalkan kesan positif. Tapi ada juga yang masih ia ingat gara-gara kelakuan minusnya.

“Waktu pertama kali saya mendampingi KKN, kira-kira lima atau enam tahun lalu, kami pikir bakal ada perubahan. Paling nggak, ada kegiatan baru buat anak-anak, pelatihan buat ibu-ibu, atau ide-ide segar buat desa,” ujarnya.

Sialnya, makin ke sini, kata Damar, “semuanya terasa seperti copy paste dari tahun sebelumnya”.

Proker KKN biasanya template

Ada alasan mengapa Damar menyebut kalau mahasiswa KKN yang baru datang, biasanya cuma copy paste dari tahun sebelumnya. Ya, karena memang program kerjanya template.

“Programnya itu-itu aja,” ujarnya, sambil menyalakan rokok. 

“Jalan sehat, mengajar ngaji, bikin plang. Tahun depan datang kampus lain, tapi prokernya sama, bahkan kadang posternya pun mirip,” imbuhnya.

Menurutnya, proker-proker dari para mahasiswa tadi, sebetulnya bisa dijalankan warga secara swadaya. Dalam artian, ada atau tak ada KKN sekalipun, program kerja tadi bisa dijalankan.

Lebih dari itu, sekalipun ada program kerja yang terdengar “visioner”, biasanta malah terkensan ndakik-ndakik dan tak relate dengan warga. Damar mencontohkan, suatu kali ada mahasiswa yang membuat program digital marketing. Jadi, membuat aplikasi tertentu untuk memasarkan produk pertanian.

“Jujuar tak akui, itu program bagus banget. Hanya saja ya salah tempat, karena sinyal di desa masih jelek, internet nggak nyampai. Jadi bikin aplikasi-aplikasi gituan yang terkesan melompat aja, kurang nyentuh inti masalah.”

Sayangnya, Damar dan warga desa lain tak bisa menolak kehadiran mereka. Sebab, desanya memang sudah kerjasama dengan beberapa kampus sebagai lokasi KKN.

Iklan

Mahasiswa suka bikin skandal

Tak cuma soal program kerja temptale. Yang lebih membuat warga jengah dengan mahasiswa adalah drama yang menyertai KKN.

Damar menyebut, tiap kali mahasiswa datang selalu saja ada skandal. Ia sampai bisa membaginya menjadi dua jenis: skandal kecil dan skandal besar.

“Skandal kecil itu, ya sebenarnya nggak fatal, tapi sangat menggangu,” katanya.

“Kayak mereka itu enteng ngomong ‘anjing’ atau ‘tolol’ di depan warga, bahkan anak-anak. Buat mereka mungkin biasa, tapi buat orang kampung sini itu kasar banget.”

Lalu ia menunduk sedikit sebelum melanjutkan, “Kalau skandal besar, ya… pernah tuh, ada yang ketahuan mesum di posko. Itu langsung bikin satu desa heboh. Perangkat desa sampai minta kampusnya turun tangan.”

Sejak itu, kata Damar, warga mulai dingin setiap kali ada mahasiswa datang. 

“Kalau mereka datang, ya kami sambut sopan aja. Tapi udah nggak ada harapan apa-apa. Selesai KKN, desa kami ya tetep gini-gini aja.”

Minim support dari kampus

Sekitar dua jam perjalanan dari tempat tinggal Damar, ada desa kecil lain di Jawa Tengah yang juga rutin jadi lokasi KKN. Bedanya, Raka (26), salah satu warga desa tersebut, memiliki pengalaman unik: KKN di desa sendiri.

Dengan demikian, ia memiliki sudut pandang lain terkait program kerja mahasiswa yang dianggap template tadi.

“Lucu juga sih,” katanya, sambil tertawa kecil. “Dulu waktu aku KKN di desaku sendiri, aku ngerasa kayak orang penting. Tiap hari rapat, bikin spanduk, nulis laporan. Tapi setelah selesai, aku sadar, ya nggak ada yang berubah.”

Raka mengakui bahwa dulu program kerjanya memang template. Namun, ia juga punya pembelaan mengapa di banyak kampus, mahasiswa memilih proker “yang gitu-gitu aja” ketika menjalani KKN.

“Kalau berkaca dari kasusku, waktu itu kami cuma punya dua minggu efektif. Anggaran juga terbatas, dosen pembimbing juga jarang muncul. Jadi kami pilih proker yang gampang dibikin, biar nggak risiko.”

Alhasil, berkaca dari pengalamannya, Raka pun memahami kalau sebenarnya program KKN sangat sulit untuk membuat perubahan ke warga.

“Jadi, KKN itu kami anggap tempat belajar aja sih. Bullshit kalau mau bikin senang warga, duit dari mana coba?”

Teman kelompok KKN ogah-ogahan

Tak cuma soal support kampus yang terbatas, kata Raka, masalah lain yang bikin proker KKN gitu-gitu aja juga karena motivasi mahasiswa sendiri.

“Sekali lagi berkaca dari KKN-ku, nggak semua mahasiswa niat. Ada yang cuma pengen cepat selesai, ada yang ogah-ogahan, ada yang sibuk ngonten buat media sosial. Di kelompokku dulu, separuhnya nggak peduli. Yang penting foto dokumentasi banyak.”

Memang, ia tak bisa memukul rata bahwa semua mahasiswa yang KKN tidak punya niat dan motivasi. Namun, kalau dari cerita teman-temannya, fenomena seperti itu memang banyak terjadi, dan itu ia jadikan alasan mengapa KKN kerap tak meninggalkan kesan bagi warga.

“Gimana mau berkesan ke warga, kalau dari mereka sendiri aja nggak niat ketemu warga?”

Meski begitu, Raka tetap berpandangan bahwa terlalu ekstrem jika program KKN disetop. Menurutnya, cukup konsepnya saja yang diperbarui.

“Misalnya, kampus ngasih waktu lebih panjang, ngasih pelatihan komunikasi sosial, sama ngasih anggaran lebih. Mahasiswa bisa kok.”

Baik Raka maupun Damar sama-sama tak menolak kehadiran mahasiswa. Mereka cuma ingin KKN tidak sekadar datang dan pergi.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly REza

BACA JUGA: Mahasiswa UMY Atasi Sampah di Laut Wakatobi dengan Stove Rocket, Bukti KKN Tidak Hanya Bikin Papan Nama atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2025 oleh

Tags: desa lokasi kknKKNkkn kampuskkn ptnmahasiswa kknproker kkn
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa
Catatan

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
KKN UMY Tidak Hanya Bisa Bikin Papan Nama MOJOK.CO
Esai

Mahasiswa UMY Atasi Sampah di Laut Wakatobi dengan Stove Rocket, Bukti KKN Tidak Hanya Bikin Papan Nama

6 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar MOJOK.CO

Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.