Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Perjuangkan Mimpi dari Unesa hingga Kuliah S2 di Boston Amerika, meski Berat usai Ayah “Pergi”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
9 Februari 2025
A A
Alumnus Universitas Negeri Surabaya (UNESA) lanjut kuliah S2 di Boston University. MOJOK.CO

ilustrasi - Wulida, lulus S2 dari Boston Universitu, Amerika Serikat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Culture shock saat kuliah di Boston University, Amerika Serikat

Wulida akhirnya berangkat ke Amerika Serikat (AS) pada tahun 2023. Ia mulai kuliah S2 di Boston University. Saat itu, negara Paman Sam masih memasuki musim semi. Bunga-bunga merekah dengan cantik. Namun, tantangan dimulai ketika AS memasuki musim dingin.

Sebagai warga Indonesia yang sempat berkuliah di Univesitas Negeri Surabaya (UNESA), Wulida sudah terbiasa dan tahan dengan panasnya Kota Pahlawan. Hanya saja, tubuhnya kaget dengan perubahan cuaca di negara yang punya empat musim seperti AS.

“Aku sampai mimisan, telinga sakit, karena sangking dinginnya, tapi setelah dua sampai tiga minggu alhamdulillah aku sudah bisa beradaptasi,” ucap Wulida.

Tak hanya cuaca, Wulida juga harus menghadapi kenyataan soal perbedaan bahasa. Meskipun ia mendapat beasiswa LPDP dengan sertifikat kemampuan Bahasa Inggris yang mumpuni, tak memungkiri jika teori kadang-kadang tak semudah praktik. 

Wulida memakai kebaya saat wisuda di Boston University, Amerika Serikat. MOJOK.CO
Wulida memakai kebaya saat wisuda S2. (Sumber: Wulida W Ria/Mojok.co)

Wulida bercerita jika profesor atau dosen di Boston University memang menggunakan bahasa yang mudah dipahami saat mengajar, bahkan dengan tempo yang tak terlalu cepat sehingga memudahkan mahasiswa internasional. Namun, kondisi itu akan berbeda jika ia berinteraksi dengan masyarakat sekitar, seperti saat ia sedang belanja atau keluar asrama.

“Tapi lama-kelamaan aku jadi sadar dan memberanikan bertanya. Misalnya aku nggak ngerti, ya udah tanya aja. Mereka akan dengan mudah mengerti kalau kami international student,” tutur Wulida.

Selain itu, ia juga harus pandai mengatur keuangan. Apalagi, untuk membeli kebutuhan pokok seperti makanan. Selain karena harga makanan yang mahal jika dibandingkan dengan Indonesia, Wulida juga harus teliti melihat bahan makanan yang dijual di pasar atau supermarket. Salah-salah, dia bisa membeli makanan yang tak ada lebel halal.

Mengabdi untuk Indonesia

Selama tinggal di Amerika Serikat, Wulida juga menyadari kehidupannya berbanding terbalik 360 derajat sebagai muslim. Tak hanya mendapatkan tantangan di bidang pendidikan, ia juga diuji secara iman. Wulida harus lebih mandiri dengan mengingat waktu salat, puasa, atau merayakan idul fitri tanpa kehadiran keluarga. 

Wulida lulus S2. MOJOK.CO
Wulida lulus S2 dari Boston University, Amerika Serikat. (Sumber: Wulida W Ria/Mojok.co)

“Di kampus aku biasanya minta izin ke profesor untuk salat. Biasanya 10-15 menit dan mereka akan memahami,” ucap alumnus Universitas Negeri Surabaya (UNESA) itu.

Oleh karena itu, selain berkuliah Wulida juga menambah jejaringan dengan mahasiswa luar negeri khususnya muslim. Sebab, pada dasarnya ia suka berorganisasi. Wulida pun mengikuti Boston Islamic Seminary, sebuah komunitas di Amerika yang membina generasi pemimpin muslim.

Setelah melalui proses dan tantangan yang cukup melelahkan, perjuangan Wulida akhirnya terbayarkan saat ia dinyatakan lulus pada Mei 2024 lalu. Kini, ia sedang menjalani academic training atau magang di Amerika Serikat. Beasiswa LPDP memberikannya kesempatan untuk mencari pengalaman dan menambah networking, maksimal dua tahun setelah masa studi.

“Insyaallah akan selesai di tahun 2025. Dari kesempatan berharga ini aku merasa sudah saatnya kembali ke Indonesia untuk mengabdi dan mengharumkan Indonesia. Aku pasti akan pulang,” kata Wulida.

“Juga untuk mengunjungi makam ayah,” lanjutnya.

BACA JUGA: Kisah Penerima Beasiswa S2 di Turki, Dari Orang Biasa hingga Memikat di Panggung Asia Tenggara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2025 oleh

Tags: beasiswa lpdpcara dapat beasiswacara kuliah ke luar negerikampus luar negerikuliah s2lulusan s2mahasiswa unesa
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal MOJOK.CO

Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

29 Juni 2026
Perjalanan Kopikina menjadi kedai kopi populer di Jakarta yang dirintis oleh alumni Beasiswa LPDP MOJOK.CO

Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris

19 Juni 2026
Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar S2 Kesehatan Masyarakat dan S1 Kedokteran sebelum usia 25 tahun

Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun

1 Mei 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
Tinggal di kos dekat kampus niat cari kemudahan di awal menjadi mahasiswa baru (maba), malah jadi pemicu konflik sosial yang merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Kos Dekat Kampus Memang Beri Kemudahan, Tapi Jadi Pemicu Rangkaian Konflik Sosial yang Merepotkan Diri Sendiri

10 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.