Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Ditentang Dosen karena Ikut Pertukaran Mahasiswa Kampus Merdeka, Bahkan Ada yang Jadi Telat Lulus

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
3 Januari 2024
A A
pertukaran mahasiswa kampus merdeka.MOJOK.CO

Ilustrasi pertukaran mahasiswa (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski program bergengsi dari Kemendikbudristek, sebagian mahasiswa mengaku “patah hati” setelah mengikuti pertukaran mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Alasannya beragam, mulai dari penolakan dosen hingga pengakuan SKS tidak sesuai kesepakatan yang berakibat kuliah molor.

***

Sejak awal masuk kuliah di sebuah PTN pada 2021 silam, Brian* (20) sudah mendapat berbagai wejangan soal program Kampus Merdeka. Di ospek, ketua program studi (kaprodi) sudah menekankan pentingnya proyek besar dari Kemendikbud ini.

Sebagai mahasiswa yang punya dorongan untuk aktif berkegiatan, Brian pun ingin ambil bagian dalam program tersebut. Terlebih, program tersebut juga punya skema insentif cukup menarik bagi mahasiswa.

MBKM punya beberapa program unggulan seperti Magang Merdeka, Kampus Mengajar, Wirausaha Merdeka, IISMA, sampai Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Brian paling tertarik untuk ikut program yang terakhir.

Pemuda yang tumbuh besar hingga menempuh studi di Pulau Jawa ini ingin punya pengalaman hidup di Pulau Sumatra. Tempat ayahnya dilahirkan.

“Ada perasaan pengin bertemu lingkungan yang jadi akar saya. Selain itu, pengin juga memaksimalkan kesempatan belajar yang beragam selama kuliah,” ungkapnya saat berbincang dengan Mojok.

Keinginan itu jadi agak pupus saat program studinya melakukan sosialisasi secara daring lewat Zoom. Kaprodi yang sejak ospek mengajak untuk ikut program, tiba-tiba menyarankan agar mahasiswa tidak perlu mengikuti sebagian program Kampus Merdeka.

“Salah satu yang menurutnya tidak perlu itu pertukaran mahasiswa. Katanya tidak relevan dengan profil lulusan prodi kami,” tuturnya.

Keinginannya pun agak surut. Menjelang semester lima, ia mencoba mencari pengalaman lain dengan mendaftar sebagai tutor bimbingan belajar paruh waktu. Rencana itu ia sampaikan ke kaprodinya.

Di luar dugaan, kaprodi kembali mengubah pernyataannya. Ia memberi saran kepada Brian untuk ikut program Kampus Merdeka saja alih-alih bekerja. Program tersebut juga menawarkan insentif atau biaya hidup bagi mahasiswa.

Patah hati akibat pertukaran mahasiswa Kampus Merdeka

Berhubung penutupan pendaftaran kegiatan Pertukaran Mahasiswa Merdeka semakin dekat, Brian langsung mempersiapkan diri. Ada rangkaian tes ketat agar bisa lolos. Mulai dari tes kebhinekaan, tes kecerdasan emosional, hingga pembelajaran terkait pencegahan tindakan seksual yang tidak diinginkan.

Pertukaran mahasiswa selama satu semester bisa mendapat 20 SKS. 4 di antaranya merupakan program Modul Nusantara.  Di kampus tujuan, mahasiswa disarankan mengambil program studi yang sesuai dengan latar belakangnya.

Mengingat Brian mendaftar menjelang tenggat penutupan, akhirnya pilihan kampus yang tersedia di daerah tujuan tinggal sedikit. Hanya tersisa PTS yang secara kualitas berada di bawah PTN tempatnya menempuh studi.

Iklan

Namun, saat itu Brian sudah telanjur meninggalkan kesempatannya untuk bekerja. Meski ia paham kualitas kampus yang ia tuju tidak terlalu baik, akhirnya ia yakinkan untuk menyelesaikan proses seleksi. Hingga, ia dinyatakan lolos.

Beberapa hari menjelang akomodasi tiket keberangkatan dari Kemendikbud keluar, ia menyampaikan ke dosennya tentang kelanjutan kabar Pertukaran Mahasiswa Merdeka. “Beliau tiba-tiba bilang, ‘Kamu yakin jadi mau ikut ini? Nanti belajarnya nggak maksimal di sana nggak dapat apa-apa’,” kata Brian menirukan dosennya.

“Beliau bahkan bilang kalau ini kampus ecek-ecek,” imbuhnya.

Perasaan bimbang mendera Brian. Ia langsung menelfon orang tua untuk meminta pertimbangan. Namun, keputusan bulat untuk tetap berangkat pertukaran mahasiswa harus ia ambil lantaran tiket keberangkatan sudah terbit.

“Kalau saya batal, harus mengganti ke Kemdikbud. Tapi ya rasanya agak patah hati awalnya dapat dukungan prodi tapi berakhir begini. Dosen juga bilang kalau belum bisa menjamin konversi SKS bisa maksimal,” curhatnya.

Ia pun terbang ke salah satu PTS di Pulau Sumatra. Di sana, ia mendapat biaya hidup dari Kemdikbud sebesar Rp1,5 juta per bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan.

Kualitas kampus tujuan pertukaran mahasiswa MBKM memang tidak setara

Berangkat program Pertukaran Mahasiswa Merdeka dengan perasaan bimbang, di sana Brian harus langsung beradaptasi. Memang, ia menyadari bahwa pembelajaran di PTS yang jadi tempatnya studi selama satu semester saat MBKM kualitasnya berbeda dengan kampus asalnya.

Dosen sering mengubah jadwal di luar ketetapan adalah salah satu contoh yang jarang ia dapat di kampus asalnya. Sebenarnya, hal itu agak ia sayangkan.

Belum lagi adaptasi budaya yang juga cukup menantang. Ia harus membiasakan diri dengan gaya komunikasi di sana yang cenderung “keras” dan blak-blakan.

“Awalnya saya kira kok marah-marah terus. Tapi ya setelah terbiasa sadar memang cara komunikasinya seperti itu,” ungkapnya.

pertukaran mahasiswa MBKM.MOJOK.CO
Ilustrasi. Pertukaran mahasiswa memerlukan adaptasi dengan lingkungan baru (Jason Goodman/Unsplash)

Kendati prosesnya cukup banyak tantangan, Brian akhirnya menyelesaikan rangkaian proses selama satu semester dengan lancar. Sampai menjelang jadwal kepulangan, ia belum bisa memastikan, apakah konversi SKS dari pertukaran mahasiswa dapat benar-benar maksimal sejumlah 20 SKS dan nilainya setara.

“Terakhir bicara soal rekognisi nilai saat di hendak berangkat. Sampai sekarang belum ada kepastian mengingat dosen saya kurang antusias. Proses keberangkatan ini memang terbilang nekat,” tuturnya.

Baca selanjutnya…

Harus rela menambah semester kuliah, bayar lebih banyak

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 Januari 2024 oleh

Tags: kampus merdekambkmpertukaran mahasiswapilihan redaksi
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO
Esai

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

27 Mei 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO
Sehari-hari

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan.MOJOK.CO
Seni

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?

25 Mei 2026
Gedebage, Bandung.MOJOK.CO
Urban

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

24 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

papua.MOJOK.CO

Hutan Papua Tak Baik-baik Saja, Terancam Hilang Imbas Pembukaan Lahan Besar-besaran

23 Mei 2026
Melihat semarak event lari Tidar Borobudur 10K yang diikuti 8000 pelari, Magelang punya potensi jadi jujukan sport tourisme MOJOK.CO

Rute Lari Sejuk dan Nyaman di Magelang, Jadi Destinasi Sport Tourism seperti Tidar Borobudur 10K yang Diminati Banyak Orang

24 Mei 2026
Swasembada pangan Jawa Tengah tuai pujian MOJOK.CO

Pertumbuhan Ekonomi dan Swasembada Pangan Jawa Tengah Mendongkrak EKonomi dan Pangan Nasional

25 Mei 2026
Rozi, dosen penyandang disabilitas Unair yang lulus S3. MOJOK.CO

Perjalanan Dosen Unair yang Kehilangan 2 Kaki, Berhasil Selesaikan Kuliah S3 di FKH dengan IPK Sempurna

27 Mei 2026
Gambaran rapuhnya masyarakat kita di tengah teror pocong keliling MOJOK.CO

Teror Pocong Keliling Bukan Sekadar Iseng, Jadi Gambaran Masalah Sosial-Digital di Tengah Masyarakat Kita

26 Mei 2026
Punya rumah dengan halaman luas di desa jadi sumber konflik tetangga dan keluarga MOJOK.CO

Punya Rumah dengan Halaman Luas di Desa Kerap Disalahpahami, Dinikmati Tetangga tapi Jadi Sumber Konflik Keluarga

25 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.