Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Dosa Program Kampus Mengajar yang Malah Berisi Feodalisme Dosen dan Keserakahan Pihak Sekolah

Femas Anggit Wahyu Nugroho oleh Femas Anggit Wahyu Nugroho
12 Oktober 2023
A A
Kampus Mengajar Tidak Menjamin Mahasiswa Merdeka Belajar (Unsplash)

Kampus Mengajar Tidak Menjamin Mahasiswa Merdeka Belajar (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sekilas yang terlintas di pikiran saya ketika mendengar program kampus mengajar adalah kemerdekaan. Ya, kemerdekaan dalam belajar dan mengeksplorasi potensi diri sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kemerdekaan untuk menjalankan ide-ide perubahan dalam paradigma pendidikan.

Program kampus mengajar sendiri saya ketahui semenjak kali pertama menjadi seorang mahasiswa. Ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau yang sering disingkat MBKM. Kampus mengajar merupakan program yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa-siswi di Indonesia.

Untuk menjadi bagian dari program ini, saya harus menjalani seleksi dan bersaing dengan banyak mahasiswa. Awal motivasi saya mengikuti program ini sebenarnya karena sudah terlalu jenuh dengan kegiatan belajar/mengajar di kampus. Selain itu, saya juga sudah bosan setiap hari bertemu teman-teman kampus yang selalu itu-itu saja.

Program kampus mengajar yang tidak menjamin kamu merdeka belajar

Awalnya, perasaan senang meliputi diri karena bisa lolos seleksi program kampus mengajar. Sebelum penugasan, mahasiswa mendapatkan pembekalan selama kurang lebih satu bulan. Memang, materi pembekalan memberikan pengetahuan dan paradigma baru kepada mahasiswa mengenai dunia pendidikan Indonesia saat ini.

Setelah pembekalan selama kurang lebih satu bulan itu, mahasiswa sudah siap untuk ditugaskan. Mereka sudah siap untuk “merdeka belajar”. Merdeka untuk bereksplorasi dan melaksanakan ide-ide baru ke sekolah tempat mereka ditugaskan. Akan tetapi, kemerdekaan itu buat saya adalah kata yang teramat berlebihan. Saya justru mendapatkan sudut pandang lain bahwa ikut kampus mengajar tidak akan menjamin merdeka belajar.

Belajar merdeka dari ekspektasi

Ekspektasi awal saya adalah dapat benar-benar membawa perubahan yang baik di sekolah tempat saya bertugas. Misalnya, saya bisa mengaplikasikan berbagai macam strategi literasi dan numerasi dari materi pembekalan kampus mengajar. Saya sangat berekspektasi bisa menggunakan “pusaka” yang saya dapat itu semaksimal mungkin.

Namun, ekspektasi saya runtuh ketika baru seminggu bertugas. Saya mendapati bahwa setiap kelas ada siswa yang belum bisa membaca. Untuk siswa yang masih kelas 1 atau 2 yang belum bisa membaca, saya tidak ambil pusing. Kepusingan saya justru ketika mendapati bahwa ada siswa di kelas 5 dan 6 yang bahkan bentuk huruf saja mereka masih bingung.

Kenyataan itu seketika menimbulkan pertanyaan: “Bagaimana saya akan mengimplementasikan beragam strategi literasi jika dalam tahap membaca saja para siswa itu belum khatam dan mereka sudah kelas 5 dan 6?” 

Baca Juga:

Membayangkan Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra Ikut Kampus Mengajar

Nasib Buruk Mahasiswa Program Kampus Mengajar Batch 7: Awalnya Berapi-api, di Tengah Jalan Setengah Mati

Terpaksa saya harus “belajar merdeka” dari ekspektasi saya untuk menerapkan strategi literasi yang “wah” sebagaimana contoh-contoh ketika pembekalan kampus mengajar. Saya bersama rekan mahasiswa lain di sekolah itu terpaksa harus menyesuaikan strategi dengan kondisi kesiapan para siswa. Mau tidak mau, para siswa yang cukup parah tertinggal dalam hal kemampuan membaca itu kita berikan bimbingan dan pendampingan khusus.

Belajar Merdeka dari feodalisme dosen pembimbing

Ini adalah permasalahan yang cukup serius. Kita dapat menjumpai feodalisme dosen pembimbing dalam program kampus mengajar. Program yang katanya sebagai sarana merdeka belajar itu justru menjadi sarang praktik feodalisme dalam pendidikan.

Beberapa rekan mahasiswa mendapati dosen pembimbing yang sangat sulit untuk dihubungi dan terkesan menyepelekan. Ada pula yang mendapati dosen pembimbing yang menyalahgunakan kuasanya. Kamu harus tahu bahwa dosen pembimbing memiliki otoritas untuk ACC terhadap laporan mingguan mahasiswa. Beberapa oknum dosen menyalahgunakan kuasa ini.

Banyak kasus dosen pembimbing sulit dihubungi dan laporan mahasiswa baru di-ACC setelah semingguan lebih. Kasus lainnya (hal ini saya dengar dari cerita kawan saya) ada oknum dosen yang mau ACC laporan mingguan mahasiswa dengan syarat mahasiswa harus mengerjakan laporan dosen terlebih dahulu. 

Padahal, seharusnya, laporan tersebut merupakan tanggung jawab dosen itu. Mau tidak mau, mahasiswa harus menurut, karena mereka perlu ACC laporan dari dosen sebagai salah satu syarat cairnya Biaya Bantuan Hidup (BBH) selama program kampus mengajar.

Mahasiswa sebenarnya bisa saja melapor ke pihak kampus mengajar apabila ada dosen yang seperti itu. Namun, status “mahasiswa” dan “dosen” tampaknya menjadi sebuah penjara. Terlebih lagi apabila dosen tersebut satu fakultas atau bahkan satu prodi dengan mahasiswa. Tentu mahasiswa yang mau melapor akan berpikir seribu kali. 

Mereka dipenjara oleh kemungkinan yang akan terjadi di masa depan apabila melaporkan dosen tersebut. Dapat dibayangkan ketika mahasiswa yang melaporkan dosen tersebut ternyata berjumpa dengan dosen itu lagi di suatu mata kuliah. Kemungkinan besar nama mahasiswa sudah ditandai.

Belajar Merdeka dari feodalisme pihak sekolah selama program kampus mengajar

Ramai sekali di grup besar Telegram kampus mengajar mahasiswa yang mengadukan keluhan terkait kesalahpahaman pihak sekolah. Yang paling konyol adalah salah satu aduan bahwa pihak sekolah meminta ini dan itu. Misalnya seperti renovasi kantor, kelas, dan banyak hal lain. Masalahnya, mahasiswa harus menggunakan biaya sendiri. 

Pihak sekolah meminta hal tersebut dengan dalih untuk melihat kreativitas mahasiswa kampus mengajar. Itu juga alibi, bahwa mahasiswa mendapat gaji dari pihak kampus mengajar. Sedangkan mahasiswa lagi-lagi dipenjara dengan statusnya sebagai “tamu dan kasarnya adalah penumpang” di sekolah itu.

Hal tersebut bagi saya merupakan sebuah kekolotan. Alasannya adalah sebelum melakukan program kerja, mahasiswa beserta dosen pembimbing telah melaksanakan semacam forum komunikasi dengan pihak sekolah. Forum komunikasi tersebut bahkan dilaksanakan dua kali. 

Pertama, secara daring melalui Zoom dan YouTube yang melibatkan pihak penyelenggara kampus mengajar, sekolah, dosen, dan mahasiswa. Kedua, secara luring melibatkan sekolah, dosen, dan mahasiswa. Tujuannya menghindari miskonsepsi tentang program kampus mengajar.

Masalahnya, pihak mahasiswa dan dosen gagal memahamkan pihak sekolah. Di sisi lain, pihak sekolah gagal memahami atau memang sengaja melakukan kekolotan semacam itu. Yang jelas, sangat tidak mungkin apabila mahasiswa harus memenuhi semua keinginan pihak sekolah dengan full biaya sendiri.

Misi program ini

Misi utama mahasiswa kampus mengajar bukan menjadi pelayan permintaan ini dan itu, tapi meningkatkan literasi dan numerasi. Mahasiswa juga bukan tawanan dari feodalisme dosen maupun pihak sekolah.

Apabila dunia pendidikan, terutama di perguruan tinggi masih ada praktik-praktik feodalisme, kampus mengajar dan merdeka belajar akan cuma sebatas gema saja. Poster-poster merdeka belajar yang terpajang di tembok-tembok sekolah dan perguruan tinggi sebaiknya diganti dengan belajar merdeka!

Penulis: Femas Anggit Wahyu Nugroho

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Mahasiswa Harus Coba Ikutan Program Kampus Mengajar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2023 oleh

Tags: buta hurufKampus Mengajarmerdeka belajarprogram kampus mengajar
Femas Anggit Wahyu Nugroho

Femas Anggit Wahyu Nugroho

Terdaftar secara resmi sebagai penduduk bumi angkatan 2003. Mengidentifikasi diri sebagai Hamba Allah yang tidak memiliki permintaan muluk-muluk kepada dunia.

ArtikelTerkait

Nadiem Makarim dan Teks Pidato untuk Hari Guru yang Penuh dengan Harapan Baru MOJOK.CO

Nadiem Makarim, Kita Lebih Membutuhkan Program Merdesa Belajar Sebelum Merdeka Belajar

28 Juli 2020
Guru Merdeka Belajar Itu Hanya Ilusi, Nyatanya Hingga Kini Masih Berkawan Karib dengan Segunung Administrasi

Guru Merdeka Belajar Itu Hanya Ilusi, Nyatanya Hingga Kini Masih Berkawan Karib dengan Segunung Administrasi

4 Desember 2023
Kampus Mengajar, Program untuk Mahasiswa yang Ingin Merasakan Penderitaan Guru Honorer

Kampus Mengajar, Program untuk Mahasiswa yang Ingin Merasakan Penderitaan Guru Honorer

4 November 2023
3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

10 Maret 2024
Kurikulum Merdeka Belajar Membunuh Pramuka? (Unsplash)

Kurikulum Merdeka Membunuh Pramuka?

1 Maret 2024
Mahasiswa Harus Coba Ikutan Program Kampus Mengajar

Mahasiswa Harus Coba Ikutan Program Kampus Mengajar

11 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Aturan Tidak Tertulis Saat Menulis Kata Pengantar Skripsi agar Nggak Jadi Bom Waktu di Kemudian Hari

4 Tips untuk Bikin Mahasiswa Cepat Paham dan Tidak Kebingungan Mengerjakan Skripsi

19 Mei 2026
Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama Mojok.co

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama

14 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

3 Alasan Kuliah di Jatinangor Adalah Training Ground sebelum Masuk Dunia Kerja

18 Mei 2026
Jangan Terkecoh, Tutor Bimbel Online Pekerjaan yang Tidak Cocok untuk Fresh Graduate Mojok.co

Jangan Terkecoh, Tutor Bimbel Online Pekerjaan yang Tidak Cocok untuk Fresh Graduate

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.