Orang Jogja itu butuh libur. Tapi, kalau kamu ajak mereka naik gunung ke Gunung Merapi, pasti jawabannya: malas. Padahal, di mata wisatawan, berlibur ke gunung adalah cara terbaik melepas stres. Mirip ke liburan ke pantai.
Suami dari kakak ipar saya adalah orang Belanda keturunan. Bapaknya orang Jawa, ibunya Belanda. Jadi, sejak kecil, meski lebih banyak tinggal di Belanda, dia sudah tahu makna Gunung Merapi bagi warga Jogja. Makanya, selain minta ditemani makan gudeg, dia juga mengajak saya naik gunung.
Sudah pasti saya menolak. Selain karena sibuk karena pekerjaan, dokter juga melarang saya melakukan kegiatan yang ekstrem. Naik gunung ke Gunung Merapi tentu salah satunya.
Nah, saudara saya ini bertanya-tanya. Kenapa saya saya nggak mau. Kan bisa refreshing melepas penat. Ya jujur saja, saya suka naik gunung. Sudah setidaknya 2 kali saya naik Gunung Merapi. Wisata ke Kaliurang juga sering, dan seringnya untuk kulineran.
Namun, buat warga lokal, kadang Gunung Merapi itu tidak untuk didatangi, tapi dikagumi dari jauh saja. Selain itu, ada rasa malas karena terlalu jauh dari tempat tinggal.
Naik gunung itu menyenangkan, tapi orang Jogja kadang malas
Waktu masih SMA dan awal kuliah, saya sering ikut trecking ke sekitar Gunung Merapi. Nggak sampai naik gunung atau maksudnya ke puncak, tapi jalan-jalan aja. Dulu ada komunitas yang saya ikuti bersama beberapa saudara.
Nah, saya akui, naik gunung itu menyenangkan. Bahkan bagi saya, naik gunung itu lebih bermakna ketimbang liburan ke pantai. Ini kalau saya, ya. Bukan lantas pantai itu jelek. Namun, bagi sebagian warga Jogja yang saya kenal, pasti ada rasa malas untuk naik ke Merapi.
Tidak lain dan tidak bukan karena alasan udah sering lihat. “Wis mben dino weruh, ngopo ndadak mrono, Mas?”
Begitulah alasan yang sering saya dengar. Udah lihat tiap hari, ngapain harus sampai naik. Warga Jogja ini bukannya pemalas, tapi cenderung nggak mau melakukan aktivitas yang nggak signigfikan buat hidup mereka. “Ha mending kerjo nek ora dolanan manuk nek ora ya teturon, Mas.”
Ke Gunung Merapi itu ngapain? Ritual?
Buat banyak orang Jogja, Gunung Merapi itu bukan untuk aktivitas naik gunung having fun gitu. Gunung tersebut identik dengan kepercayaan tertentu. Makanya, kalau ngomongin gunung yang masih aktif ini, selalu nggak jauh dari spiritualitas atau mistis.
“Lha ngono munggah Gunung Merapi? Meh ritual tolak bala?”
Begitulah kalimat yang saya dengar. Jadi, naik ke sana itu bukan sport, tapi lebih ke mistika orang Jawa. kalau bawa ransel malah aneh, karena banyak yang lebih akrab bawa kembang dan sesajen.
Yah, nggak heran sih. Bagi orang Jogja, gunung itu ibarat bapak dan laut itu ibu. Posisi gunung dan laut itu sakral, bukan tempat bermain.
Taunya Kaliurang, tapi malas mau ke sana
Nah, kalau ngomongin Gunung Merapi, banyak orang Jogja yang lebih akrab sama Kaliurang. Aktivitas yang terasa akrab juga bukan naik gunung, tapi kulineran dan wisata.
Mulai dari berburu sate kelinci, menghabiskan sore yang sejuk di warung kopi, dan lain sebagainya. Semua ada di Kaliurang.
Tapi, orang Jogja yang berasal dari kota, Bantul, atau pinggiran Sleman ya seringnya malas kalau ada ajakan ke Kaliurang. Alasannya yang umum ada dua. Pertama, jauh. Kedua, Kaliurang udah nggak kayak dulu.
Jadi dulu, orang Jogja ke Kaliurang untuk menjadi kesejukan. Namun kini, kesejukan itu sudah hilang karena berbagai pembangunan.
Padahal, kalau ke Kaliurang di pukul 19:00 saja pasti sudah terasa kedinginan. Khususnya di periode kemarau seperti sekarang. Tapi ya bener sih, Kaliurang dan Gunung Merapi tidak lagi sedingin dulu.
Begitulah alasan kami warga lokal Jogja malas naik gunung ke Gunung Merapi. Tolong dimaklumi ya. Namanya saja preferensi.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pocong Kepala Terpuntir di Pos Bayangan Gunung Merapi Meneror Teman Saya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













