Plat K begitu meresahkan. Hama jalanan, begitu kata orang-orang ke plat nomor ini. Kalau ada yang sampai mendapatkan cap hama jalanan, ada nggak sih plat nomor paling sopan di jalanan? Jawabannya ADA dan menurut saya plat AD Solo layak dapat apresiasi itu.
Jadi, sudah banyak pengguna jalan yang kerap mengeluh atau mengelus dada kalau ketemu plat nomor plat K. Sementara itu, plat AD sendiri nggak lepas dari stigma pengendara ugal-ugalan. Namun, buat saya, yang spesifik Solo itu yang terbaik.
Plat AD Solo pemegang takhta plat nomor tersopan di jalan, plat K kudu mencontoh
Agak sulit sebetulnya menentukan siapa pemilik plat nomor kendaraan yang layak memegang takhta tersopan di jalan. Namun, setelah mengamati dinamika lalu lintas sekaligus rajin menelusuri berbagai testimoni warganet yang berseliweran di media sosial, ketemulah jawabannya.
Boleh setuju boleh tidak. Bagi saya, pemegang takhta plat nomor kendaraan tersopan adalah plat AD wilayah Solo.
Plat AD Solo layak mendapatkan gelar plat nomor kendaraan tersopan di jalan karena gaya berkendara mereka yang cenderung tenang dan tidak grusa-grusu. Contohnya, ketika lampu lalu lintas beralih dari merah ke hijau. Alih-alih buru-buru tancap gas seperti kebanyakan pengendara lainnya, pemilik plat AD Solo memilih untuk tetap tenang.
Mereka masih mau sabar menunggu sesaat. Seolah benar-benar memastikan bahwa memang giliran mereka untuk melaju. Ketimbang plat K kalau boleh membandingkan
Sederhananya, pemilik plat AD Solo ini seperti sedang mengimplementasikan prinsip hidup slow living dalam segala aspek kehidupan, termasuk berkendara. Nggak jauh beda lah, ya, dengan keseharian mereka yang identik dengan aura kalem khas budaya lokal yang sarat dengan kesopanan.
Perbandingan dengan plat nomor B, H, dan plat K
Tentu saja, predikat sopan milik plat AD ini akan semakin terlihat kontras kalau kita membandingkannya dengan kelakuan plat nomor kendaraan dari wilayah lain. Kita tidak usah bawa-bawa plat K ya, karena kalau plat K itu sudah another level. Kita ambil contoh plat B dari Jakarta dan sekitarnya saja.
Sudah menjadi rahasia umum kalau pengendara plat B ini tipikalnya tidak sabaran, hobi mepet-mepet kendaraan depan, dan jempolnya gatal kalau tidak membunyikan klakson. Termasuk plat H Semarang yang juga suka banter-banter kalau di jalan. Itu kalau plat AD bisa ngomong, mungkin ngomongnya gini: “Kui plat H ngopo banter-banter? Kebelet boker?”
Lantas bagaimana dengan plat G?
Yang ini nggak usah ditanya. Sebagai warga lokal yang plat nomor kendaraannya G, saya adalah saksi bagaimana pengendara plat ini ugal-ugalan ngeri banget kayak plat K.
Gaya berkendara plat G ini agaknya menyerap kerasnya jalanan Pantura yang penuh truk besar. Sehingga, terbentuklah gaya berkendara yang cenderung cekatan, agresif, dan tidak mau kalah di tikungan.
Sungguh. Membandingkan plat K, B, dan G, saya merasa ketiganya memiliki kesamaan yang membuat mereka menyandang cap hama jalanan. Ketiganya kudu mencontoh plat AD Solo, sih.
Masih bisa kita perdebatkan
Meski demikian, saya yakin banyak di antara kalian yang nggak setuju kalau plat AD solo saya nobatkan jadi plat nomor paling sopan. Dan memang, hal tersebut sangat bisa kita perdebatkan. Namanya juga opini publik. Pengalaman di jalan pasti berbeda-beda.
Bisa jadi ada yang pernah emosi berat karena ketemu mobil berplat AD yang jalannya pelan banget. Sudahlah pelan, ambil posisi di kanan pula.
Ketika kita klakson, sopirnya malah diam saja, tetap santai tanpa dosa. Plengernya lagi, begitu mau kita salip, ehh… dianya malah gas banter. Apa sih sebenarnya maunya plat AD ini? Kadang bikin sebal kayak plat K dan B.
Bukan tidak mungkin juga pernah ada yang punya pengalaman tidak menyenangkan saat main ke homebase-nya plat nomor AD di Solo. Sedang berkendara di Jalan Slamet Riyadi, misalnya. Lalu ketemu dengan banyak plat AD yang bingung mau belok ke mana pas ketemu di perempatan. Ya Allah, iki loh dalanmu dewe~
Artinya apa? Kelakuan seseorang saat mengemudikan kendaraan sama sekali tidak bergantung pada huruf depan di plat nomornya. Sopan atau tidaknya seseorang di jalan murni kembali ke kepribadian masing-masing pengemudi itu sendiri.
Nah, kalau yang ini, kamu setuju kan?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.