Minggu lalu, salah satu murid saya pamit. Dia harus pindah ke Kalimantan mengikuti kakaknya yang baru saja diterima bekerja di sana. Saya jadi ingat, orang-orang sekitar saya yang meninggalkan Tegal.
Ada saudara saya juga yang pernah merantau ke Kalimantan. Orangnya sudah balik ke Tegal lagi sih, tapi matanya masih sering menyala-nyala setiap kali cerita soal enaknya merantau. Dia bahkan berencana kembali merantau, nanti, kalau anak-anaknya sudah bisa diajak serta.
Setali tiga uang, teman pengajian saya juga sudah bertahun-tahun lamanya jadi buruh migran di Hong Kong, meninggalkan anak dan suami di rumah. Sempat sih dia pulang ke Tegal, lalu buka usaha warung nasi. Tapi, cuma bertahan tiga tahun sebelum akhirnya mantap berangkat ke Hong Kong lagi.
Itu baru contoh kecil. Aslinya, kalau ditelusuri lagi, masih banyak lagi kisah-kisah serupa. Kisah keberanian seseorang meninggalkan kampung halamannya, Tegal demi satu alasan yang sama, mendapatkan hidup yang lebih layak.
Bukan semata-mata soal UMK
Memang, kalau bicara soal merantau, kebanyakan dari kita berpikir bahwa rendahnya UMK jadi persoalan utama. Soal upah, UMK Tegal itu memang imut sekali.
UMK Tegal hanya Rp2,5 juta sebulan untuk kotanya dan Rp2,4 juta untuk kabupatennya. Pakai kalkulator tercanggih sekalipun, orang pasti bakal pusing mikir bagaimana gaji segitu bisa dibagi 30 hari. Apalagi kalau sumber penghasilannya hanya mengandalkan satu orang saja. Auto megap-megap.
Meski UMK Tegal tergolong kecil, itu bukan jadi satu-satunya hal yang membuat warga Tegal ramai-ramai hijrah. Ada persoalan lain yang sangat dirasakan oleh warga asli sini. Yaitu, bagaimana kota ini makin hari makin salah kiblat.
Perlahan Tegal berubah jadi kota dengan gaya metropolitan, tapi palsu. Kafe di mana-mana, hotel bertebaran, sampai tempat hiburan malam pun ada di Tegal. Sesuatu yang akhirnya membuat Tegal jadi asing.
Edan apa! Sega goreng regane Rp55 ribu, Jon! Kentir.
Oke, itu memang nasi gorengnya masuk kafe, jadi harganya lebih mahal. Tapi, bagaimana dengan sepincuk pecel lele di warung tenda yang harganya, ternyata 11-12 dengan pecel lele di Surabaya? Padahal, UMK dua kota ini bak langit dan bumi.
Jujur saja, buat orang-orang kecil, hidup di Tegal akhir-akhir ini jadi melelahkan sekali. Jalanan makin macet, tukang parkir pun makin banyak, seiring dengan menjamurnya spot-spot tongkrongan baru.
Hidup jadi terasa sangat memburu di Tegal. Nggak ada santai-santainya blas dengan UMK seimut itu. Saya bahkan sampai pada titik meyakini bahwa jangan-jangan benar apa yang dibisikkan oleh netizen selama ini, bahwa Tegal adalah tempatnya cuci-cuci.
Budaya srawung Tegal yang masih kental
Selain soal gaya hidup kota yang bikin sesak, ada satu hal lagi yang membuat warga Tegal, terutama anak-anak mudanya memilih untuk angkat kaki dari kota ini. Yaitu, budaya srawung atau kumpul-kumpul yang masih kental.
Ya kalau kumpulnya produktif sih nggak masalah ya. Persoalannya, srawungnya ini lebih ke kepo urusan orang lain. Semua hal di Tegal itu bisa banget untuk dipermasalahkan dan dijadikan bahan obrolan. Ada orang yang nggak pernah keluar rumah diomong, yang pulang malam terus juga diomong. Dikit-dikit ditanya kapan nikah, dikit-dikit dikasih nasihat padahal nggak diminta, dst.
Itu sebabnya, bagi anak muda, merantau ke luar kota Tegal bukan cuma soal cari duit, tapi juga cara paling ampuh untuk mencari ketenangan batin. Persis seperti murid saya yang setelah lulus lebih memilih ngopeni apartemen di Jakarta daripada cari kerja di Tegal.
Negara tetangga jadi incaran
Gelaja Tegal yang semakin ditinggalkan ini makin terlihat dari membludaknya orang yang mendaftar ke Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) bagi calon tenaga kerja luar negeri. Murid-murid saya, bahkan ada yang dari kelas 10 sudah berkeinginan untuk kerja ke luar negeri. Padahal dulu, murid yang terang-terangan pengen jadi TKI itu langka sekali. Paling cuma satu-dua anak saja. Itu pun belum tentu ada tiap tahunnya.
Akan tetapi, lihatlah sekarang. Jumlah anak muda yang antusias ngurus paspor dan belajar bahasa asing untuk kabur ke luar negeri semakin banyak. Seolah, jadi TKI adalah tren baru yang keren.
Lantas, kalau sudah begini caranya, apakah mereka yang berbondong-bondong meninggalkan Tegal adalah orang-orang yang durhaka dan tidak cinta dengan tanah kelahirannya?
Oh, tentu saja tidak sesederhana itu. Pada akhirnya, ukuran cinta pada kampung halaman bukan dilihat dari siapa yang paling lama tinggal di sana. Barangkali, justru merantau adalah bentuk lain dari rasa cinta terhadap kampung halaman. Karena ketika kita berada jauh dari kampung halaman, lewat air mata rindu yang berlinang, kita jadi benar-benar tahu caranya pulang dan menghargai Tegal dengan segenap hati, mau seperti apapun kondisinya saat ini.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Banjarnegara ditinggal kabur karena warganya tidak punya banyak pilihan hidup.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.