Informasi
ADVERTISEMENT

Pengalaman 6 jam mampir ke IKN saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya

Pengalaman 6 jam mampir ke IKN, saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya Mojok.co

Ada yang penasaran dengan kabar IKN sekarang? 

Sudah beberapa kali saya berkesempatan singgah di salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur. Sebuah kota yang terkenal dengan julukan Kota Minyak.

Jangan terbayang Poltak atau Ruhut Sitompul pada sinetron televisi Gerhana yang punya julukan “Raja Minyak dari Medan” ya. Sebab, kita akan membahas Balikpapan. 

Sejarah mencatat, Balikpapan memiliki sumber daya alam berupa minyak yang melimpah. Kalian mungkin tidak asing dengan berita ditemukannya sumur minyak pertama di Balikpapan yang dinamai Mathilda. Sumur pengeboran pertama kaki Gunung Komendur di sisi timur Teluk Balikpapan.

Adanya potensi sumber daya alam yang besar otomatis menjadi magnet para pendatang untuk singgah atau bahkan akhirnya kerasan mencari penghidupan di kota ini.

Walau sudah beberapa kali ke Balikpapan, saya baru sadar ada satu pertanyaan yang selalu ditanyakan ojek online, “Nggak mau ke IKN kah, Mbak?”.

Saya langsung teringat proyek fenomenal yang panas diperbincangkan saat debat pemilihan presiden beberapa tahun lalu. Ah, maaf bukan hanya saat debat, jauh ketika proyek ini masih menjadi wacana, Ibu Kota Nusantara sudah panas dibicarakan. 

Kota Balikpapan sebagai wilayah industri menjadi gerbang atau penyangga utama IKN. Jaraknya hanya sekitar 50-82,6 km tergantung rute yang dipilih secara waktu tempuh ya kurang lebih 60-90 menit. 

Berkat pertanyaan dari ojol, saya akhirnya tertarik untuk mampir Ibu Kota Nusantara. Selama 6 jam di IKN, ini yang bisa saya jadikan oleh-oleh obrolan ke teman-teman. 

#1 Rasanya seperti mimpi, ada peradaban di tengah hutan 

Sepanjang perjalanan menuju IKN, saya disuguhi pemandangan hutan di kiri dan kanan jalan. Bahkan, di titik tertentu, kalau tidak salah di kilometer 38, saya melihat monyet-monyet turun dari pepohonan dan nongkrong di pinggir atau tengah jalan. 

Dahulu, saat masih SD, kalau mendengar kata Kalimantan pasti langsung terbayang hutan yang hijau. Ternyata memang betul, bagi saya yang lahir dan tumbuh di Jawa dengan luasan hutan yang tidak seberapa, agaknya hutan Kalimantan terasa spesial. 

Akan tetapi, siapa yang menyangka di tengah hutan itu kita akan menemukan dunia lain. Bisa dibilang, menemukan negara Singapura di tengah belantara. Kenapa Singapura? Sebab, sejauh pengamatan, IKN bak wilayah yang kecil tetapi maju atau metropolitan. Memang seperti kota masa depan, teratur, bersih (tentu saja karena belum banyak penduduknya), dan hijau.

#2 Rest area vs Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara

Kali ini, saya berangkat menggunakan bus dari Terminal Batu Ampar, Kota Balikpapan. Harga tiketnya kalau tidak salah ingat Rp43.000. Semua penumpang turun di rest area sebagai titik kumpul sebelum akhirnya bisa menggunakan jasa shuttle untuk masuk ke Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara (KIPP IKN). 

Rest Area cukup luas. Ada pusat jajanan dan kuliner tapi sayangnya lebih banyak yang tutup padahal saya ke sana di hari Sabtu. Kesan pertama yang saya dapat adalah terasa sekali disparitas ekonomi dan sosial. Perbedaan yang terlalu mencolok, rest area yang terkesan terburu-buru dan tidak siap. 

Aroma yang kurang sedap menjadi yang paling saya ingat, selain panas yang memang menjadi khas Kalimantan. Ada beberapa petugas dengan rompi IKN berjaga di dekat pintu, semacam pusat informasi bagi pengunjung. 

Sayangnya, rompi keren mereka masih belum diimbangi dengan penjelasan yang interaktif dan informatif terkait IKN. Mungkin saat itu, petugasnya masih baru. Saya mencoba maklum.

#3 Mangkrak?

Berita seringkali menyebut IKN mangkrak. Menurut saya sih tidak ya. Itulah kenapa saya bilang, seperti di Singapura. Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN terkesan sangat fancy, rapi, indah, dan bersih. 

Seingat saya, konsep yang diusung memang Smart Forest City. Konsep ini memang terlihat dari berbagai tanaman yang juga menjadi penyeimbang dan pemanis sekeliling KIPP IKN. Walau memang, sejauh pengamatan saya masih ada beberapa bangunan yang belum jadi, tapi saya sih percaya itu masih on progress. Hehe…

#4 IKN estetik, tapi tidak ramah pengunjung

Saya cuma punya waktu 6 jam mampir di IKN. Namun, selama waktu yang singkat itu, saya bisa pastikan IKN kawasan yang estetik. Perpaduan anatara hijau-hijau tanaman dan arsitektur gedungnya begitu menarik. 

Mungkin itu mengapa banyak orang mampir ke IKN untuk berwisata ya. Sejauh pengamatan saya saat mampir, pengunjung IKN kebanyakan dari kota/kabupaten sekitar. Ada yang dari Kutai Kartanegara, Tenggarong, Balikpapan, dan Samarinda. Ada juga yang dari luar Kalimantan yang mungkin seperti saya yang sengaja melipir IKN karena penasaran.

Saya sempat mencari musala di dekat area Plaza Timur karena tidak keburu kalau harus ke Masjid IKN. Musalanya berada di salah satu gedung yang saya lupa namanya, tapi lagi-lagi bisa saya katakan estetik. 

Saya cukup kaget disuguhi pohon di dekat musala. Saya kira bakal seperti orang menyembah pohon ketika bersujud, untungnya arah kiblat agak serong. 

Walau estetik, jujur saya kesal karena musala tersebut dilengkapi fasilitas AC dan remotenya, tapi tidak dengan baterainya. Byuh, mungkin harapan pembuat gedung saya dan jamaah yang salat bisa merasakan kesejukan hanya dengan melihat pohon dan berdzikir. 

Oiya, satu lagi, konsep kawasan ini adalah Smart Forest City. Jadi jangan kaget kalau pas mengambil air wudhu kalian ketemu ulat atau serangga lain. Mungkin itu bagian dari konsep “forest”.

#5 Shuttle IKN di jam-jam rawan perlu ditambah

Saya harus kembali ke Balikpapan. Tentunya menggunakan fasilitas shuttle yang memang disediakan gratis untuk pengunjung yang hendak kembali ke titik rest area. Bus yang saya pesan adalah bus terakhir yang beroperasi kalau tidak salah berangkat pukul 19.30 WITA. 

Sayangnya, saya salah kalkulasi waktu. Momen itu menjadi peak hour, orang-orang juga hendak kembali ke rest area. Sedangkan, jumlah shuttle yang beroperasi saat itu tidak berimbang dengan jumlah pengunjung. 

Waktu tunggu pun menjadi sangat panjang. Terlebih hari itu adalah weekend, jumlah pengunjung pasti juga lebih besar dari weekdays. Saat itu saya sudah cukup panik, mengingat saya tidak menyiapkan perlengkapan menginap dan besoknya saya sudah harus ke Samarinda. 

Perjalanan dari KIPP ke Rest Area membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Akhirnya, saya mendapatkan shuttle di pukul 19.14 masih dengan dagdigdug semoga saja saya tidak ketinggalan bus.

Enam jam sebetulnya masih terlalu singkat untuk bisa mengelilingi IKN, tapi apa daya namanya juga melipir. Sempat tidak sempat yang harus sempat. Saya cukup senang merasakan pengalaman berwisata yang cukup berbeda karena bukan ke pantai, gunung, air terjun, tetapi ke kawasan ibu kota. Baru kali ini melihat peradaban di tengah hutan seperti adegan di film-film. 

Akan tetapi, sepulang mampir 6 jam dari IKN tadi saya langsung kepikiran. Apakah dampak sosial, ekonomi, dan lingkungannya memang benar-benar sudah diperhatikan? Apakah kesenjangan masih terasa? Antara hutan dan perkotaan apakah memang sudah bentul-betul berdampingan? 

Harusnya sih sudah ya … harusnya.

Penulis: Mozara Kartika Putri
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA IKN Menjadi Lahan Pembuangan ASN Adalah Kontradiksi yang Terjadi Setiap Hari di Republik Ini.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2026 oleh .

Mozara Kartika Putri

Pecinta Sheila On 7 garis tipis-tipis. Masih menjadi seorang associate researcher yang suka mengamati kelakuan manusia di bumi dan memiliki minat tinggi di bidang pemberdayaan masyarakat. Suka explore kuliner enak di berbagai kota dan gemar bermain badminton.