Informasi
ADVERTISEMENT

Dilema Jadi warga Jumapolo: ngaku dari Solo, kejauhan, dekat dari Tawangmangu juga tidak, tapi punya tempat nongkrong

Dilema Jadi warga Jumapolo Karanganyar: ngaku dari Solo, kejauhan, dekat dari Tawangmangu juga tidak, tapi punya tempat nongkrong

Satu hal yang paling saya benci kalau kenalan sama orang baru. Mendadak rasanya bakal ada kuis geografi. Pasti ditanya, “Jumapolo itu emang di mana?”, lalu saya diem dulu, mikir gimana cara jelasinnya. Bukan karena malu, tapi memang nama Jumapolo tuh belum sepopuler kecamatan lain di Kabupaten Karanganyar.

Saya biasanya jawab, “Jumapolo, Karanganyar”. Lucunya, setelah itu biasanya muncul pertanyaan pamungkas, “Dekat Solo, ya?”

Aduh, Solo lagi, Solo lagi. Rasanya ingin mengeluarkan peta Jawa Tengah, lalu mencoblos satu titik dengan tusuk gigi. Tapi, setelah lawan bicara mendengar nama Karanganyar, sebagian ada juga yang nyeletuk, ”Oh, dekat Tawangmangu, ya?”

Nah, ini dia.

Karanganyar memang identik dengan Tawangmangu, air terjun, udara dingin, sate kelinci, dan wisata pegunungan, sementara Jumapolo serasa tersingkirkan dari panggung. Memang tidak sedingin Tawangmangu, tapi setidaknya nggak perlu bawa jaket tiga lapis.

Padahal, secara administratif, Jumapolo merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kecamatan ini terdiri dari 12 desa, yaitu Bakalan, Giriwondo, Jatirejo, Jumantoro, Jumapolo, Kadipiro, Karangbangun, Kedawung, Kwangsan, Lemahbang, Paseban, dan Ploso.

Bukan kecamatan antah-berantah, apalagi planet lain

Jumapolo sendiri termasuk wilayah pengembangan pariwisata Karanganyar bagian selatan yang memiliki potensi wisata alam, agrowisata, religi, budaya, buatan, hingga desa wisata.

Mungkin karena nama Jumapolo tidak sesering disebut seperti Solo atau Tawangmangu, kecamatan ini kadang rasanya punya status “antah-berantah”. Begitu menyebut Jumapolo, ada saja yang langsung bertanya, “Di sana ada apa?” Seolah-olah kesibukan kami setiap pagi harus berburu kayu bakar dan sore hari baru turun gunung.

Tolonglah, padahal kehidupan di Jumapolo ya biasa saja. Ada Pasar Jumapolo, kantor pos, bengkel, sekolah, warung, tempat makan, bis, dan juga jalan raya.

Jumapolo ada tempat nongkrongnya!

Di Desa Ploso, misalnya, terdapat Ploso Cafe Watu Wayang yang menawarkan suasana resto sekaligus pedesaan di pinggir sungai. Tempat ini dikelola oleh BUMDES Ngudi Berkah, Desa Ploso, dan menyajikan suasana santai lengkap dengan gazebo serta hidangan khas pedesaan. Bahkan durian khas Desa Ploso menjadi salah satu daya tariknya. Duriannya manis dan legit, wajib dicoba siapa saja yang berkunjung ke sini.

Kalau mau ngopi malam-malam pun sebenarnya nggak perlu pergi jauh.

Di dalam Terminal Jumapolo, misalnya, ada Minarsih Coffee yang buka setiap malam. Agak kaget juga saya karena tempat ini masih terbilang baru. Biasanya orang datang ke terminal karena mau naik kendaraan atau menunggu seseorang. Di sini, terminal bisa punya fungsi tambahan sebagai tempat ngopi.

Selain Minarsih, ada juga Kodapi Coffee yang berada di depan SDIT Jumapolo dan hadir setiap malam. Konsepnya cukup unik karena menggunakan mobil pick up kuning untuk berjualan.

Hal-hal kecil seperti ini mungkin terdengar sepele. Tapi justru dari situ kelihatan kalau Jumapolo bukan tempat yang “mati” setelah sore hari apalagi dikira antah-berantah.

Jadi, hilangkan bayangan kalau Jumapolo hanya berisi sawah, bebatuan, dan warung yang tutup kalau sudah malam. Meskipun warung yang tutup cepat memang tetap ada.

Antara pasrah dan jadi guru geografi dadakan

Pada akhirnya, saya punya dilema sendiri. Mau ngaku Solo, aslinya kejauhan. Mau ngaku Tawangmangu, takut dikira “numpang nama” sama tetangga jauh. Kalau bilang Karanganyar, langsung ditanya, “Oh, Tawangmangu?” Mau bilang Jumapolo, ah ribet, harus jelasin dari awal lagi. Jadi, sebenarnya jawaban paling aman adalah menyebut semuanya sekaligus.

“Jumapolo tuh ada di Kabupaten Karanganyar. Kalau kamu tahu Solo, ya bener masih masuk Solo. Kalau tahu Tawangmangu, ya masih satu kabupaten. Tapi jangan disamakan juga, karena Jumapolo ya Jumapolo.” Panjang memang. Tapi, setidaknya tidak perlu menggambar peta di atas meja.

Sebab, memang begitulah nasib menjadi warga di daerah yang tidak terkenal. Bukan tidak punya identitas, cuma identitasnya sering membutuhkan penjelasan sepanjang rel kereta api.

Jadi kalau suatu hari ada yang masih tanya-tanya lokasi Jumapolo lagi, saya bakal jawab, “Pokoknya di Karanganyar.” Kalau masih tidak tahu? Sudahlah, ayo ngopi aja. Mau Minarsih atau Kodapi?

Penulis: Annisa Agrifina N Rofi’ah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Karanganyar, Daerah Underrated di Jawa Tengah yang Nyaman untuk Ditinggali

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2026 oleh .

Annisa Agrifina N Rofiah

Mahasiswa D4 Keperawatan Poltekkes Kemenkes Surakarta. Kebetulan saya suka menulis dan olahraga bola voli.