Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Nur Anisa Budi Utami oleh Nur Anisa Budi Utami
15 Mei 2026
A A
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir (Crisco 1492 via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu kalau saya bilang ke orang dari luar Kulon Progo bahwa saya sering main ke Pantai Glagah, mereka cuma bilang, “Oh, yang pasir hitam itu?” Terus diam. Nggak ada ekspresi kagum, nggak ada “wah enak dong”, nggak ada rasa iri sedikit pun. Paling banter mereka nyeletuk, “Bukannya Gunungkidul lebih bagus?”

Ya sudah. Saya sudah terbiasa.

ADVERTISEMENT

Pantai Glagah memang bukan pantai yang masuk bucket list siapa-siapa, kecuali pemancing yang memang hobi nyerang spot. Nggak ada pasir putih, nggak ada air tosca yang enak buat foto. Yang ada ya ombak selatan yang galak, tetrapod berjejer, laguna yang tenang kalau pagi, sama angin yang sering banget bikin makan di warung sambil satu tangan nahan topi.

Tapi sekarang orang-orang tiba-tiba bilang Glagah serasa di Bali. Dan saya, sebagai orang yang sudah lama di sini sebelum ini semua ramai, nggak tahu harus reaksinya gimana.

Semuanya gara-gara kafe di Glagah

Jadi begini ceritanya. Beberapa waktu lalu muncul sebuah kafe namanya De Cafa, berdiri tepat di kawasan pemecah ombak baru antara Pantai Glagah dan Pantai Congot. Konsepnya simple banget, payung-payung putih ditancap di atas pasir, menghadap laut selatan, dengan batu-batu groin gede di belakangnya. Sore hari, langit jingga, ombak nabrak pemecah ombak, orang-orang duduk santai, pesan kopi atau apalah.

Dari layar TikTok, jujur, memang keliatan kayak Bali.

Dari situ lah semuanya mulai. Caption demi caption naik. “Dikira Bali, ternyata ini Glagah, Kulon Progo.” Orang-orang dari luar kota mulai berdatangan, karena penasaran. Beberapa teman saya yang dulu nggak pernah mau diajak ke Glagah dengan alasan “nggak ada yang menarik” tiba-tiba nanya, “Eh De Cafa itu di mana persisnya?”.

BACA JUGA: Kulon Progo: Permata Jawa yang Kalah Tenar dengan Bandara YIA

Baca Juga:

Sentolo Kulon Progo Banyak Berubah dan Warlok Kebagian Jadi Penonton Aja 

Angkringan Paling Aneh Ada di Kulon Progo: Makan Kenyang Murah Sembari Dapat Pemandangan Sawah, Kereta Api, dan Kamar Jenazah

Bali mana yang kalian maksud?

Masalahnya, saya selalu agak waswas setiap kali dengar sebuah tempat disebut “Bali-nya” suatu daerah. Bukan karena saya anti pariwisata atau apa pun itu. Tapi karena Bali itu sendiri punya dua versi yang sangat berbeda.

Ada Bali versi impian yang eksotis, ekonominya bergerak, warganya sejahtera dari pariwisata. Dan ada Bali versi nyata yang jarang disebut kayak macet yang nggak masuk akal, pantai-pantai yang mulai penuh sampah di musim tertentu, harga tanah yang sudah di luar jangkauan warga lokal, dan orang-orang asli Bali yang perlahan tersingkir dari kampung mereka sendiri karena kalah bersaing sama modal dari luar.

Jadi kalau ada yang bilang Glagah bakal jadi Bali-nya Jogja, pertanyaan saya cuma satu: Bali yang mana?

Kalau yang dimaksud versi pertama, bagus. Tapi kalau kita nggak hati-hati, yang datang bisa jadi versi kedua.

Tanda-tandanya sudah bisa dibaca

Saya nggak sedang lebay. Pantai Glagah belum sampai di titik krisis. Tapi ya, tanda-tanda kecil itu sudah mulai keliatan.

Infrastrukturnya belum siap buat lonjakan wisatawan seperti ini. Tempat sampah masih kurang. Waktu ramai, antrean kendaraan bisa sampai 1,5 kilometer dari lampu merah Glagah ke depan Balai Desa Karangwuni. Ketua Desa Wisata Glagah sendiri sudah bilang terus terang bahwa ia berharap pemda lebih serius menatanya.

Dan De Cafa yang jadi bintang dari semua ini baru berdiri. Masih baru banget. Belum ada yang tahu kawasan ini akan jadi seperti apa dua tiga tahun ke depan, apalagi kalau modal-modal besar mulai lirik dan berebut lahan di tepi pantai.

Itu yang bikin saya nggak bisa santai sepenuhnya.

Ada kabar baik, tapi tetap aja nggak bisa tenang

Tapi ada hal yang sedikit bikin napas lega. Pedagang-pedagang kecil yang sudah lama jualan di sekitar situ seperti warung-warung yang dulu sepi karena posisinya nanggung, nggak di Glagah, nggak di Congot, sekarang ikut kebagian ramainya. Itu nyata. Lebih nyata dari angka kunjungan yang selalu dibanggakan di siaran pers dinas pariwisata.

Tapi saya juga tahu, nggak semua cerita soal destinasi yang mendadak viral berakhir baik buat orang-orang yang sudah lama di sana duluan. Polanya sering sama: kafe-kafe estetik masuk, modal besar ikut, dan pelan-pelan warga lokal cuma jadi bagian dari “nuansa autentik” yang dijual ke wisatawan. Jadi latar belakang foto, bukan penerima manfaatnya.

Semoga Glagah nggak begitu. Tapi saya nggak bisa pura-pura yakin.

Semoga Glagah tetap jadi Glagah

Glagah sudah ada jauh sebelum De Cafa. Sebelum groin, sebelum ada yang bilang “dikira Bali”. Pasirnya dari dulu hitam. Ombaknya dari dulu galak. Lagunanya dari dulu tenang kalau pagi, sebelum pengunjung datang dan suasananya berubah jadi ingar-bingar.

Yang berubah cuma satu: sekarang ada orang-orang yang baru “menemukan” tempat ini, terus menamai ulang dengan label yang lebih seksi.

Saya nggak keberatan Pantai Glagah ramai. Yang saya keberatan adalah kalau ramainya ini cuma menguntungkan pihak-pihak yang datang belakangan, sementara orang-orang yang sudah lama hidup dan cari makan di sana cuma kebagian jadi NPC tak dianggap.

Jadi ya, kalau orang bilang Glagah adalah Bali-nya Jogja, saya cuma bisa bilang: semoga nggak persis seperti itu. Semoga Glagah tetap jadi Glagah, bukan Bali versi kedua yang kita sesali belakangan.

Penulis: Nur Anisa Budi Utami
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kulon Progo Punya Pantai, tapi Tetap Kalah Jauh Dibanding Gunungkidul, Pantai di Sini Bikin Bingung Saking Biasanya!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2026 oleh

Tags: balide cafakulon progopantai glagah
Nur Anisa Budi Utami

Nur Anisa Budi Utami

Guru TK yang tinggal di Kulon Progo. Suka menulis, ngopi, dan jalan-jalan.

ArtikelTerkait

Fakta Kerja di Bali Tidak Seindah Kata Orang (Unsplash)

Fakta Kerja di Bali Tidak Seindah Kata Orang

5 November 2025
Culture Shock Orang Jawa yang Merantau ke Bali turis asing sewa motor

Culture Shock Orang Jawa yang Merantau ke Bali

26 Oktober 2022
3 Sate Khas Bali selain Sate Lilit yang Nggak Kalah Lezat Mojok.co

3 Sate Khas Bali selain Sate Lilit yang Nggak Kalah Lezat

9 Januari 2024
Jabodetabek Adalah Tempat KKL Terbaik

Bukan Bali, Tempat KKL Terbaik Adalah Jabodetabek

7 Oktober 2023
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
Jalan Godean Tembus Kulon Progo- Rute Anak Tiri (Unsplash.com)

Jalan Godean Tembus Kulon Progo: Rute Anak Tiri

25 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Itu Murah, yang Mahal Adalah Ongkos Sosialnya, dan Ini Rinciannya

21 Juni 2026
Orang Jombang Malas Liburan ke Wonosalam, Lebih Memilih Plesir ke Malang Mojok

Orang Jombang Malas Liburan ke Wonosalam, Lebih Memilih Plesir ke Malang

20 Juni 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Ingat Ada Revisi Mojok.co

Jangan Bangga Skripsi Nggak Banyak Revisi, Bisa Jadi Itu Pertanda Salah Arah yang Bikin Repot Saat Sidang Nanti  

20 Juni 2026
Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan Mojok.co

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan 

25 Juni 2026
Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan Mojok.co

Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan

23 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.