Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Ketika buku menebang pohon

Ahmad Irfani oleh Ahmad Irfani
4 Agustus 2026
A A
Ketika Buku Menebang Pohon
Share on FacebookShare on Twitter

“The unexamined life is not worth living,” kata Socrates. Barangkali, pada zaman ini, kalimat itu dapat diperluas: kritik yang tidak pernah menguji dirinya sendiri juga akan kehilangan sebagian martabatnya.

Kaum intelektual hampir selalu berada di barisan depan ketika berbicara tentang kerusakan lingkungan. Mereka mengkritik deforestasi, mengecam eksploitasi tambang, menulis tentang krisis iklim, dan mengingatkan dunia tentang bahaya pembangunan yang rakus terhadap alam. Semua itu penting. Peradaban membutuhkan suara-suara yang berani mengingatkan ketika kekuasaan dan modal mulai mengabaikan batas-batas ekologis.

ADVERTISEMENT

Namun, ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan.

Apakah kaum intelektual juga berani mengkritik dirinya sendiri?

Pertanyaan ini terdengar ganjil. Sebab, siapa yang akan menuduh seorang penulis, peneliti, atau akademisi sebagai bagian dari masalah lingkungan? Bukankah mereka justru sedang membela alam?

Tetapi justru di situlah letak persoalannya.

Sebagian besar buku dicetak di atas kertas. Kertas berasal dari serat kayu. Proses pembuatannya membutuhkan pohon, air, energi, dan berbagai sumber daya lainnya. Memang, tidak semua kertas berasal dari hutan alam; banyak pula yang menggunakan kayu dari hutan tanaman industri atau bahan daur ulang. Namun, satu kenyataan tetap tidak berubah: gagasan pun memiliki jejak ekologis.

Bukan hanya buku. Laptop yang digunakan untuk menulis memerlukan logam hasil tambang. Telepon pintar yang dipakai berkampanye tentang lingkungan mengandung nikel, tembaga, litium, dan berbagai mineral lain. Dunia digital yang sering dianggap lebih ramah lingkungan bergantung pada pusat data yang mengonsumsi energi dalam jumlah besar.

Baca Juga:

Setengah anggaran Perpusnas RI dipangkas, bukti pemerintah memang tidak ingin mencerdaskan rakyat

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

*

Tidak ada aktivitas intelektual yang sepenuhnya bebas dari dunia material.

Kesadaran itulah yang sering hilang ketika kritik berubah menjadi panggung untuk menunjukkan keunggulan moral. Kita mudah menunjuk orang lain sebagai perusak alam, tetapi lupa bahwa kita sendiri hidup dari sistem ekonomi, teknologi, dan produksi yang juga memanfaatkan alam. Kesadaran ini tidak dimaksudkan untuk membungkam kritik. Sebaliknya, ia dimaksudkan untuk menyelamatkan kritik dari kesombongan.

Di sinilah saya teringat pada gagasan Karl Popper. Baginya, inti sikap ilmiah bukanlah keyakinan bahwa kita benar, melainkan kesediaan untuk menerima kemungkinan bahwa kita salah. Dalam bahasa yang lebih luas, menjadi intelektual berarti memelihara kerendahan hati epistemik: kesadaran bahwa pengetahuan tidak membuat kita suci, tidak menempatkan kita di luar sistem, dan tidak membebaskan kita dari tanggung jawab atas jejak yang kita tinggalkan.

Maka, seorang intelektual tidak seharusnya hanya mahir mengoreksi dunia. Ia juga harus berani mengoreksi dirinya sendiri.

Bukan karena ia ingin mengurangi ketajaman kritiknya, melainkan karena kritik yang lahir dari refleksi diri memiliki bobot moral yang lebih kuat. Orang akan lebih percaya kepada mereka yang mengakui keterlibatannya daripada kepada mereka yang berbicara seolah-olah berdiri di tempat yang steril.

Karena itu, ukuran seorang intelektual bukanlah seberapa keras ia mengutuk orang lain. Ukurannya adalah seberapa jujur ia mengakui bahwa dirinya pun ikut menikmati hasil dari peradaban yang sedang ia kritik.

Ia tetap boleh mengecam deforestasi, tetapi juga mendukung penggunaan kertas daur ulang dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Ia tetap boleh mengkritik tambang yang merusak, tetapi juga sadar bahwa teknologi yang digunakannya lahir dari mineral yang digali dari perut bumi. Ia tetap boleh menulis buku, tetapi tanpa kehilangan rasa hormat kepada pohon yang pernah menjadi halaman-halamannya.

Itulah sebabnya saya percaya, yang membedakan seorang intelektual dari seorang pengkhotbah moral bukanlah kepandaiannya menghakimi. Yang membedakan adalah keberaniannya menjadikan dirinya sebagai sasaran kritik yang pertama.

Mungkin, sesekali kita memang perlu memandang rak buku di rumah dengan cara yang berbeda. Jangan hanya melihat ribuan gagasan yang tersimpan di dalamnya. Lihat pula jejak alam yang memungkinkan gagasan-gagasan itu hadir di hadapan kita.

Sebab, setiap buku mungkin pernah menjadi pohon.

Tetapi tidak setiap penulis pernah cukup rendah hati untuk mengingatnya.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

Tags: alamBukuintelektualkarl popperrak bukusocrates
Ahmad Irfani

Ahmad Irfani

Penyuka sepakbola dan pengamat perkembangan dunia teknologi informasi.

ArtikelTerkait

Blok Pembangkang: Gerakan Anarkis di Indonesia 1999-2011: Mengenal Pembangkang yang Ingin Membubarkan Negara

Blok Pembangkang: Gerakan Anarkis di Indonesia 1999-2011: Mengenal Pembangkang yang Ingin Membubarkan Negara

5 Juni 2022
buku bajakan buku-buku baru buku musik mojok

4 Rekomendasi Buku Musik untuk Kalian yang Ingin Jadi Penulis Musik

27 Agustus 2020
Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan Terminal Mojok

Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan: Kumpulan Cerita yang Simpan Amarah, Luka, dan Perlawanan

15 September 2021
Nggak Usah Maksa Punya Rak Buku di Toilet ala Dian Sastro kalau Masih Jorok Terminal Mojok

Nggak Usah Maksa Punya Rak Buku di Toilet ala Dian Sastro kalau Masih Jorok

21 Februari 2022
Seandainya Toko Buku di Purbalingga Sebanyak Gerai Es Teh Jumbo, Mahasiswa Nggak Akan Kerepotan Mojok.co

Seandainya Toko Buku di Purbalingga Sebanyak Gerai Es Teh Jumbo, Mahasiswa Nggak Akan Kerepotan

17 November 2023
maksud politik jahat ben anderson joss wibisono review resensi gde dwitya arief metera mojok

Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson Melawan Orde Bau

29 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

2 Agustus 2026
Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

3 Agustus 2026
Saya pikir, publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, ternyata lebih banyak menguji mental Mojok.co

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

29 Juli 2026
4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo Mojok 

4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo 

31 Juli 2026
5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu pindah ke Salatiga (Unsplash)

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

2 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.