Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Aisyah Akhlaqul Karimah oleh Aisyah Akhlaqul Karimah
31 Juli 2026
A A
Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Wacana dan aturan yang mewajibkan dosen berpendidikan strata tiga alias S3 sebenarnya bukan hal yang mengejutkan dari sisi standar. Sebagai bangsa yang ingin perguruan tingginya bersaing di kancah global, menaikkan kualifikasi pengajar adalah langkah wajar.

Masalah sebenarnya justru muncul saat melihat bagaimana kebijakan ini berdiri sendirian, seperti bangunan megah tanpa tiang penyangga yang kokoh.

Pemerintah dan pembuat kebijakan tampak sangat bersemangat mematok standar tinggi, tetapi lupa membenahi ekosistem di sekitarnya. Aturan ini mewajibkan orang sekolah sampai tingkat tertinggi. Tetapi akses menuju ke sana justru dipersulit oleh berbagai kerumitan birokrasi dan minimnya dukungan nyata dari regulasi lain.

Banyak mahasiswa S2 yang berencana melanjutkan studi ke jenjang S3 demi bisa berkontribusi di dunia akademis, situasi ini terasa membingungkan sekaligus menguras emosi. Keinginan untuk belajar itu ada, niat untuk memenuhi standar negara juga bulat. Namun, benteng pertahanan bernama beasiswa sering kali terasa seperti labirin tanpa ujung.

Kuota beasiswa S3 kelewat terbatas

Banyak dari kita yang sudah berusaha memenuhi semua kualifikasi formal dengan sangat tertib. Nilai TPA tinggi sudah di tangan, skor TOEFL melampaui batas minimal, portofolio riset dan CV sudah ditata serapi mungkin, bahkan prestasi akademis selama S2 juga tidak malu-maluin. Di atas kertas, kualifikasi tersebut sudah sangat ideal untuk melangkah ke jenjang doktor. Namun pada kenyataannya, berburu beasiswa di negeri ini tetap saja seperti mencari jarum di dalam jerami.

Kuota beasiswa sering kali terbatas. Proses seleksi tidak jarang terasa acak. Dan, skema pendanaan untuk calon doktor kerap kali kurang ramah bagi mereka yang benar-benar fokus pada riset murni. Belum lagi jika bicara soal biaya hidup dan tuntutan ekonomi yang harus ditanggung selama masa studi. Bagaimana mungkin seseorang dituntut memiliki gelar S3 jika jalan menuju ke sana penuh dengan kerikil tajam dan pintu yang terkunci?

Kebijakan penetapan standar dosen S3 ini seolah berasumsi bahwa semua calon dosen memiliki modal finansial mandiri yang melimpah untuk membiayai kuliahnya sendiri. Padahal, realitas lapangan menunjukkan bahwa mayoritas talenta muda yang berpotensi menjadi akademisi hebat justru sangat bergantung pada bantuan pendanaan dari negara atau lembaga penyedia beasiswa.

Kondisi ini makin ironis ketika calon peneliti muda justru lebih banyak menghabiskan energi untuk bertahan hidup dan mengurus berkas administrasi beasiswa yang berbelit-belit daripada merancang riset berkualitas. Padahal, esensi dari jenjang doktor adalah kedalaman karya ilmiah, bukan ketangkasan melompati pagar birokrasi pendanaan.

Baca Juga:

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Yang rugi banyak

Fenomena ini akhirnya menciptakan ruang abu-abu yang merugikan banyak pihak. Calon akademisi yang berpotensi besar akhirnya terpaksa menunda atau bahkan mengubur mimpi mereka untuk mengajar hanya karena terganjal tembok finansial. Di sisi lain, perguruan tinggi juga terancam kehilangan regenerasi pengajar muda yang segar dan penuh gagasan baru.

Menuntut standar akademis setinggi langit itu sah saja, bahkan perlu. Namun, menuntut tanpa memberikan kemudahan akses adalah bentuk ketidakselarasan kebijakan. Jika negara memang serius ingin membenahi mutu perguruan tinggi melalui dosen bergelar S3, maka sederhanakanlah akses beasiswanya, perluas kuotanya, dan perbaiki sistem seleksinya agar mereka yang berkualifikasi tidak gugur hanya karena sistem pendanaan yang rumit.

Tanpa adanya aturan pendukung dan kemudahan akses beasiswa, aturan dosen wajib S3 ini hanya akan menjadi beban tambahan bagi para calon akademisi. Pada akhirnya, kita hanya bisa mengelus dada sambil bertanya, apakah negara benar-benar ingin mencetak dosen berkualitas, atau sekadar ingin menambah panjang daftar syarat formalitas yang sulit digapai.

Penulis: Aisyah Akhlaqul Karimah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kuliah S3 Memang Bergengsi, tapi Menyimpan Sisi Kelam yang Jarang Diketahui Orang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2026 oleh

Tags: beasiswa s3DosenS3syarat jadi dosen
Aisyah Akhlaqul Karimah

Aisyah Akhlaqul Karimah

Mantan mahasiswa S2 yang lagi kerja.

ArtikelTerkait

Dosen Pelit Nilai Hanya Menggali Kuburannya Sendiri Mojok.co

Dosen Pelit Nilai Hanya Menggali Kuburannya Sendiri

15 April 2024
menyikapi dosen yang tak pernah praktik kerja berdebat dengan dosen

Panduan untuk Berdebat dengan Dosen yang Konservatif dan Moderat

9 April 2020
Bayar UKT Tiap Semester Hanya demi Mendengar Teman Ngelantur di Depan Kelas: Cacatnya Model Pembelajaran Student-Centered Learning

Bayar UKT Tiap Semester Hanya demi Mendengar Teman Ngelantur di Depan Kelas: Cacatnya Model Pembelajaran Student-Centered

15 Oktober 2025
Dosen Ideal yang Bisa Membantu Mahasiswa Akhir Lulus Segera terminal mojok.co asisten dosen

Pengalaman Saya Nekat Menjadi Asisten Dosen Ilegal: Kena Damprat Petugas Lab hingga Diangkat Jadi Asisten Resmi

22 Februari 2024
Dosen Toxic Kebelet Jadi Guru Besar: Tugas Artikel Ilmiah Wajib Terbit dan Ancam Mahasiswa dengan Nilai

Dosen Toxic Kebelet Jadi Guru Besar: Tugas Artikel Ilmiah Wajib Terbit dan Ancam Mahasiswa dengan Nilai

20 November 2025
Saya pikir, publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, ternyata lebih banyak menguji mental Mojok.co

Saya pikir publikasi jurnal saat pascasarjana bakal menguji kemampuan akademik, nyatanya lebih banyak menguji mental

29 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Honda Vario 150, Sahabat Terbaik Toko Kelontong (Unsplash). daihatsu sigra

Honda Vario 150 LED Old, motor yang semakin tua justru semakin diburu, motor Honda terbaik!

27 Juli 2026
Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian Mojok.co

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

25 Juli 2026
Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

29 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Jangan bebani mahasiswa KKN dengan tugas yang harusnya dikerjakan negara

30 Juli 2026
Indomaret Tutup, Orang Dewasa Depresi Bakal Makin Stres (Unsplash)

Saya akhirnya mengakui keunggulan Indomaret karena 3 barang ini

28 Juli 2026
Tempe mendol yang endul gusur bakso Malang dari hati saya (Wikimedia Commons)

Bakso Malang minggir dulu, status makanan khas Malang mending kasihin ke tempe mendol yang endul itu

26 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.