Dahulu saya mungkin berkata bekerja sebagai peneliti lapangan itu menderita. Namun, itu semua dahulu. Setelah merasakan jadi warga negara dengan pemerintah nggak becus, ternyata kondisi ini lebih menderita.
Sambatan terkait pekerjaan ini sudah banyak dibahas di tulisan Mojok beberapa waktu lalu, 5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar.
Saya setuju, bekerja sebagai peneliti lapangan itu banyak pahitnya. Sebetulnya, saya juga masih punya stok sambatan perihal pahitnya menjadi peneliti lapangan, tapi karena kondisi negara kita juga tidak kalah pahit, saya memilih untuk bercerita tentang manisnya saja.
#1 Memiliki kesempatan belajar manajemen keuangan
Menjadi peneliti lapangan yang biasanya bekerja by project memberikan kesempatan untuk bisa mengatur uang dengan baik.
Kenapa? Iya tentu saja karena biasanya saya dibayar di akhir pekerjaan, saat laporan sudah selesai ditulis. Bukan karyawan yang bisa menunggu tanggal 25 atau tanggal 1 untuk menerima gaji.
Saya akan memutar otak untuk bisa mencukupi kehidupan dari uang project sebelumnya yang bisa jadi adalah hasil project 2-3 bulan yang lalu (bukan karena nominalnya besar, tapi saya sudah mulai jago berhemat).
#2 Satu rupa beragam asumsi profesi
Tampilan apa sih yang bisa menjadi label bagi peneliti lapangan? Sepertinya saya pun merasa tidak memiliki identitas bila dilihat dari sisi penampilan. Kalau sedang menggunakan kemeja flanel, dikira mahasiswa yang lagi KKN (bagian ini saya senang berarti saya terlihat awet muda).
Besoknya, saya memakai blouse berwarna putih dikira bidan. Lusa, saya memakai cardigan dan jeans eh dikira sales panci. Lebih parah lagi, kawan saya (yang ingin nampak membumi) menggunakan kaus oblong, sempat dikira intel karena saat itu memang sedang rame-ramenya penggerebekan terkait jaringan teroris.
Kapan lagi, ngga perlu sekolah kedokteran bisa dibilang bu dokter, to?
#3 Peneliti lapangan selalu punya cerita menarik
Berkeliling ke berbagai daerah membuat saya jadi mengenal Indonesia memang begitu kaya. Bisa belajar berbagai bahasa daerah, kearifan lokal apa yang masih lestari, termasuk kemiskinan apa yang masih saja tumbuh subur kemanapun saya pergi.
Eh iya, dengan menjadi peneliti lapangan saya bisa melihat pembangunan koperasi desa, sekaligus memantau bagaimana pelaksanaan makan siang gratis di berbagai wilayah.
Mungkin bisa dibilang bukan memantau tapi rasan-rasan. Biasanya, saya selalu mengoleksi beberapa kata-kata atau kalimat yang berasal dari bahasa daerah setempat. Itu adalah oleh-oleh paling menyenangkan yang bisa saya bawa pulang dan terkenang. Seperti misalnya kalimat, “Alangkeh ribang e aku di denga” berasal dari bahasa daerah Sumatera Selatan artinya aku suka sama kamu. Sudah saya simpan sebagai alternatif dari i love you, hahaha
#4 Kontak handphone peneliti lapangan adalah aset berharga
Setiap perjalanan, saya pasti membutuhkan persewaan kendaraan entah motor, mobil, bahkan perahu. Mungkin mirip seperti konten Dani Ikan, Imam Bawang, Yudi Kelapa, Asep Ayam yang sedang viral, kontak di hp saya pun tidak kalah ramai dari itu. Mulai dari Lulu Rental Malang, Motor Rental Palembang, Bang Ridwan Bandara Medan, MTG Rent Motor, Bu Uqro Rentcar GTO, dan masih banyak lagi.
Oiya itu juga belum termasuk apabila saya mencari kos-kosan ya. Menariknya, saya menjadi semacam pusat informasi ketika teman-teman ada yang butuh nomor atau kenalan persewaan. Bisa dibayangkan, saya bahkan akan mengklaim diri saya lebih valid dari Google. Asal tahu saja, sering kali informasi persewaan di Google itu scam. Sedangkan, kalau teman-teman tanya saya sudah pasti trusted. Apakah seharusnya saya mendapat fee marketing ya?
#5 Kitorang basudara!
Perjalanan selama beberapa waktu membuat saya pasti berkenalan dengan banyak orang baru. Untungnya, walau dikirim ke berbagai tempat yang asing dan baru pertama kali pun saya selalu dipertemukan dengan orang-orang baik. Entah, berkat doa ibu saya juga sepertinya.
Ada rasa degdegan juga sih sebetulnya, ketika peneliti lapangan harus bersedia ditempatkan dimana saja, sepaket dengan risiko pekerjaan di dalamnya. Risiko roaming karena beda bahasa, kendala jaringan karena tower internet nggak sampai, akses jalan yang sungguh fluktuatif alias nggronjal. Kondisi lapangan yang kadang nggak mulus, ternyata Tuhan kasih gantinya dengan bertemu orang-orang rasa saudara.
Tentunya, segala perbedaan bukanlah penghalang asalkan kita mau mendengar. Peneliti nggak cuma dituntut untuk meneliti tapi juga mau mendengar. Eh, kok nyaman? Jadi punya saudara deh. Tidak harus ada hubungan darah, tapi tidak jarang saya malah harus menahan untuk tidak menangis ketika kembali pulang.
Jadi, ada yang minat menjadi peneliti lapangan?
Penulis: Mozara Kartika Putri
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman 6 jam mampir ke IKN saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.












