Berbicara tentang impian masa kecil, jarang sekali diantara kita yang dengan bangga menyebut ‘penjahit’ sebagai cita-cita. Biasanya, pekerjaan idaman itu tidak jauh-jauh dari guru, polisi, ABRI, dan dokter. Tambah satu lagi deh, selebgram.
Sementara penjahit? Profesi ini sering kali dipandang sebelah mata. Dianggap kuno dan nggak keren karena kerjanya cuma duduk membungkuk di depan mesin jahit. Bahkan ketika di SMK ada jurusan tata busana pun, ada saja orang yang nyinyir dengan bilang, “Mau jadi apa? Penjahit?” dengan nada mengejek.
Akan tetapi, tunggu dulu. Jangan terkecoh dengan penampilannya yang terkesan “kurang keren” dibanding pegawai pemerintah atau karyawan kantoran yang selalu wangi. Di balik tumpukan kain perca dan suara dengungan mesin, nyatanya, jadi penjahit itu lumayan juga lho cuannya.
Rela resign lalu buka usaha jahit
Adalah Bu Yani. Saya mengenal beliau sebagai guru PAUD anak sulung saya. Puluhan tahun tak bersua, saya kembali bertemu beliau di sebuah kios jahit. Waktu itu, saya memang butuh menjahitkan kain untuk seragam kerja saya. Lalu, random saja saya masuk ke sebuah kios yang sering saya lewati saat akan berangkat kerja.
Alangkah terkejutnya saya ketika baru saja masuk kios, seorang wanita paruh baya dari balik mesin jahit berseru menyapa saya.
Perjumpaan tak sengaja itupun mengalir menjadi sebuah cerita. Rupaya, sudah sejak lama Bu Yani resign dari guru PAUD dan memilih untuk buka kios jahit. Kebetulan, jahit menjahit adalah passion dia. Cuma, waktu itu tidak dia seriusin. Dia memilih untuk menjadi guru PAUD saja karena terlihat lebih keren dan berbanding lurus dengan latar belakang pendidikannya.
Akan tetapi, setelah menjadi guru PAUD selama beberapa tahun, Bu Yani memutuskan untuk resign dan memilih untuk menjadi penjahit saja. Rupanya, profesi penjahit ini meskipun tampaknya tidak keren, jauh lebih menghasilkan daripada ketika jadi guru PAUD.
Cuannya lumayan
Untuk satu potong atasan, Bu Yani mematok tarif Rp75 ribu. Keuntungan yang dia peroleh dari satu potong baju bisa mencapai 80% bahkan lebih, tergantung kerumitan baju, kancing yang digunakan, benang dan apakah baju tersebut menggunakan resleting atau tidak.
Dibuat rata-rata keuntungan 80% saja, maka keuntungan yang Bu Yani dapat dari satu potong baju yang dijahit adalah Rp60 ribu. Itu baru satu atasan saja, ya. Padahal dalam sehari, permintaan jahit dari pelanggan bisa lebih dari 6. Belum lagi kalau pas musim hajatan dimana pesanan seragam keluarga datang beruntun. Atau, ada orderan kebaya dan jas yang tarif jasanya bisa melesat jauh di atas angka standar.
Makin panen lagi saat momen Lebaran, wisuda, tahun ajaran baru, yang membuat dia kewalahan hingga harus menolak pesanan yang masuk. Kalau dirata-rata, penghasilan dia dalam sehari berkisar Rp100-200 ribu sehari.
Pulang dari Bekasi, buka jasa permak di kampung
Cerita cuan lain datang dari tukang permak yang biasa mangkal di dekat perumahan saya. Ah, saya lupa tidak tanya siapa nama beliau. Panggil saja Pak Agus kali, ya?
Bermodalkan mesin jahit tua warisan yang dipasang di atas motor, Pak Agus mengaku bisa mengantongi rata-rata Rp100 ribu sehari. Sebelum membuka usaha permak, Pak Agus punya pengalaman puluhan tahun kerja di pabrik konveksi di Bekasi. Setelah umurnya tidak muda lagi, dia memutuskan untuk pulang kampung dan buka usaha permak.
Untuk menghemat ongkos, Pak Agus ini tidak menyewa kios. Dia hanya memarkirkan motornya dekat gerbang perumahan, lalu mencantolkan tulisan permak levis di stang motornya. Meski demikian, ada saja pelanggan yang datang menghampiri. Mulai dari ganti resleting, ngecilin baju, potong celana, dll. Semua jasa tersebut dia bandrol dengan harga Rp10.000.
Nah, ketika ditanya berapa uang yang dia dapatkan dari jasa buka vermak ini, Pak Agus mengaku rata-rata bisa bawa pulang duit Rp100.000. Alias, Rp3 juta sebulan dengan durasi kerja 6 jam sehari.
Halo, UMK Tegal?
Tantangan usaha jahit
Meski lumayan, tantangan terbesar penjahit adalah derasnya tren fast fashion yang membuat orang ogah jahit baju karena jatuhnya lebih mahal. Hitungannya begini, di marketplace, baju atasan jadi buatan pabrik konveksi seringkali diobral dengan harga yang sangat murah, antara Rp35.000 sampai Rp50.000, sudah termasuk ongkir.
Coba bandingkan dengan jalur jahit sendiri. Beli kain sendiri minimal butuh 1,5 meter kain yang harganya sekitar Rp35.000–Rp50.000. Itu baru kainnya saja. Ditambah ongkos jahit Rp75 ribu maka jika ditotal, untuk 1 potong baju jahit sendiri, pelanggan harus merogoh kocek minimal Rp110.000 hingga Rp125.000.
Akan tetapi, para pelaku usaha jahit yakin bahwa usaha mereka bisa bertahan karena akan selalu ada orang-orang yang lebih memilih kenyamanan untuk pakaian yang mereka kenakan. Tahu sendiri kan baju kalau beli jadi kadang ada saja yang nggak terasa pas di badan.
Sementara untuk tren fast fashion, meski membuat orang jadi pikir-pikir ketika mau jahit baju, tidak bisa dimungkiri tren ini jadi jalan pembuka untuk rezeki lainnya berupa permak. Ongkos permaknya memang receh, tapi ternyata kalau ditelateni cuan juga, Bos!
Ah, saya jadi ingat dengan tante saya yang dari jaman muda hingga anaknya sudah bujang-bujang, menekuni usaha jahit. Dari usahanya itu, tante saya bisa punya simpanan emas dan bisa bangun rumah.
Di sekitarmu bagaimana? Ada juga nggak kisah penjahit yang sukses?
Penulis: Dyan Arfiana Ayupuspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Penjahit yang Sering PHP Lahir dari Pelanggan yang Juga Suka PHP.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.