Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar

Muhammad Ilham oleh Muhammad Ilham
11 Agustus 2026
A A
5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar Mojok.co

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

“Wah, enak banget ya kerjanya jalan-jalan terus, dibayarin kantor lagi”. Jujur, kalimat itu sudah bukan lagi ucapan basa-basi. Itu sudah jadi makanan sehari-hari setiap kali saya atau teman-teman peneliti lapangan memberitahu apa pekerjaan kami. 

Banyak orang melihat pekerjaan peneliti lapangan melalui sudut pandang yang mereka lihat di media sosial. Mereka mengira peneliti lapangan itu bak pekerjaan jackpot. Kami dianggap sebagai manusia-manusia paling beruntung yang bisa keliling Indonesia, dari ujung Sumatra hingga pedalaman di Papua, tanpa perlu pusing memikirkan harga tiket pesawat atau biaya penginapan.

ADVERTISEMENT

Narasi “kenikmatan” inilah yang sangat menyebalkan dan akhirnya menutupi realita sebenarnya di lapangan. Orang-orang hanya melihat foto kami tersenyum dengan latar pemandangan alam yang indah, tapi mereka tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang terjadi sebelum dan sesudah foto itu diambil.

Bagi kalian para mahasiswa tingkat akhir atau fresh graduate yang mau pengin meniti karier sebagai peneliti lapangan, sebaiknya kalian membaca tulisan ini sampai habis. Pahami bahwa setiap pekerjaan, sekeren apa pun kelihatannya, selalu punya sisi gelap atau sisi nggak enak. 

Berikut 5 penderitaan hakiki menjadi peneliti lapangan yang akan meruntuhkan ekspektasi kalian.

#1 Jalan-jalan hanyalah sebuah omong kosong bagi peneliti lapangan

Peneliti lapangan dalam proses pengambilan data mengharuskan bepergian ke berbagai daerah, itu fakta. Tapi, kalau berpergian itu disamakan dengan “jalan-jalan” atau liburan bergaya healing, itu adalah omong kosong yang perlu dibantah.

Di bayangan banyak orang, ketika kami ditugaskan ke berbagai daerah, kami akan duduk manis, bersantai di pinggir pantai, sambil menikmati minuman kelapa muda. Kenyataannya, nkami harus bepergian menuju desa yang jaraknya lebih dari tiga jam dari pantai. Tidak jarang harus berpanas-panasan mencari rumah narasumber dari ujung ke ujung RT, dan harus mengatur kegiatan FGD agar lancar. 

Jadwal kami di lapangan itu sangat padat, mulai dari pagi buta hingga malam hari, bahkan sekedar bengong saja, isi kepala kami tetap bekerja memahami temuan lapangan. Hotel atau penginapan buat kami bukanlah tempat staycation, melainkan murni hanya sebagai tempat untuk menumpang mandi, menaruh barang, dan pingsan tertidur karena kelelahan.

Baca Juga:

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

#2 Peneliti lapangan harus terbiasa dengan perjalanan yang menyiksa fisik 

Ini perlu saya tegaskan, jangan bayangkan perjalanan kami selalu mulus layaknya pejabat yang naik pesawat kelas bisnis lalu dijemput mobil ber-AC. Sering kali, lokasi penelitian kami berada di area sulit dijangkau oleh akal sehat Google Maps.

Untuk mencapai satu lokasi, kami bisa menghabiskan waktu berhari-hari di jalan. Kami harus terbiasa dengan guncangan mobil yang melewati jalanan rusak atau tanah berlumpur, terombang-ambing ombak belasan saat menaiki kapal laut atau harus memberanikan diri menaiki kapal kayu kecil untuk menyusuri aliran sungai, hingga berjalan kaki menembus hutan atau mendaki bukit karena akses kendaraan terputus. 

Badan pegal, masuk angin, mabuk perjalanan, hingga asam lambung naik karena telat makan adalah sahabat sejati kami.

#3 Laporan yang menumpuk telah menanti

Banyak yang berpikir bahwa penderitaan kami selesai ketika kami pulang dari lapangan. Sayangnya, itu hanya sebuah imajinasi. Masa pengambilan data justru baru pemanasan. Tantangan sesungguhnya dimulai ketika kami kembali ke kantor atau rumah.

Di dalam tas kami, tersimpan voice recorder yang berisi puluhan jam rekaman wawancara atau lembar kerja hasil kegiatan FGD. Dan tebak siapa yang harus merapihkan itu semua? Ya, kalian benar sekali, kami sendiri. Proses ini menguras tenaga karena harus mendengarkan ulang hasil rekaman. Memang zaman sekarang ada bantuan AI, tapi sayangnya teknologi juga masih banyak luputnya.

Belum lagi kami harus merapikan catatan lapangan, Menyusun kodifikasi data, dan menulis laporan tebal dengan tenggat waktu (deadline) yang selalu terasa mencekik leher. Pulang dari lapangan pada akhirnya bukan waktunya istirahat, tapi waktu berduaan dengan laptop kesayangan.

#4 Peneliti lapangan kehilangan waktu bersama keluarga

Penderitaan satu ini dampaknya lebih ke arah emosional. Menjadi peneliti lapangan berarti harus menerima untuk menjual waktu kita. Pergi ke lapangan itu bukan hanya hitungan satu atau dua hari, melainkan bisa berminggu-minggu, bahkan ada rekan yang harus berbulan-bulan.

Kami terpaksa merelakan rutinitas akhir pekan bersama keluarga, kehilangan momen nonton bareng bersama pasangan, atau melewatkan waktu bermain dengan anak di rumah. 

Kadang, saat kami sedang ingin berkomunikasi dengan orang rumah, sinyal provider di lokasi penelitian justru tidak bersahabat atau tidak ada sama sekali, membuat sekedar video call atau berkirim pesan teks pun susahnya pakai banget. 

Tidak sedikit yang jeda antara satu daerah ke daerah lain hanya hitungan hari. Baru sampai rumah, harus siap-siap pergi kembali. Begitu kami pulang ke rumah, ada perasaan asing, seolah-olah kehidupan di rumah sudah berjalan jauh ke depan sementara kami tertinggal karena terlalu lama hidup berpindah-pindah.

#5 Tidak ada saat hal penting terjadi

Ini adalah penderitaan puncak yang sering kali menyisakan rasa bersalah yang mendalam. Karena jadwal lapangan sering kali sudah dikunci jauh-jauh hari dan terikat kontrak dengan donor atau instansi, kami tidak punya fleksibilitas untuk tiba-tiba pulang. Percayalah, ini beneran terjadi.

Ada cerita rekan yang harus bersusah payah untuk pulang, saat mendapatkan kabar mertuanya meninggal dunia. Setelah mendapatkan izin pulang lebih awal, tidak langsung memudahkan untuk segera tiba di rumah, tapi harus menghadapi kenyataan perjalanan yang jauh, kehabisan tiket pesawat untuk menuju bandara besar, hingga harus terpaksa menunggu keberangkatan pesawat yang terlambat. 

Akhirnya, dia baru bisa disamping istri setelah dua hari perjalanan. Sebagai peneliti lapangan, harus siap absen di momen-momen krusial orang terdekat.

Jadi, setelah mengetahui 5 hal itu, apakah menjadi peneliti lapangan seburuk itu? Tentu tidak. Terlepas dari 5 penderitaan di atas, pekerjaan ini memberikan kami kekayaan batin luar biasa. Kami bisa mendengar cerita hidup langsung dari mulut masyarakat, melihat realitas Indonesia dari sudut pandang yang paling jujur, dan ikut andil menyatakan masalah di akar rumput.

Akan tetapi, glorifikasi “jalan-jalan dibayar” itu harus dihentikan segera. Setiap pekerjaan apapun itu, menuntut mental baja, fisik yang Tangguh, dan kesabaran ekstra.

Penulis: Muhammad Ilham
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pengalaman Jadi Surveyor: Dikira Minta Sumbangan Sampai Jualin Produk.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2026 oleh

Tags: bekerjakerjaanlapanganpekerjaapenelitipeneliti lapangan
Muhammad Ilham

Muhammad Ilham

Mahasiswa peternakan yang bercita-cita jadi menteri.

ArtikelTerkait

Polemik Istri Kerja vs Suami Nganggur dan Hobi Mancing_ Sebuah Sudut Pandang terminal mojok

Polemik Istri Kerja vs Suami Nganggur dan Hobi Mancing: Sebuah Sudut Pandang

30 Oktober 2021
5 Tipe Atasan Menyebalkan di Tempat Kerja dan Cara Menghadapinya Terminal Mojok

5 Tipe Atasan Menyebalkan di Tempat Kerja, Mulai dari si Superindo sampai si Sugih

25 November 2022
Suka Duka Bekerja di Restoran

Suka Duka Bekerja di Restoran

11 April 2023
Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

5 Januari 2026
Kerja Berharap Reward? Jangan Jadi PNS! Shutterstock

Kerja Berharap Reward? Jangan Jadi PNS!

24 April 2022
Kenapa Lanjut S-2 Selalu Dikaitkan tentang Kerja? Salahkah, kalau Memang untuk Menuntut Ilmu? terminal mojok.co

Kenapa Lanjut S-2 Selalu Dikaitkan tentang Kerja? Salahkah, kalau Memang untuk Menuntut Ilmu?

17 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

Keliling naik motor malam hari, hiburan murah bagi kita yang dihajar hidup dari kanan-kiri

8 Agustus 2026
GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

9 Agustus 2026
Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

Pekerja tambang bergaji besar, tetapi tidak sepenuhnya memiliki hidupnya

11 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.